Peran Content Writer Harian Disway dalam Menjaga Ritme Jurnalisme Digital

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pandu Jaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surabaya – Di tengah banjir informasi di media sosial, kerja redaksi media daring tetap dituntut cepat, akurat, dan enak dibaca. Harian Disway menjalankan tuntutan itu lewat produksi artikel harian di portal harian.disway.id.
Harian Disway didirikan Dahlan Iskan dan berkantor di Jalan Walikota Mustajab No. 76, Surabaya, tepat di depan Balai Kota. Media ini menyajikan berita melalui e-paper dan kanal daring. Yang membedakan kerja redaksinya adalah ritme produksi yang ketat: isu dipilah, data diriset, naskah ditulis, lalu disunting sebelum terbit.
Salah satu posisi penting dalam alur itu adalah content writer. Bukan penulis caption, content writer bertugas memantau isu, menyusun naskah, dan menyesuaikan tulisan dengan standar Harian Disway.
Ritme Kerja Content Writer
Tugas harian content writer dimulai dari pemantauan isu. Setelah topik dipilih, data dihimpun dari keterangan pers, pernyataan resmi, maupun sumber lapangan. Naskah kemudian ditulis dengan gaya runtut, akurat, dan mudah dibaca.
Naskah masuk ke sistem redaksi atau CMS. Redaktur memeriksa ejaan, fakta, sudut tulisan, dan kesesuaian dengan standar media. Jika masih longgar, tulisan dikembalikan. Baru setelah lolos suntingan, artikel terbit secara daring.
Mahasiswa magang biasanya ditempatkan di pos tertentu, seperti nasional, polhukam, atau kanal lain sesuai kebutuhan redaksi. Ada yang menulis dari meja. Ada pula yang ikut peliputan dan event. Intinya sama: kecepatan harus berjalan bersama ketepatan.
Peran Strategis Generasi Muda
Di balik ritme produksi artikel itu, terdapat kontribusi generasi muda yang tidak bisa diabaikan. Salah satunya adalah Pandu Jaya Winanga, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Pandu menjalani Magang MBKM di Harian Disway sebagai content writer pada 31 Agustus hingga 18 Desember 2026. Selama program berlangsung, ia meriset isu, menulis naskah, memperbaiki tulisan sesuai catatan editor, dan membantu menjaga kontinuitas terbit portal.
Menurutnya, magang memberi kesempatan melihat industri media dari dekat, bukan hanya dari materi kuliah. “Saya bisa melihat prosesnya dari dekat. Mulai dari meriset isu, menulis naskah, menerima catatan editor, sampai artikel terbit,” ujar Pandu.
Kehadiran mahasiswa magang membantu redaksi menambah tenaga tulis harian. Bagi kampus, kegiatan itu menjadi ruang praktik mata kuliah seperti Online Journalism, Creative Writing, dan Magang. Bagi mahasiswa, pengalaman itu menanamkan disiplin tenggat, kehati-hatian data, dan tanggung jawab menulis untuk publik.
Bimbingan di Ruang Redaksi
Peserta magang di Harian Disway didampingi editor Mohamad Nur Khotib. Khotib membimbing anak-anak magang di redaksi: memberi tugas tulisan, meninjau naskah, dan mengingatkan standar bahasa serta etika jurnalistik.
Perannya penting karena mahasiswa tidak dibiarkan menulis sendiri tanpa arah. Catatan yang diberikan bukan hanya soal ejaan, tetapi juga sudut berita dan kelayakan informasi sebelum naik ke portal.
Lingkungan kerjanya juga menuntut pembiasaan. Content writer berhadapan dengan editor, reporter, dan rekan magang dari kampus berbeda. Kantor yang berada di pusat Surabaya membuat ritme kerja terasa dekat dengan peristiwa kota.
Menulis yang Layak Dibaca Publik
Harian Disway menekankan bahwa judul dan lead harus menarik tanpa mengaburkan fakta. Content writer juga harus membedakan konten jurnalistik dengan pesan yang bersifat promosi.
Melalui strategi itu, media tidak hanya mengejar kecepatan unggah. Ada tanggung jawab kepada pembaca. Generasi muda yang masuk lewat magang menjadi bagian dari strategi tersebut: membantu produksi, sekaligus belajar menjaga mutu pemberitaan.
Bagi Pandu, kerja content writer di Harian Disway menegaskan satu hal. Tulisan yang tampil di portal hanyalah hasil akhir. Yang menentukan mutunya adalah riset, suntingan, dan tanggung jawab di belakang layar.
