Bukan "Malioboro", P3 JAYA Usul Konsep Tegal Bahari ala San Fransisco
·waktu baca 3 menit

KOTA TEGAL - Perkumpulan Penghuni dan Pengusaha Jalan Ahmad Yani (P3 JAYA) Kota Tegal menyatakan tidak ingin menggugat Pemerintah Kota (Pemkot) Tegal terkait proyek "Malioboro".
"Kami tidak ingin menggugat pemerintah kota kami sendiri. Kami hanya ingin pemerintah kota mendengar usulan kami yang mengais rezeki di Jalan Ahmad Yani," kata Humas P3 JAYA Agustino, Sabtu (2/10/2021).
Disampaikan Agustino, pihaknya tidak anti perubahan dan pembangunan. Namun apakah pembangunan itu tepat sasaran dan telah dikaji dengan bijaksana?.
"Kami berharap pengunjung masih bisa parkir di depan toko kami, di depan lapak kami, dan tentu saja kami siap berbagi ide untuk memajukan kota kesayangan kami ini, Tegal Kota Bahari," sebut Agustino.
Sebagai Tegal Kota Bahari, kata Agustino, sebaiknya Pemkot bisa lebih memilih untuk mengembangkan kawasan pelabuhan menjadi kawasan wisata yang rapi dan bersih. Yakni dengan menjadikan pelabuhan ikan sebagai pusat kuliner bahari yang besar.
"Sesungguhnya julukan Kota Bahari ini juga tidak salah, cukup banyak penduduk Kota Tegal yang menggantungkan hidupnya dari laut. Di kampung nelayan Kota Tegal cukup ramai, tetapi kenapa kuliner hasil lautnya tidak dikenal dengan baik?" katanya
Sebagai Kota Bahari, kuliner paling terkenal di Kota Tegal justru bukan makanan laut, namun sate kambing. Di Kota Tegal mudah sekali menemukan warung sate kambing, hampir tiap sudut kota ada warung sate kambing.
Disampaikan Agustino, Kota Tegal itu jika dilihat dari geografisnya mirip dengan kota San Fransisco Amerika Serikat. Kota Tegal berbatasan langsung dengan laut di Utara, dan di Selatan bersandar pada Gunung Slamet.
"San Francisco itu sama, memiliki kawasan perbukitan sejuk bernama Twin Peak, dan langsung berbatasan dengan laut. Hanya saja Tegal tidak semaju dan seluas kota San Frasnsisco," kata Agustino.
Meski demikian, Kota Tegal bisa belajar dari kota San Fransisco dimana ada perkampungan nelayan yang disulap menjadi tempat wisata mewah yang bernama Fisherman’s Wharf.
"Di tepi pantai bagian utara, adalah salah satu tempat wisata paling ramai di kota SF. Toko souvenir dan warung yang menjual kepiting dan sup krim kerang dalam mangkuk roti sourdough terdapat di setiap tikungan, berbagai butik dan restoran yang terkenal ada di sana," katanya.
Jadi apa kekuatan Kota Tegal? Kadang kita melihat rumput tetangga lebih hijau, dan lupa melihat halaman kita sendiri. Kita tidak menyadari potensi Kota Tegal sebagai Kota Bahari.
"Mengutip dari Proklamator kita Bung Karno yang mengatakan 'Bangsa yang tidak percaya pada kekuatan dirinya sebagai bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka'." ucapnya.
Menurut Agustino, sendandainya percaya bahwa identitas Kota Tegal adalah Kota Bahari, mungkin Pemkot bisa membuat “Fisherman Wharf” versi Kota Tegal.
"Dimana semua orang bisa menikmati makanan laut lezat, sambil menikmati melihat kehidupan asli Kota Bahari yang kadang lupa identitasnya. Andai saja bukan 'Malioboro' yang diangkat, namun Tegal Kota Bahari," pungkas Agustino. (*)
