Pencarian populer
PUBLISHER STORY

Dilaporkan Menganiaya, Subkhan Diperiksa 2 Jam oleh Polisi

Moh Subkhan dimintai keterangan polisi atas laporan kasus dugaan penganiayaan. (foto: fajar eko nugroho)

BREBES - Usai dilaporkan seorang kakek bernama Sukro (65) di Mapolres Brebes atas kasus dugaan penganiayaan, Sabtu (9/3) malam lalu. Moh Subkhan seorang petani bawang merah yang sempat viral di media sosial (medsos) lantaran curhat dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Salahhudin Uno, menjalani pemeriksaan pertama di Mapolres setempat, Senin 11 Maret 2019.

Mantan Anggota KPUD Brebes itu datang seorang diri atas panggilan pemeriksaan penyidik unit 1 Satreskrim Polres Brebes Senin (11/3) pukul 10.00 WIB. Namun, Warga Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes ini datang 30 menit lebih awal.

Setibanya di ruang penyidik, Moh Subkhan langsung dimintai keterangan polisi atas laporan kasus dugaan penganiayaan tersebut. Dengan memakai kaca mata hitam dan mengenakan kaos biru dan memegang secarik kertas.

Adapun pemeriksaan dilakukan secara tertutup di ruang penyidik unit 1 Satreskrim Polres Brebes. Sekitar dua jam Moh Subkhan diperika oleh penyidik.

Kendati demikian, proses pemeriksaan sempat memancing perhatian sejumlah warga yang berada di sekitar ruangan penyidik yang sedang mengurus pembuatan SKCK. Pasalnya, beberapa kali terdengar suara keras seperti orang berteriak-teriak tengah memberikan keterangan terhadap penyidik. Suara itu terdengar mirip dengan suara Moh Subkhan.

Saat ditemui sebelum menjalani proses pemeriksaan, Moh Subkhan mengaku, dirinya datang ke Polres Brebes untuk memenuhi undangan panggilan polisi. "Ya memang benar saya datang ke sini untuk dimintai keterangan sebagai terlapor atas kasus dugaan penganiayaan kepada Sukro," ucap Moh Subkhan.

Dirinya pun menyatakan, sebagai warga negara yang taat hukum dan dirinya siap membuktikan jika laporan yang dituduhkan kepadanya itu tidak benar. Di sisi lain, laporan menyangkut dirinya tetap herus diproses dan pihaknya siap membuktikan jika laporan itu tidak benar.

“Demi Allah saya tidak melakukan seperti yang dilaporkan ini. Itu semua fitnah. Alhamdulillah, tangan saya masih terlindung untuk tidak berbuat seperti itu. Tapi malah sebaliknya, saya malah dicekik dan dicakar oleh pelapor. Ini buktinya,” ucap Moh Subkhan sembari memperlihatkan luka bekas cakaran di bagian leher dan dada sebelah depanya.

Sementara itu, Kapolres Brebes AKBP Aris Supriyono melalui Kanit 1 Satreskrim Ipda Reza Firmanysah membenarkan pemeriksaan sebagai saksi Moh Subkhan atas kasus dugaan penganiayaan kepada seorang warga bernama Sukro.

"Ya yang bersangkutan menjalani pemeriksaan awal dan dimintai keterngan Terkait laporan kasus dugaan penganiayaan itu. Statusnya sebagai saksi. Sebelumnya juga kita sudah periksa tiga saksi dari pelapor," ucap Reza Firmansyah.

Ia menjelaskan, setelah beberapa saat dimintai keterangan, kepada penyidik, Moh Subkhan meminta tidak kembali melanjutkan pertanyaannya lantaran ada beberapa hal yang tak bisa disampaikanya di hadapan penyidik.

"Untuk pemeriksaan hari pertama ini, tadi menjelaskan kronologinya saja atas kejadian tersebut," pungkasnya.

Untuk diketahui, nama Moh Subkhan, sempat menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Wajahnya menghiasi sejumlah media massa baik media online, televisi, dan cetak.

Ya, pria 42 tahun asal Desa Tegalglagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes itu menjadi tenar setelah aksi curhatnya di depan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Sandiaga Salahudin Uno, Senin (11/2) lalu. Petani bawang merah itu bahkan sempat menangis karena kesulitan mengangsur kredit di Bank Puspa Kencana Brebes. "Tanam bawang, tumbuhnya hutang," katanya kepada Cawapres Sandiaga Salahudin Uno.

Bahkan, oada Jumat (15/2) lalu, Subkhan melaporkan politikus PSI M. Guntur Romli ke Bareskrim Mabes Polri terkait cuitan di Twitter yang dianggap menyudutkannya karena dituduh bersandiwara saat curhat dengan Cawapres Sandiaga Salahudin Uno.

Selain dikenal sebagai petani dan mantan komisioner KPU, Subkhan juga dikenal sebagai aktivis dan tukang demo. Sejak menjadi mahasiswa Jurusan Geografi Universitas Gajah Mada (UGM) pada 1994 dia kerap turun ke jalan memperjuangkan reformasi. Begitu juga ketika pulang kampung. (*)

Reporter : Fajar Eko Nugroho

Editor : Muhammad Abduh

Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.57