Kumparan Logo
Konten Media Partner

Asal Usul Nama Desa Randusanga di Brebes

PanturaPostverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Asal Usul Nama Desa Randusanga di Brebes
zoom-in-whitePerbesar

BREBES - Setiap nama sebuah tempat atau wilayah, sudah tentu mempunyai asal usul atas penamaannya itu. Pemberian nama sebuah daerah juga erat kaitannya dengan cerita tutur dari warga sekitar. Seperti halnya Desa Randusanga yang berada di Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes.

Desa Randusanga berasal dari kata randu dan sanga. Randu oleh masyarakat sekitar diasimilasikan dengan kata randa, artinya bekas. Sedangakan sanga berarti sembilan. Jadi Randusanga berarti bekas musyawarah Walisanga.

Hal tersebut diperkuat dengan cerita yang dituturkan oleh Juru Kunci Makam Syekh Junaedi Al-Baghdadi, Syakhur Romli. Syekh Junaedi sendiri merupakan salah satu ulama penyebar Islam di wilayah Kabupaten Brebes, khususnya di wilayah pesisir.

"Jadi Randusanga berasal dari bekas musyawarah Walisanga, sebab saat Syekh Junaedi datang, Walisanga sudah berangkat, tinggal bekasnya saja," kata Romli.

Juru Kunci mengatakan, Syekh Junaedi berasal dari Baghdad yang diperkirakan hidup pada masa Walisongo dan makamnya berada di Desa Randusanga Wetan. Asal usul Desa Randusanga beriringan dengan keberadaan Makam Syekh Junaedi.

Seiring perkembangnnya Desa Randusanga terbagi menjadi dua, yakni Desa Randusanga Kulon yang berarti Randusanga sebelah barat dan Desa Randusanga Wetan yang berarti Randusanga sebelah timur.

Untuk tetap melestarikan budaya dan mengingat jasa Syekh Junaedi sebagai penyebar ajaran Islam di Desa Randusanga, setiap tahunnya diadakan tradisi Kirab Kelambu. Acara ini juga menjadi agenda Pemkab Brebes yang dalam hal ini adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Brebes.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinbudpar Kabupaten Brebes, Wijanarto mengatakan, kirab Kelambu Makam Syekh Junaedi termasuk festival budaya yang menarik dan bertujuan untuk memahami proses sejarah daerah di Indonesia yang kompleks dan banyak mengandung nilai-nilai keislaman.

“Selain merayakan Haul Syekh Junaedi, tradisi ini dapat mengikat masyarakat untuk saling remojong, gambaran dari kegotongroyongan dan keanekaragaman budaya di Kabupaten Brebes," kata Wijan.

Reporter: Yunar Rahmawan

Editor: Muhammad Irsyam Faiz