Konten dari Pengguna

Strategi Prabowo dan Indonesia Menjaga Semua Pintu di Tengah Rivalitas Global

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pangiutan Lubis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Ilustrasi Politik Luar Negeri Indonesia yang Bebas Aktif (Dok: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Ilustrasi Politik Luar Negeri Indonesia yang Bebas Aktif (Dok: Istimewa)

Dalam wawancara Presiden Prabowo Menjawab, Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan satu prinsip fundamental politik luar negeri Indonesia: bebas aktif dan tidak berpihak pada blok kekuatan tertentu. Penegasan ini menjadi penting ketika dunia sedang berada dalam kompetisi geopolitik yang semakin tajam antara kekuatan-kekuatan besar, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan berbagai kekuatan regional.

Kunjungan Presiden ke Rusia karena itu tidak tepat dibaca semata-mata sebagai indikasi pergeseran orientasi strategis Indonesia. Prabowo menjelaskan bahwa kunjungan ke Rusia merupakan bagian dari pola diplomasi Indonesia yang juga mencakup Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Tiongkok, Jepang, Turki, serta negara-negara Timur Tengah. Bagi Indonesia, menjaga hubungan dengan Rusia bukan berarti masuk ke dalam orbit Rusia, sebagaimana hubungan dengan Amerika Serikat juga tidak otomatis menjadikan Indonesia bagian dari blok Barat.

Dari perspektif keamanan nasional, pendekatan tersebut justru menunjukkan pentingnya diversifikasi hubungan strategis. Dalam lingkungan internasional yang penuh ketidakpastian, ketergantungan berlebihan kepada satu kekuatan dapat menciptakan kerentanan. Indonesia membutuhkan ruang manuver untuk berkomunikasi dengan seluruh kekuatan utama, terutama ketika kepentingan nasional bersinggungan dengan isu perdagangan, energi, teknologi, pertahanan, pangan, hingga keamanan kawasan.

Rusia sendiri memiliki posisi strategis yang membuat hubungan dengan Moskow sulit diabaikan. Prabowo menekankan bahwa Rusia merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, memiliki wilayah dan sumber daya alam yang sangat besar, serta secara historis memiliki hubungan baik dengan Indonesia. Dalam konteks diplomasi, komunikasi dengan Rusia dapat menjadi bagian dari upaya Jakarta mempertahankan akses dan kanal dialog dengan salah satu pusat kekuatan global.

Yang menarik adalah pernyataan Prabowo mengenai potensi Indonesia menjadi salah satu kekuatan besar dunia sebelum pertengahan abad ini. Pesan tersebut menunjukkan bahwa politik luar negeri tidak hanya diarahkan untuk merespons dinamika global, tetapi juga untuk mempersiapkan posisi Indonesia sebagai negara dengan bobot geopolitik yang semakin besar. Ketika kapasitas ekonomi, demografi, sumber daya alam, posisi geografis, dan kekuatan pertahanan berkembang, kebutuhan Indonesia untuk memiliki strategic autonomy juga semakin besar.

Kunjungan Prabowo ke Rusia pada September 2026 memperlihatkan praktik pendekatan tersebut. Dalam Eastern Economic Forum di Vladivostok, Prabowo menegaskan Indonesia tidak memilih satu kubu untuk menghadapi kubu lainnya. Pada saat yang sama, Indonesia mendorong peningkatan hubungan ekonomi dengan Rusia, termasuk perdagangan dan implementasi kerja sama dengan Uni Ekonomi Eurasia.

Pada akhirnya, bebas aktif bukan berarti pasif, apalagi netral dalam menghadapi setiap persoalan. Bebas berarti Indonesia memiliki kebebasan menentukan kepentingannya sendiri, sementara aktif berarti Indonesia menggunakan diplomasi untuk membangun pengaruh, mencegah konflik, membuka kerja sama, dan memperjuangkan kepentingan nasional. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, kemampuan untuk berbicara dengan Washington, Beijing, Moskow, Tokyo, New Delhi, maupun negara-negara Eropa dan Timur Tengah secara bersamaan merupakan bagian dari modal strategis Indonesia.

Dengan demikian, pesan utama dari Presiden Prabowo Menjawab bukan sekadar soal mengapa Presiden berkunjung ke Rusia, melainkan bagaimana Indonesia berusaha mempertahankan ruang manuver di tengah persaingan kekuatan besar. Bagi negara sebesar Indonesia, politik luar negeri bukan tentang memilih siapa yang harus diikuti, tetapi tentang memastikan Indonesia tetap memiliki pilihan ketika dunia semakin dipaksa untuk memilih kubu.