Produktivitas Gen Z: Ketika Sibuk Tidak Lagi Berarti Produktif
Tulisan dari Pangiutan Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama bertahun-tahun, produktivitas sering diukur dari satu hal sederhana: seberapa sibuk seseorang terlihat. Datang pagi, pulang malam, membalas pesan pekerjaan di luar jam kantor, menghadiri rapat tanpa henti, dan terlihat selalu memiliki pekerjaan menjadi semacam simbol profesionalisme. Namun, bagi Generasi Z, cara pandang tersebut mulai berubah.
Gen Z tumbuh di tengah dunia yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka hidup dengan internet, media sosial, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti. Karena itu, mereka mulai mempertanyakan satu asumsi lama: apakah seseorang yang bekerja selama sepuluh jam otomatis lebih produktif daripada seseorang yang mampu menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam enam jam?
Pertanyaan tersebut penting karena dunia kerja modern menghadapi paradoks produktivitas. Teknologi seharusnya membuat manusia bekerja lebih efisien, tetapi pada saat yang sama teknologi juga menciptakan lebih banyak pekerjaan, notifikasi, rapat virtual, pesan instan, dan distraksi. Akibatnya, seseorang dapat terlihat sangat sibuk sepanjang hari tanpa menghasilkan sesuatu yang benar-benar signifikan.
Sibuk Bukan Lagi Ukuran Produktivitas
Ada perbedaan mendasar antara busy dan productive. Sibuk berarti banyak melakukan aktivitas. Produktif berarti menghasilkan sesuatu yang bernilai.
Seorang pekerja dapat menghadiri tujuh rapat dalam sehari, membalas puluhan pesan WhatsApp, memeriksa ratusan email, dan tetap merasa telah bekerja keras. Namun jika pada akhir hari tidak ada keputusan penting yang dihasilkan, masalah tidak terselesaikan, atau pekerjaan utama tidak mengalami kemajuan, maka kesibukan tersebut belum tentu produktivitas.
Gen Z tampaknya lebih sensitif terhadap persoalan ini. Mereka cenderung mempertanyakan aktivitas yang dianggap tidak memiliki tujuan jelas. Rapat yang terlalu panjang, birokrasi yang berlapis, pekerjaan administratif yang berulang, hingga budaya lembur hanya demi menunjukkan loyalitas mulai dianggap sebagai sesuatu yang tidak selalu identik dengan produktivitas.
Di sinilah terjadi benturan dengan generasi sebelumnya.
Bagi sebagian generasi senior, bekerja keras sering kali identik dengan menunjukkan pengorbanan. Bagi sebagian Gen Z, bekerja keras lebih dekat dengan menghasilkan dampak.
Perbedaan ini bukan sekadar persoalan usia. Ini adalah perubahan paradigma.
Gen Z dan Penolakan terhadap Hustle Culture
Generasi Z juga tumbuh ketika hustle culture mulai dipertanyakan. Selama bertahun-tahun, anak muda didorong untuk selalu bekerja lebih keras, mengambil pekerjaan tambahan, membangun bisnis sampingan, meningkatkan kompetensi, dan mengejar kesuksesan tanpa mengenal batas.
Masalahnya, budaya tersebut sering menciptakan ilusi bahwa manusia harus selalu produktif.
Bangun tidur harus produktif. Waktu luang harus digunakan untuk belajar. Akhir pekan harus digunakan untuk mengembangkan diri. Bahkan istirahat pun kadang dianggap sebagai kesempatan yang terbuang.
Gen Z kemudian membawa pertanyaan yang berbeda: apakah hidup harus selalu diukur berdasarkan output?
Pertanyaan tersebut sebenarnya bukan bentuk kemalasan. Dalam konteks tertentu, justru merupakan kritik terhadap sistem kerja yang mengukur manusia berdasarkan berapa lama mereka bekerja, bukan seberapa besar nilai yang mereka hasilkan.
Namun, di sinilah Gen Z juga harus berhati-hati.
Menolak hustle culture tidak boleh berubah menjadi menolak kerja keras. Menolak lembur yang tidak produktif tidak berarti menolak tanggung jawab. Dan menginginkan work-life balance tidak boleh menjadi alasan untuk menghindari proses panjang yang memang diperlukan untuk membangun kompetensi.
Produktivitas tetap membutuhkan disiplin.
Masalah Baru: Terlalu Banyak Distraksi
Paradoksnya, generasi yang paling memahami teknologi juga menghadapi salah satu ancaman produktivitas terbesar dari teknologi itu sendiri.
Notifikasi media sosial, video pendek, pesan instan, gim, konten hiburan, dan arus informasi membuat kemampuan manusia untuk mempertahankan perhatian semakin diuji.
Gen Z dapat berpindah dari pekerjaan ke Instagram, TikTok, YouTube, WhatsApp, kemudian kembali ke pekerjaan hanya dalam beberapa menit. Secara fisik mereka berada di depan laptop, tetapi secara mental perhatian mereka terfragmentasi.
Inilah salah satu tantangan terbesar produktivitas Gen Z.
Masalahnya bukan tidak bekerja.
Masalahnya adalah sulit mempertahankan fokus cukup lama untuk menghasilkan pekerjaan berkualitas tinggi.
