Tantrum Pada Anak

Lahir di Purworejo. Karir saat ini di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan memiliki latar belakang pendidikan Teknik Informatika dan Ilmu Komunikasi di UNS. Founder Mentoring Teknologi Inovatif https://mentoring.ukm.id/
Tulisan dari Panjianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak menangis, berteriak sambil berguling-guling? Bahkan tak jarang sambil memukul-mukul dan merusak bahkan melukai diri mereka atau orang disekitar mereka. Nah, ini adalah Salah satu cara mereka mengekspresikan perasaan mereka. Apalagi, untuk anak-anak Balita. Ledakan emosi inilah yang disebut tantrum.
Definisi Tantrum
Dikutip Dari web kemenkes, ada beberapa definisi tantrum, yaitu:
Tantrum adalah masalah perilaku yang umum dialami oleh anak-anak prasekolah yang mengekspresikan kemarahan mereka dengan tidur di lantai, meronta-ronta, berteriak dan biasanya menahan napas.
Tantrum adalah bersifat alamiah, terutama pada anak yang belum bisa menggunakan kata dalam mengungkapkan rasa frustrasi mereka.
Merupakan suatu ledakan emosi kuat sekali, disertai rasa marah, serangan agresif, menangis, menjerit-jerit, menghentak-hentakkan kedua kaki dan tangan ke lantai atau tanah.
Perilaku tantrum secara umum diartikan sebagai perilaku agresif yang dilakukan oleh seorang anak untuk keluar dari kondisi ketidaknyamanannya (deprivasi).
Perilaku tantrum adalah perilaku yang normal pada anak yang berusia 15 bulan sampai 6 tahun.
Pemicu Tantrum
Beberapa pemicu tantrum pada anak diantaranya adalah situasi yang tidak nyaman, tidak terpenuhinya keinginan mereka, stres, dan over stimulasi yang menyebabkan bercampur aduknya perasaan mereka. Ketika balita mengalami kejadian tersebut, mereka akan berusah mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Namun, karena belum matangnya aspek perkembangan emosi, sosial, dan bahasanya maka mereka menjadi tantrum.
Penanganan Tantrum
Untuk menangani tantrum pada anak, ada beberapa cara yang bisa dicoba:
1. Berikan ruang yang aman untuk anak
Ketika tantrum anak cenderung melakukan sesuatu yang tidak terkontrol seperti berteriak, berguling-guling. Biarkan mereka melampiaskan rasa marah mereka itu. Pastikan lingkungan sekitar tidak membahayakan keselamatan anak, dan juga keselamatan orang lain. Pindahkan ke tempat yang cenderung jauh dari kerumunan orang.
2. Tetap konsisten dengan keputusan
Jika penyebab anak tantrum adalah karena tidak terpenuhi keinginannya, maka orang tua harus tetap konsisten pada keputusannya. Pni akan m embuat anak belajar bahwa tantrum bukanlah cara yang mereka lakukan agar keinginan mereka terpenuhi.
3. Berikan waktu untuk Anak
Biarkan anak mengeluarkan emosinya, hindari bernegosisasi disaat anak sedang tantrum. Tunggu sampai anak selesai menangis, berteriak, atau apapun itu yang mereka lakukan untuk mengekspresikan emosinya. Tetap awasi, agar mereka tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. orang tua lebih baik diam sambil mengawasi Dan menjaga agar tidak terbawa emosi.
4. Tenangkan anak
Ketika anak sudah terlihat surut emosinya, maka ajaklah bicara dengan suara pelan. beri pengertian Dan penjelasan bahwa rasa marah dan kecewa yang mereka alami itu adalah wajar. Beri jeda waktu di lain kesempatan untuk berdiskusi tentang baik tidaknya perilaku tantrum tersebut.dan bagaimana cara mereka mengekspresikan emosinya ke hal yang positif.
Itulah beberapa pembahasan tentang tantrum yang biasa dialami oleh anak-anak. Semoga bermanfaat ya.
