Kumparan Logo
Konten Media Partner

Hasil Kerajinan Siswa di Brebes Dipasarkan di Medsos

PanturaPostverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hasil Kerajinan Siswa di Brebes Dipasarkan di Medsos
zoom-in-whitePerbesar

Hasil kerajinan siswa di Brebes dipasarkan di Media Sosial Facebook. (Foto repro: Yunar Rahmawan)

BREBES - Puji Rahayu, 33 tahun, seorang​ guru di SMP Negeri 5 Brebes baru baru ini mengajak siswa siswinya untuk memanfaatkan hasil karya mereka. Yakni dengan memajang setiap hasil kerajinan tangan di media sosial.

Guru pengampu mata pelajaran kesenian mengaku, apa yang dilakukannya itu merupakan hasil dari saran panitia seleksi Sekolah Adiwiyata. "Jadi waktu itu, ada salah satu panitia yang memberi saran kalau hasil kerajinan siswa yang begitu banyak, kenapa tidak dipamerkan dan dipublish, siapa tau ada yang tertarik," tutur dia kepada Panturapost.id, Rabu, 4 April 2018.

Berawal dari masukan itu, Ayu sapaan akrabnya, merasa tergugah untuk bisa memasarkan hasil karya anak didiknya. "Ini sekaligus memberi pelajaran berwirausaha buat murid saya, jadi paling tidak walaupun mereka masih SMP, tapi punya modal sedikit," jelasnya.

Hasil karya kerajinan tangan siswa siswi SMP Negeri 5 Brebes tersebut di antaranya, lukisan, centong hias bermotif batik, taplak meja dari kain perca dan masih banyak kerajinan tangan lain. Selama ini, hasil karya siswa-siswi itu hanya menjadi koleksi sekolah saja.

Produk kerajinan yang merupakan hasil pelajaran seni rupa yang Ayu ajarkan, beberapa sudah ada yang diupload, meskipun masih menggunakan akun pribadi miliknya. "Saya upload lukisan, taplak kain perca dan centong motif di FB saya, ternyata ada yang minat," jelas Ayu.

Menurutnya, pembeli kerajinan anak didiknya bukanlah​ sembarangan orang, mereka adalah apresiator seni khusus. "Ada pembeli dari Jakarta, mereka kebanyakan Apresiator seni, karena mereka adalah yg menghargai seni, menghargai disini bukan hanya karena rupiah saja, melainkan juga mengapresiasi karya anak, mereka menghargai, mencintai, menyukai karya anak," jelasnya.

Sejatinya Ayu adalah guru seni musik, namun, setiap guru kesenian harus mengajarkan paling tidak, dua seni. "Jadi di sekolah saya mengajar seni musik dan seni rupa juga," kata wanita lulusan sarjana pendidikan seni musik Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Untuk tarif setiap produk, ia mengaku tidak mematok harga terlalu tinggi. Hasil penjualan juga kembali kepada siswa pembuatnya "Lukisan kemarin terjual 3 buah dengan harga masing-masing 50.000, begitu dapat transferan, langsung saya kasih ke anaknya," tambahnya.

Nurrani, siswi kelas satu SMP tersebut merasa senang dengan ide ibu gurunya. "Saya senang dan bangga, saya lagi bikin lukisan lagi khusus untuk Bu Ayu biar dipajang di rumahnya," tuturnya.

Berbagai tanggapan juga berdatangan atas apa yang dilakukan Puji Rahayu. Termasuk di kolom komentar produk yang ia unggah. "Ada yang komentar bagus, tak sedikit juga yang tidak setuju, katanya hasil karya anak jangan dijual, tapi setelah mereka tahu maksud saya, mereka menerima itu," katanya.

Hingga kini, meskipun​ belum banyak yang terjual, dirinya akan terus berusaha memberikan ruang bagi hasil kerajinan tangan anak didiknya. "Rencananya kita buat website khusus untuk pameran kerajinan siswa, jadi tidak hanya lingkup sekolah saja yang bisa melihat, melainkan masyarakat umum juga bisa menikmati, syukur kalau ada yang minat bisa kontek saya," tandasnya.

Reporter: Yunar Rahmawan

Editor: Muhammad Irsyam Faiz