Konten dari Pengguna

Dari Amerika hingga Indonesia, Berjejer Hoax-Hoax

wck

wck

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari wck tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hoax (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Hoax (Foto: Pixabay)

Gosip adalah keseharian. Dalam taraf tertentu gosip dan rumor memberikan kesenangan tersendiri. Gosip umumnya muncul dari berita yang belum terverifikasi. Dibicarakan berulang, disebarkan, dan terus menggulung hingga masuk ke wilayah-wilayah privat (WA, Line, SMS, dll).

Hal ini dipicu karena adanya kemudahan akses informasi dan kekuatan media sosial, sayangnya kemudahan akses tersebut tak diimbangi dengan kecakapan memverifikasi informasi. Seolah-olah ketika seseorang membagikan berita dalam media sosial, ia bisa terbebas dari apa yang ia telah bagikan.

Media sosial seperti Facebook dan Twitter menjadi wadah paling cepat bagi penyebaran informasi. Termasuk penyebaran berita palsu, propaganda, dan informasi yang menyesatkan. Mereka mewadahi kita bercakap dan berinteraksi. Tak ayal mereka menentukan cara kita berinteraksi.

Telah banyak kasus di dunia, bagaimana berita palsu menyebar dengan cepat.

Yang terakhir tudingan bahwa Hillary membayar Beyonce dan Jay Z senilai $ 62 Juta untuk mendukungnya pada kampanye presiden Amerika di Cleveland (November, 2016). Belum lagi kasus-kasus lainnya seperti berita kematian Nelson Mandela (Januari, 2011), Mick Jagger (Februari, 2011), dan artis laga Jackie Chan (Maret, 2011).

Penyebaran berita palsu yang begitu masif mengindikasikan terjadinya epidemiologi informasi, yaitu penyebaran informasi dari individu ke individu dan dari media ke media sepanjang waktu. Isu-isu yang dimainkan pun tak jauh dari SARA.

Komunikasi antar pengguna di media sosial membentuk sebuah struktur komunikasi sendiri yang pada ujungnya dapat memberikan pengaruh terhadap penggunanya.

Pada masa kampanye presiden Amerika lalu, misalnya, jurnalis senior Buzzfeed News, Craig Silverman menemukan bahwa penyebaran berita palsu melalui Facebook justru mendominasi pada tiga bulan terakhir sebelum pemilihan presiden. Padahal pada rentang 6-9 bulan sebelumnya, penyebaran berita di media mainstream masih mendominasi percakapan di Facebook.

Craig dan timnya melakukan riset terhadap 19 media mainstream di Amerika dan 50 situs yang memproduksi berita palsu. Fakta ini mencengangkan karena tiga bulan sebelum pemilihan adalah masa-masa kritis.

Resonansi informasi pada masa kampanye presiden Amerika didominasi oleh dua topik utama, yaitu Pro-Trump dan Anti-Hillary. Sedangkan berita Anti-Trump tenggelam di antara dua topik tersebut.

Veles, sebuah kota kecil di Macedonia dengan populasi kurang lebih 45 ribu penduduk secara aktif memproduksi berita-berita palsu untuk mendukung pencalonan Trump. Berita-berita palsu tersebut diproduksi dan dikontrol oleh sekumpulan anak muda.

The Guardian dalam investigasinya menemukan bahwa lebih dari 150 domain terdaftar dan berdomisili di Veles, dan mayoritas aktif mengampanyekan Pro-Trump. Alasan utama mereka selain aspek ekonomi adalah mereka ingin mempengaruhi arah kebijakan politik Amerika.

A

Mereka memodifikasi judul pada media mainstream agar menjadi clickbaity headline dengan rata-rata 400 kata setiap artikelnya. Gerak mereka sedikit terhambat karena adanya kebijakan pembatasan penyebaran berita di Facebook.

Jika Facebook menemukan sebuah halaman membagikan berita secara terus menerus dalam rentang waktu berdekatan, maka Facebook akan menghapus berita tersebut karena dianggap sebagai spam.

