kumparan
News7 April 2019 22:15

Belgia dan Detak Sejarah Pembentukan 'Buffer State'

Konten kiriman user
yannis-papanastasopoulos-420825-unsplash.jpg
Aktivitas Warga di salah satu sudut White Building di kota Brussel, Belgia (Photo by Yannis Papanastasopoulos on Unsplash)
Sahabat, senangnya dapat menyapa kalian dalam tulisan lagi. Kali ini, penulis ingin mengguratkan sebuah kisah dan tinjauan sejarah dari sebuah negara yang bernama Belgia.
ADVERTISEMENT
Hmm... omong-omong tentang Belgia, penulis jadi teringat dengan salah satu cerita komik Asterix di Belgia besutan Rene Goscinny (penulis) dan Albert Uderzo (kartunis). Bagi kamu yang pernah membaca komik ini, tentunya akan dibuat tertawa dengan bagaimana sang penulis mendeskripsikan kehidupan penuh keceriaan dan kegemaran makan dari penduduk Belgia yang ditemui tokoh Asterix, berpadu dengan semangat kesetiakawanan untuk melawan emporium Romawi.
Eits... itu di komik, bagaimana dengan cerita sejarah Belgia?
Sahabat, Kerajaan Belgia dengan Brussel sebagai ibu kotanya dan lokasinya yang sangat strategis di Eropa Barat telah dikenal sejak lama sebagai lokasi tuan rumah untuk beberapa markas besar organisasi internasional Uni Eropa, juga North Atlantic Treaty Organization (NATO) atau Pakta Pertahanan Atlantik Utara, dan organisasi Bea Cukai dunia atau World Custom Organization (WCO).
ADVERTISEMENT
Beberapa organisasi internasional yang penulis sebutkan itu memilih Brussel sebagai lokasi kantor utamanya. Akan tetapi, nilai penting dan strategis Brussel, serta Belgia pada umumnya, lebih tinggi daripada hanya menjadi tuan rumah kantor organisasi internasional semata. Letak lokasi Belgia-lah yang menjadi kunci mengapa negara ini sangat strategis.
Secara geografis, Belgia berada di tengah negara-negara kuat dan penting di Eropa Barat, yakni Prancis, Belanda, dan Jerman (waktu itu bernama Prussia). Kondisi ini telah menentukan dan menunjukkan bagaimana Belgia dibentuk sebagai sebuah buffer state (negara penengah).
Konsep Buffer State dalam Ilmu Hubungan Internasional
jay-lee-1122788-unsplash.jpg
Atommium di Brussels, salah satu landmark negara Belgia (Photo by Jay Lee on Unsplash)
Apa sih sebenarnya buffer state itu? Seorang sahabat penulis, Adrianus Ramon (32), yang berprofesi sebagai dosen pengajar di Fakultas Hukum Internasional, Universitas Parahyangan, Bandung, memberikan penjelasan:
ADVERTISEMENT

“Mas Bro, kalau menurut keilmuan yang gue tekuni, konsep buffer state bila dilihat dari hubungan internasional adalah konsep sebuah negara netral yang berada di antara dua negara atau lebih yang saling bertikai, ya sebagai penengahlah.”

