Jualan Gambar via Medsos, Gadis Tuna Rungu Wicara Ini Ingin Beli Alat Dengar dan Sekolah

Syifa tengah menuangkan hobinya, menggambar dengan pensil. (foto: bentar)
BEBERAPA gambar terpajang di sekitar meja belajarnya. Gambar dari pensil yang cukup bagus. Itulah karya-karya Neli Syifa (20 tahun) atau biasa disapa Syifa. Gadis kecil yang menyandang tuna rungu wicara.
Di balik kekurangan fisiknya, anak dari ibu Sobiroh dan sang ayah Munawar, warga Desa Suniarsih RT 03 RW 01 Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, memiliki kelebihan. Ia jago melukis pakai pensil, meski belajar secara otodidak. Karena keterbatasan ekonomi keluarga, Syifa tidak bisa menikmati bangku sekolah, seperti para remaja yang lainnya. Sejak kecil ia tidak sekolah.
Saat ini, aktivitasnya hanya membantu orang tua di rumah. Dan bertemen setia, pensil. Gadis berzodiak Virgo ini jarang keluar rumah atau berbaur dengan remaja yang lain. Sang ibu takut Syifa sedih kalau bergaul dengan yang lain. Karena, Syifa mempunyai kekurangan. Kalau keluar rumah, Syifa ditemani kakak, atau ibu atau ayahnya. Tapi Syifa suka di rumah. Temen-temen Syifa yang main ke rumah.

Karya Syifa
Syifa suka melukis sejak usia 12 tahun. Awalnya menggambar dirinya sendiri. Peralatan menggambar dikasih dari teman, saudara dan kakaknya. Syifa pun belajar bahasa isyarat dari buku yang dikasih sang kakak. “Syifa sudah lumayan mahir bahasa isyarat dengan sang teman dan keluarga,” tutur sang ibu, Sobiroh.
Saat ditemui di rumah, Syifa didampingi ibu, ayah dan temannya untuk menerjemahkan apa yang hendak disampaikan. Melalui bahasa isyarat. "Suka melukis sejak masih usia 12 tahun. Saat itu, Syifa suka liat sosok yang disukai di TV dan medsos. Dari situ, Syifa belajar melukis. Gambar pertama adalah dirinya sendiri. Karena saya cinta diri saya dan keluarga,” ujar ayah Syifa, Munawar, menerjemahkan maksud bahasa isyarat Syifa.
Kegemarannya melukis terus diasah. Syifa pun mengikuti media yang digemari oleh seusianya. Seperti Facebook dan Instagram. Meski hanya bisa melihat-lihat gambar. Dan media itu juga ia gunakan untuk mengirim gambar karyanya. Sudah banyak gambar. Kadang - kadang sang kakak mempromosikan lukisan sang adik ke teman-teman dan dipasarkan.
Keinginan sekolah Syifa sangat tinggi. Tapi apa daya ekonomi keluarga belum mencukupi. Namun ibunya tetap mendukung jika Syifa hendak sekolah. “Saya mengumpulkan dana dulu,” ujar ibu Sobiroh.
Syifa tidak patah semangat untuk belajar. Syifa pun pelan-pelan bisa menulis nama sendiri, teman dan keluarganya. Tak hanya itu Syifa pun belajar menulis dengan bahasa Korea. “Syifa suka nonton film Korea dan suka sama artis Korea,” ujar ibunya.
Menurut ibunya, bakat Syifa cukup beragam. Tak hanya pandai melukis, Syifa juga pintar menyulam, bikin bros.
Lalu apa yang akan didapat Syifa dari hobi dan bakatnya itu? Syifa ingin menabung uang hasil penjualan lukisannya. Dengan bahasa isyarat, dia menunjuk kedua daun telinganya. Dia ingin membeli alat bantu dengar dan kelak bisa sekolah. (*)
Reporter : Bentar
Editor : Muhammad Abduh
