Dengan Bantuan Tongkat, Arrohma Berhasil Mendaki Gunung Slamet dengan Satu Kaki

Perempuan asal Gersik, Jawa Timur, Arrohma Sukma Permada Marga, 22 tahun berhasil mendaki Gunung Slamet dengan satu kaki. Arrohma sapaan akbrabnya berhasil mencapai puncak Gunung Slamet via Permadi Guci Kabupaten Tegal.
Perempuan difabel itu mampu menaklukan gunung tertinggi di Jawa Tengah itu dengan bantuan dua tongkatnya. Sebab, kaki kanannya harus diamputasi setelah mengalami kecelakan tiga tahun lalu.
"Tahun 2018 pada Agustus saya mengalami kecelakaan sepeda motor dan terpaksa kaki kanan saya harus diamputasi. Sedihnya lagi kecelakaan itu adalah takbrak lari," tutur Arrohma kepada PanturaPost saat sedang istirahat di basecamp pendakian Permadi Guci, Senin (17/5/2021).
Baginya, mendaki gunung itu adalah hobinya sejak masih duduk sekolah SMA. Pada saat kecelakaan dirinya sempat sedih karena tidak bisa melanjutkan hobinya. Akan tetapi, keluarga dan teman-temannya memberinya semangat.
"Saya sempat sedih setelah kejadian itu, Karena kemungkinan besar tidak bisa menikmati indahnya alam dan puncak gunung. Tapi keluarga dan teman-teman selalu kasih semangat. Walaupun pakai tongkat masih bisa mendaki, asal yakin dan mau berusaha," ucapnya.
"Kalau rencana naik Gunung Slamet itu sejak Juni 2018. Tapi pas Agustus mengalami kecelakaan. Akhirnya bisa naik Gunung Slamet baru terlaksana tahun 2021 sekarang."
Dia naik Gunung bersama 6 temannya. Pendakian itu dilakukan dengan santai. dari berangkat pada tanggal (14/5/2021) siang dan turun hari Senin pukul 11.00 WIB. Dalam proses perjalanan dua kali nge-camp di pos tiga dan empat.
"Kami mendaki dengan santai. Jadi tidak diuber-uber sama waktu. Pertama nge-camp itu di pos tiga dan paginya lanjut lagi dan nge-camp di pos empat. Setelah itu naik puncak. Sampai puncak pukul 12.00 pas di hari kedua," katanya.
Arrohma mengaku senang akhirnya keinginannya berdiri di puncak Gunung Slamet bisa terwujud. "Dalam perjalanan kami selalu dikasih semangat sama teman-teman. Yang lebih asiknya lagi saat jalur menuju puncak. Itu luar biasa, karena jalurnya berbatuan" sambungnya.
Mendaki Gunung slamet via Jalur Permadi Guci itu, kata dia, terasa berbeda. Jalurnya masih alami, masih banyak air.
"Dari bawah sampai puncak saya tetap menggunakan dua buah tongkat. Sebelum naik gunung, saya selalu olahraga dulu. Seperti jalan jauh, push-up agar tangan kuat untuk menahan dua tongkat saya," katanya.
Selain Gunung Slamet, Arrohma sudah mendaki Gunung Prau, Gunung Klotok, Gunung Butak, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, dan Gunung Lawu.
"Setelah kecelakaan beberapa bulan saya sudah mendaki beberapa gunung. Tapi gunung yang paling tinggi itu Gunung Slamet," pungkasnya. (*)
