kumparan
KONTEN PUBLISHER
2 Mei 2018 12:42

Jadi Tersangka Suap Pembebasan Lahan, Hartoto Ditahan di Lapas Tegal

Tersangka Hartoto dibawa Kejaksaan Negeri Kota Tegal. (Foto: Facebook Bang Joh)
ADVERTISEMENT
TEGAL - Mantan Kepala Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Kota Tegal, Hartoto ditetapkan sebagai tersangka. Hartoto diduga menyalahgunakan wewenang saat pembebasan tanah 'Bokong Semar'. 
Kini berkas kasus tersebut sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri dari penyidik Kepolisian Resor Kota (Polresta) Tegal. Adapun yang tersangka kini sudah ditahan di Lapas Tegal.
"Kami menerima berkas, Senin, 30 April 2018, sekitar pukul 11.00 WIB," kata Kasi Intel, Wimpy Wimohon, saat dimintai konfirmasi panturapost.id, Rabu (2/5).
Sebelumnya kasus pembebasan tanah 'Bokong Semar' ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menyeret mantan Wali Kota, Ikmal Jaya. Wimpy mengatakan, setelah pihak kejaksaan menyatakan BAP sudah lengkap (P21), selanjutnya penyidik dari kepolisian menyerahkan berkas dan tersangka. 
"Ini penyerahan tahap dua, artinya berkas sudah lengkap dan siap untuk disidangkan. Sambil menunggu proses sidang, tersangka dititipkan ke Lapas Tegal selama 20 hari kedepan," kata juru bicara Kejari ini.
ADVERTISEMENT
Dikatakan, tersangka Hartoto, diduga menyalahgunakan wewenang dalam kasus Bokong Semar. Dia dijerat dengan pasal 2 dan 3 UU Tindak Pidana Korupsi dan pasal alternatif pasal 11 dan 12 tentang suap. 
"Terkait nominal berapa besaran suap yang diterima, nanti saja di persidangan, karena antara pemberi dan penerima dalam BAP tidak sinkron,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia menjelaskan kasus Bokong Semar, telah menyeret tiga orang yakni Syaiful Jamil, Ikmal Jaya, dan Rudianto Tan. Hasil pengembangan akhirnya menyerat mantan Kabag Tapem Hartoto.
Dia berharap berkas dalam waktu dekat segera diserahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang. "Kasus ini masih terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan ada tersangka lain, kita lihat saja nanti di persidangan," ujarnya. 
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui, mantan Wali Kota Ikmal Jaya divonis 5 tahun di pengadilan tingkat pertama di Tipikor Semarang pada 2015 lalu. Kurang puas dengan putusan, Ikmal pun sempat banding. Akan tetapi, setelah banding, hukumannya justru bertambah tiga tahun, menjadi total 8 tahun penjara. 
Reporter: Reza Abineri Editor: Muhammad Irsyam Faiz
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan