Pasar Tradisional di Bumiayu Kian Kumuh dan Semrawut

BREBES - Kondisi jalan dan bangunan di Pasar Induk Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Senin 19 Februari 2018 terlihat kian kumuh. Di beberapa sudut Jalan dan bangunan, terlihat mengelupas dan berjamur.
Pantauan Panturapost.id di lokasi, pada jalan tengah yang memisahkan bangunan pasar I dan II becek karena adanya genangan air. Sementara lantai di pasar I juga kotor karena banyaknya gundukan tanah.
Pedagang pasar II blok dalam Atun Rofiah menuturkan, kotor dan beceknya pasar disebabkan karena adanya rembesan air hujan dari atap.
"Kalau hujan besar, air masuk dari atap sampai beberapa titik jalan tergenang. Apalagi pada lantai II yang sudah lama sepi dari pedagang," ujar dia.
Bahkan kerapkali, air sampai masuk ke bangunan Pasar II. Sehingga saat hujan turun, beberapa pedagang terpaksa menampung menggunakan ember di dalam tokonya.
"Ini sudah terjadi bertahun-tahun mas. Belum lagi kalau ada luapan air dari selokan terkadang bisa sampai masuk ke dalam pasar," kesalnya.

Bau menyengat dari lantai dua kadang juga tercium olehnya. Menurut dia, penyebabnya lantaran tangga tengah pasar II, kerapkali dijadikan tempat pembuangan sampah.
Rasa tidak nyaman juga dialami oleh salah satu pembeli Taslikha. Menurut Warga asal Dukuh Sawangan, Desa Bumiayu, Kecamatan Bumiayu ini, akses jalan menjadi semakin sempit karena banyaknya pedagang yang berjualan di pinggir.
"Iya mas terutama di jalan tengah, jalan hanya mampu dilewati dua orang saja. Belum lagi harus hati-hati karena banyak gundukan tanah," keluhnya.
Akses jalan pada depan Pasar II Bumiayu juga kondisinya sama. Banyaknya bedeng-bedeng pedagang sepanjang jalan, sampai menutup pedagang toko pasar bangunan permanennya. "Iya mas, itu juga jadi penyebab kumuhnya pasar," kata dia.
Kepala Pasar Induk Bumiayu Hadi Sudarsono ketika ditemui, membenarkan keluhan tersebut. Menurutnya, penyebab kotor dan kumuhnya pasar dikarenakan faktor letak atap yang kurang benar.
"Dari pengecekan kami rembesan air yang menyebabkan jalan becek dan kotor, karena posisi atap yang kurang pas. Terutama pada sambungan atap antara pasar I dan II," terangnya.
Selain itu, dia mengakui pada pasar II belum seluruhnya diberi pipa pembuangan air. Baru pada sepanjang di sisi utara Pasar II yang sudah diberi pipa.
"Nah itu yang membuat tanah di jalan tengah pasar kerap becek. Karena ketinggian atap berbeda," tandasnya.
Saat ini, pihaknya mengklaim terlebih dahulu fokus pada perbaikan lantai-lantainya. Dimulai dari penggantian keramik di sisi utara. "Bertahap akan kita ganti sampai di dalamnya. Yang sudah baru di sepanjang sisi utara bangunan pasar II," terangnya.
Terkait rencana penataan pedagang berbedeng, Hadi pesimis bisa dipindahkan ke lantai II. Menurutnya, banyaknya jumlah pedagang, membuat pengadaan lahan baru menjadi solusi satu-satunya.
"Tidak mungkin pedagang yang berbedeng direlokasi di lantai II. Sudah harus ada pemindahan di lahan yang baru," pungkasnya.
Reporter: Reza Abineri
Editor: Muhammad Irsyam Faiz
