"Bledugan", Permainan Tradisional di Tegal Eksis di Bulan Ramadhan

MESKI saat ini sudah zamannya smartphone, namun sejumlah anak anak Desa Kedawung Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, masih melestarikan permainan tradisional meriam bambu atau bledugan saat ngabuburit di bulan Ramadhan.
Hampir setiap sore, bunyi ledakan atau dentuman masih bisa terdengar saat bulan Ramadhan di Desa Kedawung, kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Suara dentuman itu berasal dari meriam bledugan yang dimainkan anak di sekitar kebun halaman rumahnya. Suara itu adalah salah satu ciri khas menandakan bulan Ramadhan, yang saat ini sudah sangat jarang didengar.
Meriam bambu atau kalau orang Jawa bilang bledugan, waktu jaman dulu suka dijumpai atau ditemui di desa – desa. Kadang anak - anak memainkan bledugan kadang juga orang dewasa.
Meriam bambu, selain harganya murah, juga aman. Mainan yang enak dimainkan sambil ngabuburit ini juga bisa dimainkan secara berkelompok.
Seorang pemain meriam bambu, Rehan (15) dan ovan ( 11 ) , mengaku memainkan meriam bambu setiap sore, sembari menunggu waktu berbuka puasa di tengah persawahan, bersama sembilan orang temannya.
Rehan juga tidak sendiri memainkan bledugan itu, setelah pulang dari mushola, abis tadarus ba'da duhur, Rehan bersama kelompoknya, Dika (9), A'an (8), Zain (8), Ardan (8), Wahyu (9). Membawa peralatan meriam bambu (Bledugan) ke sebuah lahan deket rumahnya.
"Ini mainnya berkelompok sehingga seru jika dimainkan ketimbang petasan. Apalagi jika suara meriamnya keras, permainan akan semakin seru," ujarnya sambil tertawa, saat berbincang dengan panturapost.com, Senin (20/5/2019).
Untuk mendapatkan meriam bambu ini, Rehan beserta teman-temannya saling mengumpulkan uang untuk membeli bambu jenis gombong atau petung yang tidak terlalu tua sepanjang 1/2 meter dan sedikit karbit. Proses pembuatannya, tebang bambu, pilih batang bambu paling bawah dan yang sudah tua. Jenis bambu yang digunakan bambu gombong atau petung. Karena jenis bambu gombong dan bambu petung, selain ukurannya besar juga kuat. Tidak mudah pecah karena lapisan lebih tebal.
Kemudian setelah tebang bambu potong panjang kurang lebih sekitar 1/2 meter. Wuku dalam bambu ditotos biar bambu berlubang macam pipa. Sisakan wuku paling bawah biar tetap rapat. Kemudian kasih lubang sedikit untuk memasukan karbit sama untuk menyalakannya.
Setelah bledugan/meriam bambu siap, seusai dilubangi, lubang bambu tempat pemantiknya itu kemudian diisi karbit sebagai bahan bakar untuk menghasilkan suara ledakan seperti meriam.
Bagus apa tidak, kata Rehan, ditentukan dari suara yang dihasilkan meriam bambu. Jika suara meriam bambu kecil, itu berarti kurang bagus. “Kalau suara meriam bambunya keras itu anak anak pasti teriak, joged dan bergembira. Duaaarr," ucap Rehan
Hal yang sama dikatan ovan ( 11 ). Bocah pemain meriam Bledugan ini mengatakan, setiap tahun saat bulan puasa selalu memainkan meriam bambu atau bledugan tersebut bersama rekan-rekannya.
Meriam bambu atau bledugan ini biasa dimainkan di pinggir rumah di lahan kosong, Keseruan memainkan bledugan ini karena mengeluarkan dentuman dari sedang hingga kencang. Namun tetap aman saat memainkannya dibanding dengan petasan. Dulu anak yang memainkan meriam bledugan di desanya cukup banyak. Tapi dengan perkembangan zaman membuat anak-anak tak lagi tertarik memainkannya.
"Kami masih mempertahankan permainan ini. Karena merasa permainan ini sudah hampir tidak dikenal oleh anak jaman sekarang karena sudah terlupakan dengan permainan lainnya. Terutama smartphone android dan adanya petasan. Sehingga lupa dengan permainan tradisional. Padahal ini sangat asyik," ungkap dia.
Evan dan rekan - rekannya juga dalam memainkan bledugan ini puasanya rajin bahkan belum pernah bolong. Evan dan rekan-rekannya berpikir untuk menghidupkan kembali permainan tersebut. Selain mengaji, saat menunggu adzan magrib daripada main tidak jelas menggunakan kendaraan. Keseruan bermain meriam bledugan ini bukan hanya saat memainkannya tapi saat membuatnya butuh perjuangan.
Hampir setiap siang atau sore, Evan, Rehan dan rekan lainnya bermain meriam bledugan tersebut. Meski yang bermain cuma sejumlah anak - anak saja, namun ternyata ada beberapa warga yang menonton.
"Kami berharap, permainan meriam bledugan ini tetap dimainkan saat bulan puasa. Karena kalau tak ada suara ledakan meriam ini serasa bukan bulan puasa. Anak-anak jaman sekarang diharapkan tertarik dan mencoba ikut memainkannya. Ikut melestarikan," ujar dia. (*)
Reporter : Bentar
Editor : Muhammad Abduh
