Jintul, Makanan Khas Tegal yang Sehat dan Mengenyangkan

Jika Anda berasal dari daerah dan tinggal di perdesaan, pasti akan menemukan makanan tradisional khas. Makanan itu biasanya selalu membuat kangen saat Anda pulang kampung. Di Tegal, ada satu makanan khas perdesaan yang cukup merakyat.
Namanya Jintul. Jintul ini adalah sejenis panganan yang bahan mentahnya berasal dari singkong. Orang tegal biasa menyebutnya bodin. Di Desa Bojong yang terletak di dataran tinggi Kabupaten Tegal, masyarakatnya masih memproduksi makanan khas ini.
Ma'an (45) seorang desa setempat sejak puluhan tahun membuat Jintul ini. Menurut dia pembuatan Jintul ini dimulai sejakl zaman orang tuanya. Dia kemudian meneruskan sampai sekarang.
"Mungkin kalau orang kota mendengar nama jintul ini aneh. Tapi kalau sudah merasakan makan Jintul khas Desa Bojong ini pasti akan ketagihan. Apa lagi makanya di saat cuaca dingin dengan tahu, krupuk, Mirong serta Minum teh hangat, nilmatnya luar biasa," kata dia saat ditemui PanturaPost di rumahnya.
Dalam proses pembuatanya, Ma'an memproduksi dengan alat tradisional. Di pagi hari Ma'an pergi ke landang singkong milik orang lain yang kebetulan pohon singkongnya sudah dibeli olehnya.
Dia menjelaskan bagaimana proses pembuatan Jintul ini. Dari menjabut singkong, memotong singkong dengan ukuran pendek, mengkupasnya. Kemudian mencuci singkong sampai bersih dengan air yang jernih. Sehabis di cuci bersih singkongya, Ma'an memarutnya dengan alat tradisional. Lalu dikukus sampai masak selama dua jam dengan kondisi api yang sedang.
Setelah matang, singkong tersebut di angkat dan di letakan di tampah dan di gelar sesuai ukuran tampah tersebut. Hingga singkong dingin baru di potong potong atau di kepal bulat bulat ukuran genggaman tangan. Jika sudah selesai, jintul pun sudah bisa dinikmati.
Ada banyak cara menikmati makan jintul ini. Ada yang dimakan dengan sambel atau pakai ikan asin atau mirong, tahu, dan kerupuk. Ada juga yang di taburi dengan kalapa. Tergantung selera.
Karena bahanya berasal dari singkong, maka panganan ini mengandung sumber karbohidrat. Makanan ini sering dijadikan makanan pengganti nasi di pagi hari untuk sarapan. Kadang untuk teman mengobrol di saat malam hari sambil minum teh angat atau kopi.
"Makanan ini bisa bikin perut kenyang, makan jintul dua atau tiga butir saja sudah kenyang," ungkap Ma'an.
Ma'an memproduksi jintul ini dalam satu hari sampe satu kuintal. Dari muali pukul 16.00 sampai tengah malam. Dalam pembuatanya Ma'an di bantu oleh sang istri. Dan setiap pagi di bawa ke Pasar Bojong. Untuk satu butir Jintul, harganya sangat murah, yakni Rp 400.
Ma'an mengatakan jintul yang dia buat ini sudah pernah dikirim ke berbagai kota. Mulai dari Bandung, Semarang, dan Jakarta. "Setiap perantau yang pulang, berangkatnya pasti membawa oleh oleh jintul ini buat di kota kota," ucapnya.
Sementara itu, Joko (41), warga setempat mengaku suka makan Jintul ini. Dia mengatakan, Jintul yang dibuat oleh Ma'an ini rasanya beda. Lembut dan empuk. Apalagi dinikmati saat masih hangat.
"Saya suka ke sini saat malam sama teman-teman. Dengan teh hangat atau kopi sambil ngobrol dengan cuaca yang dingin. Itu enak banget tidak kalah sama makanan yang zaman milenial ini. Yah, kalau bersaing dengan makanan yang di kota kota sana kalah lah. Ini makanan sehat dan tidak mengadung minyak," ungkap dia.
Reporter: Bentar
Editor: Irsyam Faiz
