Kumparan Logo
Konten Media Partner

Mengenal Tradisi Halal Bi Halal saat Lebaran

PanturaPostverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Mengenal Tradisi Halal Bi Halal saat Lebaran
zoom-in-whitePerbesar

Tradisi halal bi halal. (Foto: Yunar Rahmawan/Panturapost.id)

BREBES - Meskipun jaman semakin canggih dengan kemajuan teknologi dan informasi, namun tradisi halal bi halal saat lebaran tak bisa dihilangkan begitu saja. Budaya yang sudah mengakar di Indonesia ini seakan tak bisa terhapus kendati sudah dipertemukan lewat media sosial dan grup WhatsApp.

Saat ini, hampir semua orang di seluruh dunia mengoperasikan ponsel pintar dengan segudang aplikasi media sosial. Bahkan, mereka bisa saling ngobrol melalui panggilan video dengan mudah. Namun, kekurangan tetap saja terselip, mereka tak bisa bertatap muka secara langsung, bersenda gurau dan berbagi cerita dengan hangat.

Lewat tradisi halal bi halal, orang bisa bertemu satu sama lain, baik dalam kelompoknya keluarga besar, instansi maupun pertemanan sekolah. Budaya yang tak dapat dihilangkan ini merupakan salah satu kekayaan bangsa Indonesia yang ada sejak zaman Soekarno.

Sejumlah sumber menyebut, halal bi halal sendiri pertama kali diperkenalkan oleh presiden pertama RI, Ir. Soekarno. Dimana saat itu terjadi konflik politik pada 1948 yang berakibat pada disintegrasi bangsa. Maka dipanggilah salah seorang ulama bernama KH. Wahab Chasbullah untuk memberikan masukkan. Saat itu Soekarno diberi saran untuk menggelar silaturahmi memakai tajuk halal bi halal dengan mengundang para elit politik ke Istana negara pada momen Idul Fitri.

Berawal dari situlah, akhirnya halal bi halal diselenggarakan. Pada acara tersebut, semua keluarga hadir, baik yang berada di kampung halaman, maupun mereka yang merantau berusaha untuk mudik agar bisa bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Budayawan Brebes, Atmo Tan Sidik menilai, halal bi halal yang merupakan kearifan lokal ini tak hanya sebatas pertemuan keluarga saja. "Halal bi halal sekarang ini juga digunakan sebagai perekat antarpegawai dalam suatu instansi pemerintah maupun swasta, termasuk organisasi kemasyarakatan dan keagamaan," jelasnya.

Masih membudayanya halal bi halal diharapkan bisa mempererat tali silaturahmi di tengah kesibukan masing-masing individu masyarakat. Sekaligus menambah kurangnya tatap muka, meskipun tekhnologi saat ini memudahkan kita dalam berkomunikasi.

Reporter: Yunar Rahmawan

Editor: Muhammad Irsyam Faiz