Kumparan Logo
Konten Media Partner

BMKG: Fenomena Angin Kencang di Tegal dan Brebes Akibat Pancaroba

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
BMKG: Fenomena Angin Kencang di Tegal dan Brebes Akibat Pancaroba
zoom-in-whitePerbesar

TEGAL - Angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di daerah pegunungan di Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes dalam kurun waktu tiga hari belakangan sudah diperkirakan sebelumnya oleh BMKG.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Tegal, Hendy Andrianto, bulan Oktober adalah masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan. Sehingga, dua hal yang perlu diwaspadai masyarakat adalah terjadinya fluktuasi cuaca dan puting beliung.

Ia menyebut, fluktuasi cuaca yang cukup signifikan dari satu waktu ke waktu berikutnya. "Bisa saja hujan lebat dan angin kencang disertai petir yang bisa datang sewaktu-waktu," ucap Hendy Andrianto, Senin 21 Oktober 2019.

Selain itu, di musim pancaroba potensi terjadinya puting beliung lebih besar. Disisi lain, jika dibandingkan dengan musim hujan, potensi puting beliung lebih stabil dan berjalan normal. "Untuk itu, kami mengimbau masyarakat memperhatikan kondisi dinamika atmosfer dan mengikuti analisis cuaca yang ada," katanya.

Berdasarkan keterangan tertulis yang disampaikan Kepala BMKG Ahmad Yani Semarang, Achadi Subarkah Raharjo, fenomena dalam beberapa hari ini media sosial dan media elektronik tersebar berita atau video kejadian angin yang berembus kencang membawa material debu dan asap.

Secara umum, angin di Indonesia pada saat ini dominan dari arah Timur sampai dengan Tenggara. Hal ini karena di Benua Australia memiliki tekanan udara yang lebih tinggi dibandingkan daerah di Belahan Bumi Utara.

Munculnya tekanan rendah di sekitar Teluk Benggala, memicu angin timuran pada lapisan atas bergerak lebih kencang dari beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan data pengamatan udara atas pada lapisan 5.000 kaki atau 1.500 meter dari Stasiun Meteorologi di Jawa Tengah pada, Senin 21 Oktober 2019 sebagai berikut. Pertama, Stasiun Meteorologi Semarang mencatat kecepatan angin sebesar 74 km/jam. Kedua, Stasiun Meteorologi Tegal mencatat sebesar 63 km/jam. Ketiga, Stasiun Meteorologi Cilacap sebesar 45 km/jam.

"Dengan kecepatan seperti ini, angin dapat menerbangkan material ringan apabila melintasi daerah berpasir atau tanah kering," ucap Achadi.

Faktor lain yang turut berperan terjadinya peningkatan kecepatan angin pada beberapa wilayah di Jawa Tengah, kata dia, adalah pergerakan matahari yang berada tidak jauh dari Wilayah Selatan Jawa, dengan pemanasan yang kuat tersebut menjadikan beberapa wilayah mencatat suhu udara yang cukup tinggi (identik dengan kerapatan udara rendah).

Faktor lainnya yaitu adanya kebakaran lahan di daerah pegunungan. Sedangkan, dari beberapa faktor tersebut, terlihat bahwa faktor cuaca lokal memainkan peran cukup signifikan sebagai respons atas peningkatan kecepatan angin di lapisan atas. Pada lokasi tertentu di pegunungan, angin lapisan troposfer bawah yang kuat bisa menguatkan respons sirkulasi lokal berupa angin lembah dan angin gunung.

"Sehingga masyarakat yang berada di daerah pegunungan beberapa hari ini yang paling merasakan terjadinya angin kencang dengan membawa material debu atau asap kebakaran lahan tersebut," pungkasnya. (*)

Reporter : Fajar Eko Nugroho

Editor : Muhammad Abduh