Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mengenal Paat, Dalang Wayang Berusia 21 Tahun Asal Tegal

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mengenal Paat, Dalang Wayang Berusia 21 Tahun Asal Tegal
zoom-in-whitePerbesar

MENDENGAR kata wayang mungkin yang ada di pikiran adalah hiburan bagi kaum orang tua saja. Namun siapa sangka, ada pemuda bernama Farhat Afan Filianto (21) yang mendalami budaya wayang. Bahkan pemuda asal Desa Batuagung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal sempat menjadi murid mantan Bupati Tegal Alm. Ki Enthus Susmono.

“Saat itu kelas empat SD, ada hiburan di balai desa. Hiburan wayang kulit. Aku nonton sampai pagi. Dari situ terus suka wayang,” tutur Farhat kepada panturapost.com menceritakan awal kecintaannya terhadap budaya wayang, Minggu (20/10/2019).

Kecintaannya terhadap wayang makin tumbuh setelah melihat kaset pementasan wayang Alm. Ki Enthus Susmono. “Jadi pengin gitu mainin wayang,“ ujar Paat, begitu ia biasa dipanggil.

Saat masih kelas 6 SD, Paat mulai menggambar dan membuat wayang dari kertas karton. Karena ketekunannya, saat kelas 1 SMP ia sudah bisa membuat wayang golek secara otodidak. Saat masih SMP, ia sudah memiliki 10 wayang bikinan sendiri.

Kecintaannya terhadap wayang pun berkembang. Ia mulai berkeinginan mendalang. Dan, saat perpisahan kelas 3 SMP, ia berani tampil di pentas. “Dari situ orang tua mulai mendukung," ceritanya.

Ia makin membulatkan diri untuk menggeluti seni wayang. Lulus SMP, Paat melajutkan sekolah SMKN 3 Banyumas dengan mengambil jurusan pedalangan. Wayang yang dihasilkan dari tangan kreatifnya sudah 100 lebih. Ada juga yang dijual. Wayang yang dibuat pun banyak macam seperti wayang cepak, wayang golek purwa, dan wayang karakter. Bahannya dari kayu besi, sengon, hingga dongdong jaran.

Pada tahun 2014, saat masih duduk di SMKN, Paat mulai mendalang. Dari saat itulah ia terus mengasah seni dalang dan wayang. Setelah lulus SMK, Paat sempat ikut Alm. Ki Enthus selama enam bulan sebelum Ki Enthus tutup usia.

Kini Paat sudah punya nama panggung "Paat Durahmanto" dan siap manggung sesuai hajat yang diinginkan. Bisa wayang kulit dan bisa juga wayang golek.

“Kalau di Tegal kebanyakan suka golek. Kemarin ndalang di Purbalingga wayang kulit. Kalau ndalang pake bahas krama itu wayang kulit. Kalau wayang golek pake bahas tegalan,” tutur dia. (*)

Reporter: Bentar

Editor: Muhammad Abduh