Hal ini berbeda dengan media mainstream yang memiliki fitur blue check mark sebagai tanda bahwa alamat tersebut terverifikasi. Mereka dapat bebas membagikan berita secara terus menerus tanpa dianggap sebagai spam.

Kekuatan utama dari situs berita palsu selain menampilkan judul-judul yang provokatif adalah mereka memproduksi banyak konten kreatif seperti meme dan video, hal yang tentunya terbatas dilakukan oleh media mainstream. Padahal, secara konten tak ada bedanya dengan muatan pada konten artikel. Palsu dan provokatif.

Ada dua hal yang bisa diamati dari hal ini: Pertama, sikap pengguna media sosial dan kedua adalah sifat media sosial itu sendiri.

Trafik akan meningkat apabila sebuah isu memiliki kedekatan dengan penggunanya. Rumus sederhananya, orang dengan ideologi tertutup cenderung hanya mau mendengar informasi yang sejalan dengan pemikirannya (tell them what they want to hear, they’re probably going to react strongly to that).

Jika orang A membenci orang B, maka informasi mengenai orang B akan selalu direspon negatif oleh orang A. Begitulah cara berpikir dan bertindak orang-orang tertutup ketika menerima informasi. Bukankah hal tersebut yang juga terjadi di Jakarta akhir-akhir ini?

Media sosial seperti Facebook memiliki kemampuan untuk merekomendasikan sebuah konten kepada penggunanya berdasarkan analisis news feed algorithm.

Menurut Zuckerberg kepada Business Insider, setiap pengguna Facebook menerima 1500 rekomendasi konten setiap harinya, hanya saja rata-rata pengguna hanya dapat melihat 100 konten.

Rekomendasi atas sebuah konten berasal dari analisa algoritma yang rumit. Algoritma dapat memprioritaskan konten yang berasal dari teman atau halaman tertentu, waktu yang kita habiskan di sebuah konten, serta reaksi kita terhadap sebuah konten (Like, Share, Hide, Click, Comment, Hide, bahkan Spam).

Dalam takaran yang lebih rumit, algoritma akan mengelompokkan konten berdasarkan relevansi skor sebelum akhirnya muncul di news feed pengguna Facebook, sehingga apabila pengguna aktif menyebarkan, memberikan komentar, dan bereaksi terhadap berita palsu, maka news feed pengguna tersebut hanya akan diisi oleh berita-berita palsu.

Mengatasi penyebaran berita palsu, Facebook melalui Zuckerberg akan mengambil langkah-langkah serius untuk mengatasinya, walaupun ia sendiri mengakui akan membutuhkan waktu lama untuk mewujudkannya. Sementara Google akan membatasi layanan iklan pada laman-laman yang melakukan penyebaran berita palsu.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga turut aktif melakukan pemblokiran kepada situs-situs yang menyebarkan berita palsu, propaganda, dan yang berhubungan dengan kejahatan terorisme.

Pendekatan seperti ini tentu tidak akan menyelesaikan akar masalah, karena berita palsu akan terus bereproduksi dalam beragam format, bahkan lebih jauh jangan sampai pemerintah malah kebablasan dalam melakukan pemblokiran tersebut.

Diperlukan adanya pendekatan kultural untuk mengatasinya. Gerakan literasi media seperti mengajak untuk berpikir kritis dan selalu ragu terhadap informasi yang beredar menjadi langkah awal untuk membuat berita palsu tidak relevan lagi di masyarakat.

Media mainstream pun perlu melakukan ini, karena sebenarnya berita palsu juga menjadi ancaman bagi eksistensi mereka.

Sebab ketika mayoritas masyarakat mengkonsumsi berita palsu, maka media mainstream juga akan menerima imbasnya, menjadi tidak relevan, dan mati dengan sendirinya.

Satu hal yang sudah terverifikasi, cintaku padamu.