Kumparan Logo
Konten Media Partner

Kesulitan Air Bersih, Warga Desa Wlahar Brebes Gelar Ritual Sintren

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kesulitan Air Bersih, Warga Desa Wlahar Brebes Gelar Ritual Sintren
zoom-in-whitePerbesar

BREBES - Warga Desa Wlahar Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes memiliki kegiatan ritual khusus untuk mendatangkan hujan. Hal itu dilakukan lantaran warga setempat mengalami kesulitan air bersih yang terjadi sejak kurun waktu enam bulan terakhir.

Ritual itu dengan cara menggelar tradisi tarian sintren. Dengan begitu, warga berharap hujan segera tiba, agar dampak kekeringan akibat kemarau panjang yang melanda bisa segera berlalu.

Untuk diketahui, tari Sintren adalah tarian ritual yang diadakan dalam upacara adat ketika musim kemarau panjang untuk memohon hujan dan diadakan selama 40 malam berturut-turut. Pada hari terakhir, ada semacam sedekah.

"Malam kamis ini sudah hari ke 39 nanti sampai 40 malam. Kemudian ditutup selamatan. Harapannya Tuhan mengabulkan permohonan warga agar hujan segera turun disini," ucap Pemimpin Sintren atau biasa disebut Wlandang, Wakinah, Kamis (24/10) malam.

Ia menambahkan, jika tarian sintren diperankan seorang gadis yang masih suci (perawan), dibantu oleh pawang dengan diiringi musik. Untuk kemudian, gadis tersebut dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang terselebung kain. Pawang atau dalang kemudian berjalan memutari kurungan ayam itu sembari merapalkan mantera memanggil ruh Dewi Lanjar.

Jika pemanggilan ruh Dewi Lanjar sudah berhasil, maka ketika kurungan dibuka, sang gadis tersebut sudah berdandan cantik, lalu menari diiringi musik. Dalam menari, sintren juga ditemani para bodor yang jumlahnya 5 orang.

"Karena sintrennya anak anak, masih pelajar SMP, maka bodornya juga anak anak. Kalau sintrennya usia dewasa, maka bodornya juga dewasa. Alat musiknya juga sederhana, hanya kendang blampak sama gong serta kecak yang diselaraskan," ungkapnya.

Kembali Digelar Sejak 17 Tahun Lalu

Tarian Sintren merupakan seni tradisi yang sudah berjalan dari turun temurun di Desa Wlahar. Jika musim kemarau panjang tiba, maka warga berinisiatif menggelar tarian sintren.

"Sintren ini digelar kalau hanya musim kemarau panjang. Kalau kemarau biasa tidak. Ini saja berarti baru ada lagi sejak 17 tahun yang lalu," jelas seorang tokoh masyarakat setempat, Jaelani.

Menurit dia, seni sintren di Desa Wlahar mulai berjalan sekitar tahun 1945 an. Apalagi, seni sintren cukup efektif untuk mewujudkan harapan turun hujan. Bisa dilakukan selama 21 hari atau 40 hari berturut.

Kekeringan yang melanda cukup lama ini membuat ribuan warga Desa Wlahar kesulitan air bersih. Bantuan air bersih memang ada, tapi karena banyaknya warga yang membutuhkan bantuan air bersih pun tak pernah cukup.

"Warga hanya berikhtiar dan berusaha supaya bisa lekas turun hujan. Namun selain itu, kegiatan ini juga bisa untuk menghibur masyarakat dan melestarikan seni tradisi atau nguti-uri budaya," jelasnya.

Seorang warga Desa Wlahar, Wurjamengatakan, warga setempat cukup antusias menyaksikan gelaran seni sintren di tempatnya. Bagi mereka, Tari Sintren merupakan wujud pengharapan turun hujan. Bagi para penari, merupakan wujud kecintaan terhadap budaya dan tradisi agar tidak punah.

"Kegiatan tari sintren ini unik. Penarinya bisa dandan dan bersolek sendiri di dalam kurungan. Padahal kurungan sempit dan tidak ada lampu. Tapi kok bisa paes (bersolek) menjadi cantik seerti itu," ucap Wurja.

Dirinya pun berharap jika warga Desa Wlahar untuk tetap bersabar dengan kondisi yang ada saat ini. Sehingga apa yang diharapkan dapat segera terkabul termasuk turunya hujan. "Saya yakin sebentar lagi segera turun hujan. Sehingga bisa untuk memenuhi kebutuhan air bersih," pungkasnya. (*)