Ingat Pangan Publik Eyang Meri Hoegeng, Keteladanan Sunyi Menguatkan Indonesia

Bersama Kebangkitan Swasembada Pangan Lebih dari keluarga dan saudara sedarah, kami membuka sharing dan keluh kesah
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Pangan Publik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia kembali kehilangan satu sosok yang diam-diam ikut menjaga nyala keteladanan di ruang publik. Pada Selasa, 3 Februari 2026, Meriyati Roeslani Hoegeng yang dikenal luas sebagai Eyang Meri, berpulang pada usia 100 tahun. Nama beliau melekat dalam ingatan masyarakat bukan karena sorotan panggung, melainkan karena konsistensi hidup sederhana yang selama ini menjadi “latar kuat” dari kisah besar keluarga Hoegeng. Kepergian Eyang Meri terasa seperti lembar penutup dari sebuah bab penting tentang integritas, bab yang sering kita rujuk ketika bangsa ini rindu teladan.
Banyak orang mengenal mendiang suaminya, Hoegeng Iman Santoso, sebagai figur langka dalam sejarah penegakan hukum: tegas, bersih, dan sulit ditawar ketika berhadapan dengan penyimpangan. Namun keteguhan semacam itu hampir selalu punya “rumah” yang menguatkan: keluarga yang tidak tergoda gaya hidup, tidak mencari jalan pintas, dan tidak menjadikan jabatan sebagai tiket kemewahan. Dalam konteks inilah, peran Eyang Meri menjadi penting. Ia bukan sekadar pendamping dalam arti administratif, tetapi penjaga nilai yang membuat kesederhanaan tidak berhenti sebagai narasi, melainkan menjadi kebiasaan sehari-hari.
Kepergian Eyang Meri juga mengingatkan kita pada satu hal yang sering luput: integritas tidak dibangun hanya lewat pidato, melainkan lewat pilihan-pilihan kecil yang konsisten cara keluarga memandang rezeki, cara menyikapi fasilitas, cara menjaga batas antara kewenangan dan kepentingan. Dari generasi ke generasi, masyarakat belajar bahwa keteladanan semacam ini justru bertahan karena tidak dibuat-buat. Ia tidak membutuhkan pencitraan, sebab ukurannya adalah ketenangan hati: tetap sederhana ketika bisa bergaya, tetap lurus ketika ada peluang membelok.
Atas duka ini, Pangan Publik Indonesia menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga besar almarhumah dan seluruh pihak yang merasa kehilangan. Bagi kami, teladan keluarga Hoegeng relevan lintas isu, termasuk dalam urusan pangan yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Tata kelola yang adil hanya mungkin berdiri di atas pondasi integritas: kebijakan yang jernih, distribusi yang tidak “bocor”, program yang tepat sasaran, serta keberpihakan yang tidak dimainkan oleh kepentingan sesaat. Ketika nilai-nilai dasar ini lemah, rakyat yang paling dulu merasakan akibatnya dari akses, harga, hingga kualitas hidup.
Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Kita yang masih melanjutkan perjalanan punya satu pekerjaan rumah yang sederhana tetapi berat: menjaga agar keteladanan tidak berhenti sebagai nostalgia. Kita bisa memulainya dari hal yang paling dekat, menguatkan budaya jujur, menolak kompromi yang merugikan publik, dan merawat keberanian untuk tetap lurus dalam pekerjaan apa pun, termasuk di institusi dan komunitas yang kita cintai. Karena pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan aturan yang sering kita butuhkan adalah lebih banyak orang baik yang konsisten.
