Prabowo Dorong Tanggap Bencana Beralih dari Responsif ke Antisipatif
Tulisan dari Pangiutan Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia bukan hanya negara kepulauan, tetapi juga negara yang berada di kawasan Ring of Fire. Konsekuensinya, ancaman bencana tidak dapat dipandang sebagai kejadian luar biasa yang muncul sesekali, melainkan sebagai risiko yang harus masuk ke dalam perencanaan keamanan nasional. Dalam Presiden Prabowo Menjawab, isu erupsi Gunung Anak Krakatau, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, serta gempa bumi di Nusa Tenggara Timur menjadi gambaran bagaimana pemerintah menghadapi spektrum ancaman tersebut. Presiden sendiri menegaskan bahwa posisi Indonesia di kawasan cincin api mengharuskan negara siap menghadapi bencana setiap saat.
Dari perspektif keamanan nasional, perubahan pendekatan yang ditekankan Prabowo cukup penting: mitigasi tidak boleh menunggu bencana terjadi. Pemerintah menyatakan sedang memperkuat kapasitas berupa helikopter, pompa air, kendaraan pemadam, ekskavator, pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, serta drone. Dalam perkembangan terbaru, Presiden juga menyatakan telah memesan sejumlah pesawat besar untuk mendukung operasi water bombing dan menginginkan peningkatan jumlah helikopter untuk menghadapi karhutla maupun keadaan darurat lainnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana mulai ditempatkan sebagai persoalan kesiapan nasional, bukan semata-mata urusan tanggap darurat. Ketika bencana terjadi, kecepatan mobilisasi menjadi sangat menentukan: dari deteksi dini, evakuasi, komunikasi, logistik, transportasi udara, hingga pemulihan infrastruktur. Karena itu, gagasan membangun master plan mitigasi secara menyeluruh menjadi relevan. Pemerintah juga menyebut perlunya pemanfaatan teknologi drone dan penguatan kapasitas operasi udara sebagai bagian dari sistem tersebut.
Khusus karhutla, dimensinya bahkan dapat berkembang dari persoalan lingkungan menjadi persoalan keamanan manusia, kesehatan, ekonomi, dan hubungan antarnegara apabila asap melintasi batas wilayah. Indonesia karena itu tetap membutuhkan kerja sama internasional dalam penanganan bencana dan kebakaran hutan. Namun, kerja sama tersebut tidak harus mengurangi kapasitas nasional. Justru prinsipnya dapat berupa national capacity with international cooperation: Indonesia membangun kemampuan sendiri, sembari terbuka terhadap dukungan teknologi, keahlian, maupun bantuan kemanusiaan dari negara sahabat ketika diperlukan.
Pada saat yang sama, aspek penegakan hukum tidak boleh dipisahkan dari mitigasi. Pemerintah menyatakan sedang memproses berbagai laporan terkait karhutla dan telah mengamankan tersangka dalam sejumlah kasus. Presiden juga meminta penyelidikan terhadap dugaan pembakaran yang disengaja, termasuk apabila terdapat indikasi pembukaan lahan setelah kebakaran. Penting untuk menempatkan isu sabotase secara hati-hati: dugaan kesengajaan harus dibuktikan melalui penyelidikan dan proses hukum, bukan langsung diperlakukan sebagai fakta.
Hal tersebut menjadi penting karena kebakaran yang disengaja, apabila terbukti, bukan hanya menyebabkan kerusakan ekologis. Ia dapat mengganggu aktivitas ekonomi, penerbangan, kesehatan masyarakat, dan bahkan hubungan dengan negara tetangga apabila asap lintas batas terjadi. Karena itu, sistem mitigasi idealnya mengintegrasikan early warning, intelijen lingkungan, patroli udara, pemantauan satelit dan drone, penegakan hukum, serta koordinasi pemerintah pusat-daerah dalam satu arsitektur yang terpadu.
Pada akhirnya, pesan Prabowo mengenai bencana dapat dibaca sebagai dorongan agar Indonesia tidak terus berada dalam pola “datang setelah bencana terjadi”, tetapi membangun kapasitas sebelum krisis muncul. Erupsi gunung api, gempa, tsunami, banjir, dan karhutla memang tidak seluruhnya dapat dicegah. Namun dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapan, teknologi, data, personel, infrastruktur, dan koordinasi. Bagi keamanan nasional, negara yang tangguh bukan negara yang bebas dari bencana, melainkan negara yang mampu mengantisipasi, merespons, dan pulih ketika bencana datang.