Pembentukan buffer state lahir dari prinsip balance of power, keseimbangan kekuatan, di Eropa pada abad ke-18. Tujuannya, untuk mengurangi permusuhan di antara negara-negara besar yang bermusuhan.
Menurut Adrianus, selain Belgia, terdapat beberapa contoh buffer state yang ada atau pernah ada dalam sejarah, antara lain: Uruguay dan Paraguay yang merupakan buffer state bagi Brazil dan Argentina; Mongolia yang merupakan buffer state bagi Russia dan Tiongkok; Afghanistan jadi buffer state antara Kekaisaran Rusia dan Koloni Inggris di India; dan Siam (saat ini dikenal sebagai Thailand), yang merupakan buffer state antara Koloni Prancis di Indochina dengan Koloni Inggris di Malaya dan Burma (Myanmar).
ADVERTISEMENT
Alasan pembentukan Belgia sebagai sebuah buffer state haruslah dilihat dari kacamata hubungan internasional yang terjadi di Eropa di awal abad ke-19. Konflik besar Kekaisaran Prancis (yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte) melawan negara-negara Eropa lainnya baru saja berakhir.
Untuk mengatur secara damai tata kehidupan antarnegara Eropa setelah 'kekacauan' yang disebabkan oleh Revolusi Prancis serta upaya-upaya penaklukan Napoleon, kekuatan besar Eropa (Inggris, Austria, Prussia, dan Rusia) menyelenggaralan Kongres Wina 1815. Salah satu kesepakatan dalam pertemuan tersebut adalah penggabungan wilayah, yang sebelumnya merupakan bekas provinsi Austria di Eropa Barat, kepada Kerajaan Belanda di bawah Raja Willem I.
Wilayah yang dikenal sebagai wilayah Belanda Selatan tersebut memiliki kebudayaan dan kehidupan sosial berbeda dari mayoritas wilayah Belanda lainnya. 15 tahun setelah diserahkan kepada Belanda, wilayah Belanda Selatan tersebut memberontak dan berdasarkan Perjanjian London 1830 membentuk negara baru yang bernama Kerajaan Belgia.
ADVERTISEMENT
Detak Sejarah Pencetus Konsep Buffer State
alex-vasey-234751-unsplash.jpg
Pemandangan Arsitektur Bangunan di tepian Danau Minnewater, Belgia (Photo by Alex Vasey on Unsplash)
Sobat, untuk informasi ya, apabila ditinjau dari aspek demografis dan aspek sejarahnya, penduduk wilayah Belanda Selatan mayoritas menganut agama Katolik. Mereka jelas berbeda dengan mayoritas penduduk Belanda dan Raja Willem I yang beragama Protestan Kalvinis.
Selain itu, golongan terpelajar dan bangsawan di wilayah Belanda Selatan berbahasa Prancis. Meskipun di sisi lain, penduduk golongan rendah berkomunikasi menggunakan satu dialek Bahasa Belanda (Flemish).
Selain perbedaan-perbedaan tersebut, cara memerintah Raja Willem I yang cenderung represif terhadap wilayah Belanda Selatan semakin menambah besar rasa ketidakpuasan rakyat Belanda Selatan terhadap Kerajaan Belanda, yang mengakibatkan pemberontakan yang dikenal sebagai Revolusi Belgia 1830.
Alih-alih membuka saluran komunikasi ataupun perundingan, Kerajaan Belanda berupaya menekan aksi pemberontakan dengan mengirimkan pasukan bersenjata di bawah pimpinan Putra Mahkota Belanda. Aksi militer Belanda ini hanya bisa dihentikan oleh intervensi Prancis yang mengirimkan pasukan untuk membantu populasi Belanda Selatan yang berbahasa Prancis.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, dalam rangka menyelesaikan pemberontakan ini, negara-negara utama Eropa (Inggris, Prancis, Prussia, Austria, dan Rusia) berupaya untuk menyelenggarakan Konferensi London 1830. Salah satu hasil utama Konferensi London ini adalah wilayah Belanda Selatan merdeka sebagai Kerajaan Belgia, terpisah dari Belada dan seorang Bangsawan dari Jerman, Leopold I, dipilih sebagai raja.
Pembentukan Kerajaan Belgia sebagai negara merdeka sebenarnya berlawanan dengan usulan awal Prancis yang menginginkan agar wilayah Belanda Selatan (Belgia) digabungkan ke dalam wilayah Prancis. Namun, negara-negara besar Eropa merasa curiga dengan ambisi ekspansionisme Prancis. Walaupun telah dikalahkan sewaktu dipimpin oleh Napoleon, Prancis kembali muncul sebagai kekuatan dominan di Eropa.
Di sisi lain, Kerajaan Prussia (yang saat ini bernama Jerman), yang memiliki peran esensial dalam mengalahkan Prancis, juga muncul sebagai kekuatan baru di Eropa. Wilayah Belgia yang tepat berada di antara empat negara besar Eropa, Prancis, Belanda, dan Prussia dianggap tepat untuk menjadi buffer state untuk mencegah munculnya konflik di antara negara-negara Eropa.
libby-penner-1335988-unsplash.jpg
Pemandangan di sudut pemukiman di kota Brussel (Photo by Libby Penner on Unsplash)
Selain menyatakan kemerdekaan Belgia, hasil Konferensi London 1830, yang kemudian dituangkan di dalam Perjanjian London 1830, juga menyatakan bahwa kemerdekaan dan netralitas Belgia dijamin oleh negara-negara besar Eropa, termasuk Inggris. Jaminan tersebut sangat penting untuk menegaskan status dan menjamin efektivitas fungsi Belgia sebagai buffer state.
ADVERTISEMENT
Namun sayang sekali, jaminan tersebut yang juga diberikan oleh Inggris harus menyeret Inggris (dan wilayah-wilayah koloninya: Australia, Kanada, Selandia Baru, dan India) untuk terlibat dalam Perang Dunia I. Sewaktu Jerman menyerang Prancis melewati Belgia di awal Perang Dunia I tahun 1914, maka Inggris menjadikan hal tersebut sebagai cassu belli dan menyatakan perang terhadap Jerman serta sekutunya.
Oleh karena posisinya yang strategis, wilayah Belgia menjadi salah satu medan tempur utama Perang Dunia I di front Eropa Barat. Sewaktu Eropa dan dunia kembali bergejolak dalam Perang Dunia II, Belgia juga menjadi salah satu negara pertama yang diserang Jerman.
Penutup
Nah sobat, sebagai penutup dari tulisan ini, penulis hendak berpendapat bahwa posisi dan peran Belgia sebagai buffer state tidak lagi terlalu relevan. Sebab, negara-negara yang dulunya sering bertikai, seperti Belanda, Prancis, dan Jerman, saat ini semuanya menjadi sesama anggota Uni Eropa maupun NATO.
ADVERTISEMENT
Konflik terbuka di antara negara-negara tersebut hampir tidak mungkin lagi terjadi. Namun demikian, posisi dan lokasi strategis serta status lampau Belgia sebagai sebuah buffer state, tentulah harus tetap dikenang sebagai momentum masa lalu Eropa yang penuh gejolak, serta sebagai harapan masa depan Eropa dan dunia perdamaian.
Demikian sekelumit kisah tentang Belgia, semoga bermanfaat ya. Salam sehat selalu.
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan