Kumparan Logo
Konten Media Partner

Peneliti Prancis Meneliti Peradaban Kuno di Brebes

PanturaPostverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Peneliti Prancis Meneliti Peradaban Kuno di Brebes
zoom-in-whitePerbesar

BREBES - Peneliti asal EFEO Prancis, Lembaga Prancis yang meneliti kebudayaan Asia, Veronique, mengunjungi Museum Mini Purbakala Bumiayu-Tonjong (Buton), Minggu, 15 April 2018. Dia ditemani peneliti arkeologi nasional (Arkenas) Agus Sianto Indra Jaya. Mereka melakukan penelitian arkeologi ke beberapa tempat penemuan sisa peninggalan peradaban masa lampau di Brebes wilayah selatan.

Dalam penelitiannya, mereka meneliti sisa-sisa peninggalan benda arkeologi, di antaranya batu belah di Dukuh Pungkuran dan Dukuh Karangjati Desa Kaierang, serta Batu Jara di Desa Laren. Mereka juga meneliti Batu Wali di Desa Jatisawit Kecamatan Bumiayu, dan Batu Lingga di Candi Pangkuan Dukuh Karanggandul Desa Cilibur Kecamatan Paguyangan serta lokasi lainnya.

Sebelum mendatangi tempat peninggalan benda-benda arkeologi tersebut, kedua peneliti berkunjung ke Museum Purbakala Situs Bumiayu Tonjong (Buton) di Komplek Bumi Sari Ayu, Bumiayu. Selanjutnya bersama pengelola Museum Buton, Rafli Rizal dan Karsono melanjutkan penelitian ke beberapa lokasi.

Peneliti Prancis Meneliti Peradaban Kuno di Brebes (1)
zoom-in-whitePerbesar

Peneliti Arkenas, Agus Sianto mengatakan, penelitian dilakukan untuk mengetahui awal masuknya agama Hindu dan Budha ke Indonesia, terutama pulau Jawa bagian tengah. Pasalnya, selama ini Hindu Budha ada di pedalaman Pulau Jawa seperti di Yogyakarta dan sekitarnya.

"Selama ini Hindu dan Budha muncul di pedalaman Jawa, tetapi lupa bahwa itu berawal dari pantai utara," ujarnya.

Sebelum melakukan penelitian di Bumiayu dan sekitarnya, Arkenas dan EFEO telah mengkaji referensi yang bersumber dari laporan Belanda dan Balai Arkeologi Prancis. Beberapa lokasi di Bumiayu yang dilakukan penelitan ada di dalam referensi tersebut. "Sebelumnya sudah ada referensi baik dari laporan jaman Belanda juga dari Balai Arkeologi dan dari internet," ungkapnya.

Dikatakan, dari penelitian yang dilakukan di Bumiayu beberapa penemuan masih bersifat fragmentasi. Tetapi ada yang sangat istimewa dengan adanya batu Lingga yang berukuran cukup besar dengan berat sekitar 40 kilogram. "Batu Lingga itu cukup istimewa karena ukurannya besar dan perlu penelitian lebih lanjut," katanya.

Peneliti Prancis Meneliti Peradaban Kuno di Brebes (2)
zoom-in-whitePerbesar

Batu Lingga. (foto: Reza Abineri/Panturapost.id)

Menurut Agus, Batu Lingga merupakan perwujudan yang menggambarkan Tri Murti yakni Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brehmana. Batu Lingga bagian atas berbentuk bunder tanpa sudut perwujudan dari Siwa, kemudian di tengah memiliki delapan sudt menggambarkan Wisnu dan bagian bawah empat sudut.

"Batu Lingga itu ada pada abad yang ke tujuh atau sebelumnya dan merupakan tempat upacara atau semacam peribadatan. Biasanya Lingga diletakkan di tengah dan di sekitarnya merupakan candi atau tempat pemujaan," terang Agus.

Dia menambahkan, dari penelitian di beberapa lokasi tersebut tidak menutup kemungkinan akan dapat diperoleh informasi yang lebih banyak lagi dan dapat dilakukan eskavasi atau penggalian.

Peneliti Prancis Meneliti Peradaban Kuno di Brebes (3)
zoom-in-whitePerbesar

Batu Lingga. (foto: Reza Abineri/Panturapost.id)

Kordinator Tim Buton Rafly Rizal yang mendampingi kedua peneliti tersebut mengatakan, kedatangan dua peneliti nasional dan internasional tersebut semakin membuktikan bahwa Bumiayu memiliki banyak pontensi arkeologi. Selain benda-benda purbakala seperti fosil berusia jutaan tahun juga banyak peninggalan arkeologi kebudayaan kuno.

"Ternyata Bumiayu itu sudah dikenal oleh banyak peneliti dan laporan arkeologi cukup banyak sejak zaman Belanda," katanya.

Dia berharap, dengan adanya penelitian tersebut, semakin mengungkap kekayaan arkeologi di Bumiayu. Selain itu kebudayaan dan sejarah Bumiayu juga semakin jelas dan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan.

Reporter: Reza Abineri

Editor: Muhammad Irsyam Faiz