Pemerintahan Prabowo-Gibran: MBG, Pangan, dan Indonesia Maju
Tulisan dari Pangiutan Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi fase penting dalam upaya memperkuat fondasi Indonesia menuju negara yang lebih mandiri, sejahtera, dan berdaya saing. Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, pemerintahan Prabowo-Gibran menempatkan pembangunan manusia, ketahanan pangan, penguatan ekonomi rakyat, dan kemandirian energi sebagai agenda strategis. Berbagai program prioritas mulai menunjukkan skala pelaksanaan yang besar, sekaligus membuka peluang bagi perubahan sosial dan ekonomi dalam jangka panjang. Tantangan tentu masih ada, tetapi arah kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan dasar masyarakat menjadi salah satu modal penting untuk mendorong kemajuan nasional.
Salah satu capaian yang paling mendapat perhatian adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut laporan ANTARA pada 18 Oktober 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 57 juta penerima manfaat per 30 September 2026 melalui 27.486 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang tersebar di 38 provinsi. Capaian tersebut memperlihatkan besarnya upaya pemerintah memperluas akses pemenuhan gizi bagi anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Lebih dari sekadar menyediakan makanan, MBG memiliki potensi menjadi investasi pembangunan manusia karena gizi yang memadai merupakan salah satu fondasi pertumbuhan, kesehatan, dan kemampuan belajar. Apabila pengawasan mutu, keamanan pangan, dan ketepatan sasaran terus diperkuat, program ini dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi generasi mendatang.
Di sektor ketahanan pangan, pemerintah juga melaporkan perkembangan yang patut diperhatikan. Kementerian Komunikasi dan Digital pada 12 Oktober 2026 menyampaikan bahwa berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026, delapan komoditas telah mencapai kondisi swasembada, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Produksi kedelapan komoditas tersebut diproyeksikan mencapai 72,91 juta ton, melampaui kebutuhan nasional sebesar 68,22 juta ton. Sementara itu, cadangan beras pemerintah dilaporkan berada pada tingkat yang tinggi. Perkembangan ini penting karena ketahanan pangan tidak hanya menyangkut ketersediaan bahan makanan, tetapi juga kemampuan negara menghadapi gangguan rantai pasok global, perubahan iklim, dan gejolak harga internasional. Ke depan, keberhasilan tersebut perlu diterjemahkan menjadi harga yang terjangkau dan kesejahteraan yang lebih baik bagi petani.
Pembangunan sumber daya manusia menjadi agenda lain yang memperlihatkan arah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran. Dalam bidang pendidikan, pemerintah melaporkan pembangunan 265 Sekolah Rakyat, renovasi 30 ribu sekolah, dan distribusi ratusan ribu layar interaktif untuk mendukung kegiatan belajar. Di bidang kesehatan, program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau lebih dari 108 juta peserta menurut paparan capaian pemerintah pada Oktober 2026. Berbagai program ini menunjukkan upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan dasar. Pendidikan yang lebih berkualitas dan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau dapat menjadi fondasi bagi peningkatan produktivitas nasional. Manfaatnya akan semakin besar apabila pembangunan fasilitas disertai peningkatan kualitas guru, tenaga kesehatan, pemerataan layanan, serta penguatan akses bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.
Dari perspektif ekonomi kerakyatan, pembangunan nasional juga perlu dilihat dari peluang yang tercipta bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan. Program pemerintah berskala besar dapat membuka ruang bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, UMKM, dan penyedia jasa lokal untuk masuk ke dalam rantai pasok nasional. MBG, misalnya, berpotensi mendorong permintaan terhadap produk pangan lokal apabila pengadaan dilakukan secara transparan dan memberi ruang bagi produsen daerah. Begitu pula pembangunan infrastruktur desa dapat memperlancar distribusi barang, memperluas akses pendidikan, dan membuka hubungan ekonomi antarkawasan. Karena itu, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur melalui jumlah program yang berjalan, tetapi juga melalui seberapa besar masyarakat memperoleh kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, dan akses ekonomi yang lebih adil.
Pada saat yang sama, agenda kemandirian energi dan hilirisasi memiliki arti strategis bagi posisi Indonesia di tengah persaingan global. Pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya domestik, penguatan industri pengolahan, dan pembangunan proyek hilirisasi diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi di dalam negeri. Jika dijalankan secara efektif, agenda tersebut dapat memperkuat ketahanan energi, membuka lapangan kerja, serta mengurangi kerentanan terhadap gejolak harga komoditas dunia. Dalam perspektif keamanan nasional, kemampuan menjaga pasokan pangan, energi, dan kebutuhan strategis merupakan bagian dari ketahanan negara. Diplomasi ekonomi juga perlu diarahkan untuk memperluas pasar ekspor, menarik investasi berkualitas, dan membangun kerja sama internasional tanpa mengorbankan kepentingan nasional.
Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada akhirnya merupakan momentum untuk memperkuat fondasi pembangunan sekaligus membuktikan bahwa program prioritas benar-benar memberikan hasil. MBG, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan, dan kemandirian energi menunjukkan luasnya agenda yang sedang dijalankan pemerintah. Namun, capaian yang paling berarti bukan semata-mata besarnya angka atau banyaknya program, melainkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat: anak-anak memperoleh gizi yang lebih baik, petani mendapatkan harga yang layak, sekolah menghasilkan pembelajaran berkualitas, pelayanan kesehatan semakin mudah diakses, dan lapangan kerja semakin terbuka. Dengan tata kelola yang baik, pengawasan yang tegas, serta evaluasi berbasis hasil, dua tahun pertama ini dapat menjadi pijakan untuk mempercepat pembangunan yang inklusif. Pada akhirnya, keberhasilan pemerintahan Prabowo-Gibran akan ditentukan oleh kemampuannya mengubah program menjadi kesejahteraan, pertumbuhan menjadi kesempatan, dan kemandirian menjadi kekuatan Indonesia di panggung dunia.

