Kumparan Logo
Konten Media Partner

Penggunaan AGP Dilarang, Pemerintah Anjurkan Pakai Antibiotik Herbal

PanturaPostverified-green

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penggunaan AGP Dilarang, Pemerintah Anjurkan Pakai Antibiotik Herbal
zoom-in-whitePerbesar

Seorang peternak memandang bibit ayam yang sedang diternak. (foto : Yunar Rahmawan )

BREBES - Pemerintah Kabupaten Brebes melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) menganjurkan kepada para peternak untuk memakai antibiotik alami atau herbal. Menyusul adanya larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) sebagai imbuhan pakan ternak (feed additive).

Kepala DPKH Kabupaten Brebes Yulia Hendrawati ditemui di ruang kerjanya, Selasa 24 Juli 2018 menjelaskan, AGP merupakan antibiotik serta bahan-bahan yang bisa mempercepat pertumbuhan ternak. Atau membuat ternak cepat bertelur. Dan, mengurangi penyakit pada ternak. Pemberiannya disertakan pada pakan.

"Residu AGP ini bisa berdampak pada manusia yang mengonsumsi bahan olahan ternak tersebut. Sehingga tubuh akan kebal terhadap antibiotik tertentu. Inilah yang membuat AGP dilarang oleh pemerintah," tutur Yulia.

Pelarangan tersebut ternyata dikeluhkan sejumlah peternak di Brebes . Bahkan masyarakat peternak belum mau mengubah pola pakan ternaknya.

"Pemerintah sudah menyediakan solusi yaitu menggunakan herbal sebagai pengganti AGP ini. Herbal itu juga mudah dibuat oleh peternak. Bahannya sangat mudah dan gampang dibuat. Terdiri dari kunyit, gula merah dan asam jawa. Kunyit sebagai antibiotik, asam dan gula bisa meningkatkan pertumbuhan ternak itu," papar Yulia.

Hingga kini, pemerintah terus menyosialisasikan penggunaan antibiotik herbal tersebut. "Untuk peternak rumah tangga sudah melaksanakan. Sedangkan peternak pengusaha belum sempat kita cek," tandas Yulia.

Pelarangan penggunaan AGP sudah bergulir sejak Januari 2018. Dalam kurun waktu hingga bulan Juli, dampaknya mulai dirasakan. Di antaranya harga daging dan telur yang melambung. Dampak tersebut juga dialami oleh sejumlah pelaku usaha peternakan.

Salah satu peternakan asal Jatibarang, Tambah (60) menuturkan, dampak pelarangan AGP membuat bibit ayam pedaging banyak yang mati. "Sekarang yang datang pada mati karena tidak boleh memakai AGP. Biasanya pakai itu untuk menstabilkan penyakit supaya tidak tumbuh. Jadi bibit ayam yang datang banyak yang mati," tuturnya.

Selain itu, faktor cuaca juga berpengaruh terhadap keterlambatan bibit ayam (pitik). Hal tersebut disampaikan oleh Sunanto, seorang peternak dari Desa Pemaron. "Cuaca juga juga berpengaruh. Telur saat cuaca seperti ini susah menetas. Memang ada penghangat tapi tidak bisa menandingi dinginnya udara saat ini," jelasnya.

Sunanto menambahkan, bibit ayam yang mati diperkiraan satu persen seminggu, dan terus terjadi hingga masa panen yakni 35 hari. (*)

Reporter : Yunar Rahmawan

Editor : Muhammad Abduh