Kumparan Logo
Konten Media Partner

Masih Trauma Dengar Suara Tiang Listrik Dipukul-Pukul

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prasojo bersama istri. (dok. istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Prasojo bersama istri. (dok. istimewa)

KOTA Wamena menjadi cerita yang tak terlupakan oleh para perantau. Apalagi saat mengungsi karena kerusuhan yang mencekam di kota itu. Seperti yang dirasakan Prosojo Gito asal Desa Slawi Wetan Rt 05/01 Kecamatan Slawi Kabupaten Tegal. Ia menjadi saksi mata kerusuhan di Wamena yang mengakibatkan puluhan orang meninggal dan kantor pemerintah dan kantor lainnya terbakar.

Sembilan tahun Prosojo merantau di Wamena. Pulang kampung kadang satu tahun sekali di saat lebaran. Keuletan berdagang martabak di kota perantauan itu, ia bisa membeli satu tanah kapling, membetulkan rumah orangtua, beli sepeda motor dan kebutuhan orang tua.

“Kebetulan saya tulang punggung buat orang tua dan keluarga,” tuturnya kepada panturapost.com, Senin (14/10/2019)

Ia tidak menyangka usahanya di sana harus berakhir karena peristiwa kerusuhan. Seperti mimpi buruk dan meninggalkan kenangan pahit. Ia dan istrinya sudah tidak akan marantau ke Wamena lagi. Masih terbayang peristiwa di sana.

"Saat itu pagi sekitar jam 08.00, saya di warung mau menyiapkan sarapan buat saya dan istri,” ujarnya mulai menceritakan.

Waktu itu istrinya di kontrakan. Setelah selesai di warung, ia mau pulang. Namun tiba-tiba banyak orang berlarian di depannya. Disusul dengan anak-anak SMA. “Pas saya mau mencari tau, tiba-tiba batu sudah beterbangan. Mengenai kita yang di depan warung,” kata dia.

Tak lama kemudian datang Brimob dari arah berlawan dengan massa. Ia langsung berlindung masuk warung. Spontan semua ruko tutup semua. Dari dalam, dia mendengar suara baku tembak. Disusul teriakan, para pendatang diminta keluar semua dari rumah dan melawan dengan senjata seadanya gabung dengan aparat.

Pada saat itu Prasojo langsung lari secepatnya ke kontrakan. Dan segera membawa istri ke Polres setempat. Di tengah situasi baku tembak, dan setelah amankan istri, ia kembali turun ke jalan berkumpul dengan pendatang yang lain. “Dari jauh asap keliatan mengepul di mana-mana di setiap sudut kota Wamena. Ternyata kantor bupati terbakar, PLN terbakar, binamarga dan rumah, ruko, kios, motor, mobil, pasar, banyak terbakar rata dengan tanah,” ungkapnya.

Dari situ, selama satu Minggu, ia, keluarga dan para pendatang lainnya tidak pernah tidur tenang tiap malam. Tiap hari jaga malam. Siaga dan waspada dengan senjata seadanya di tangan. Siap menghalau mereka yang ingin menyerang masuk tempat tinggal mereka. Dalam satu minggu pula, selalu ada teror. Kalau ada suara tiang listrik yang ditabuh-tabuh, para pendatang siaga dan pegang sajam apapun bentuknya. “Kita semua siap mengamankan dari serangan pemberontak atau yang menyerang.”

Satu minggu yang mencekam. Barang - barang yang ada di kontrakan, gerobak dagangan hancur dirusak. Alat alat dagang, freezer dua, televisi, kulkas, motor, peralatan dapur dapur, semua seisi rumah kontrakan, ia tinggalkan. “Kemungkinan sudah dijarah habis. Yang saya bawa hanya sebuah sepeda motor dan uang sisa jualan,” kata dia.

Untuk biasa hidup selama beberapa minggu di Wamane dan Jayapura terpaksa ia jual motor. Karena uang sisa jualan tidak mencukupi. Biaya penerbangan Wamena ke Jayapura saja satu orang 1 juta.

“Sedangkan kami tiga orang. Motor terjual hanya 4 juta. Yah semua demi kita aman dari kerusuhan Wamena.”

Kini ia bersama istri sudah tenang di tanah kelahiran. Tapi ia harus cepat cari aktivitas lagi untuk menutupi kebutuhan lagi. “Saat ini kami masih menganggur atau belum ada aktivitas. Buat bikin usaha lagi modalnya belum ada. Semua barang - barang dah ilang saat di Wamena,” ungkapnya.

Rasa trauma udah ia rasakan berkurang. Tapi kalau denger suara kentongan dan tembakan, ia langsung ambil senjata tajam untuk jaga-jaga. “Trauma itu masih kebawa sampe rumah. Kebetulan rumah saya deket jalan raya dan tiang listrik banyak. Jadi saat denger suara kentongan tiang dan suara kaya pistol saya langsung reflek (ambil sejata tajam, red)).” (*)

Reporter : Bentar

Editor : Muhammad Abduh