Di era ketika informasi tersedia dalam jumlah tak terbatas, kemampuan paling mahal bukan lagi sekadar mengetahui informasi. Kemampuan yang semakin penting adalah memilih apa yang harus diperhatikan dan apa yang harus diabaikan.
Dengan kata lain, attention management menjadi bagian dari produktivitas.
AI Mengubah Definisi Produktif
Kehadiran kecerdasan buatan semakin mempercepat perubahan tersebut.
Generasi Z memasuki dunia kerja ketika AI bukan lagi sekadar teknologi eksperimental. AI mulai digunakan untuk menulis, melakukan riset awal, menganalisis data, membuat presentasi, menyusun laporan, menerjemahkan dokumen, hingga membantu proses pengambilan keputusan.
Situasi ini akan mengubah cara produktivitas diukur.
Jika sebelumnya seseorang dinilai berdasarkan berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan secara manual, ke depan yang semakin penting adalah kemampuan menggunakan teknologi untuk menghasilkan output yang lebih baik.
Seseorang yang mampu menyelesaikan pekerjaan dalam dua jam dengan bantuan teknologi belum tentu kurang rajin dibandingkan orang yang membutuhkan delapan jam tanpa teknologi.
Justru sebaliknya, kemampuan mengoptimalkan teknologi dapat menjadi indikator produktivitas baru.
Tetapi AI juga menghadirkan risiko. Jika Gen Z hanya menggunakan AI untuk menghindari proses berpikir, maka teknologi tidak meningkatkan produktivitas, ia hanya mempercepat produksi pekerjaan yang dangkal.
Karena itu, masa depan produktivitas bukan sekadar manusia versus AI.
Melainkan manusia yang mampu bekerja bersama AI versus manusia yang tidak mampu beradaptasi.
Produktivitas Membutuhkan Makna
Ada satu aspek lain yang membuat Gen Z berbeda: mereka cenderung lebih banyak mempertanyakan makna pekerjaan.
Bagi sebagian pekerja muda, gaji memang penting, tetapi bukan satu-satunya alasan untuk bertahan. Lingkungan kerja, fleksibilitas, kesempatan berkembang, hubungan dengan atasan, kesehatan kehidupan pribadi, dan persepsi bahwa pekerjaan mereka memiliki tujuan juga semakin diperhatikan.
Ini dapat menjadi kekuatan sekaligus kelemahan.
Jika organisasi mampu memberikan tujuan yang jelas, Gen Z dapat menjadi tenaga kerja yang adaptif, cepat belajar, dan sangat dekat dengan teknologi.
Sebaliknya, jika organisasi hanya memberikan instruksi tanpa menjelaskan tujuan, pekerjaan yang repetitif tanpa ruang berkembang dapat dengan cepat menurunkan keterlibatan mereka.
Artinya, organisasi masa depan tidak cukup hanya bertanya:
“Berapa jam karyawan bekerja?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apa yang berhasil mereka hasilkan?”
Perusahaan Juga Harus Berubah
Jika ingin meningkatkan produktivitas Gen Z, perusahaan tidak bisa hanya meminta mereka untuk bekerja lebih keras.
Perusahaan harus memperbaiki sistem kerja.
Rapat harus memiliki tujuan. Target harus terukur. Evaluasi harus berbasis hasil. Teknologi harus digunakan untuk mengurangi pekerjaan repetitif. Atasan harus mampu memberikan arahan yang jelas. Dan karyawan harus diberikan ruang untuk menunjukkan bagaimana mereka dapat mencapai target dengan cara yang lebih efisien.
Dengan demikian, produktivitas menjadi tanggung jawab dua arah.
Gen Z harus belajar disiplin, membangun ketahanan, mengelola waktu, mengurangi distraksi, dan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas.
Sementara organisasi harus belajar bahwa produktivitas tidak selalu lahir dari kontrol yang semakin ketat.
Terkadang produktivitas justru muncul ketika seseorang diberikan kepercayaan.
Tantangan Sesungguhnya Gen Z
Pada akhirnya, tantangan Gen Z bukan sekadar membuktikan bahwa mereka bisa bekerja.
Tantangan yang jauh lebih besar adalah membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan nilai.
Dunia kerja tidak akan selamanya memberikan penghargaan kepada orang yang sekadar terlihat sibuk. Di era AI, otomatisasi, dan ekonomi berbasis pengetahuan, nilai seseorang semakin ditentukan oleh kemampuan memecahkan masalah, mengambil keputusan, berpikir kritis, beradaptasi, berkolaborasi, dan menghasilkan sesuatu yang tidak mudah digantikan oleh mesin.
Karena itu, Gen Z tidak perlu menjadi generasi yang paling lama bekerja.
Mereka harus menjadi generasi yang mampu bekerja dengan lebih cerdas, lebih terarah, dan lebih bernilai.
Produktivitas bukan tentang siapa yang paling lama duduk di depan komputer.
Produktivitas adalah tentang siapa yang mampu mengubah waktu, pengetahuan, teknologi, dan energi menjadi hasil yang memiliki dampak.
Pada akhirnya, dunia kerja mungkin memang sedang meninggalkan satu ukuran produktivitas lama: berapa lama kita terlihat bekerja.
Dan menggantinya dengan pertanyaan yang jauh lebih sulit:
Apa yang benar-benar kita hasilkan?

