Kumparan Logo
Konten Media Partner

Pengrajin Emas dan Perak di Tegal Terancam Gulung Tikar

PanturaPostverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengrajin Emas dan Perak di Tegal Terancam Gulung Tikar
zoom-in-whitePerbesar

Perajin emas dan perak di Prupuk Selatan, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal. (Foto: Reza Abineri)

TEGAL - Desa Prupuk Selatan, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal tampak sepi dari hiruk pikuk aktifitas sebagai sentra perajin tradisional emas dan perak. Di rumah-rumah warga yang dulu sibuk dengan kegiatan kerajinan kini sepi. Padahal permukiman di sisi timur jalan raya Tegal-Purwokerto terpampang papan nama sentra kerajinan tersebut.

Panturapost.com menelusuri permukiman tersebut, Selasa, 9 Oktober 2018. Lewat informasi warga sekitar, bertemulah kami dengan Maskuri, 46 tahun, pengrajin emas dan perak yang masih bertahan.

Maskuri bercerita pengalamannya. Ia menuturkan, sudah sejak 2015, perajin di desanya satu per satu gulung tikar. Fenomena tersebut terjadi karena sulitnya permodalan dan pemasaran.

"Satu per satu di 2015 gulung tikar. Rata-rata karena kurang modal untuk memutar usaha, dan kalah pemasaran produknya dengan daerah lain," katanya.

Menurut dia, permodalan menjadi kendala lantaran sulitnya mencari kredit pinjaman. Kalaupun ada, persyaratan serta nilai pinjaman yang didapat cukup memberatkan.

"Informasinya harus mencantumkan nama usaha dan lainnya. Kendala lainnya, iuran ditambah bunga lumayan banyak," tutur bapak tiga anak ini.

Ia pun meminta agar pemerintah daerah mencarikan solusi dalam hal permodalan dan pemasaran tersebut.

Dengan kondisi itu, praktis dirinya hanya menerima jasa perbaikan dan sepuh perhiasan emas, itu pun jika ada. Masruri menambahkan, banyaknya perajin emas yang 'lari' dari daerahnya itu lantaran sudah tidak memungkinkan melanjutkan usaha di kampung halaman sendiri.

"Mereka ada yang bekerja dan dikontrak toko emas di kota lain atau ke Jabodetabek. Jadi sistem kerjanya, pemilik toko emas memberikan bahan untuk dibuat perhiasan emas yang dijual di toko," ucapnya.

Kondisi itu, kata dia, sudah berlangsung beberapa waktu terakhir ini. Bahkan dirinya kini bekerja di toko emas yang ada di Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.

Bagi dia, alasan perajin yang memilih untuk merantau, jauh lebih terjamin karena mendapatkan iming-iming bayaran tinggi.

Saat tren batu akik melanda, desa sentra emas itu sempat ramai dan perajin kebanjiran order untuk pembuatan cincin tempat batu akik. "Sempat ramai saat itu. Namun, setelahnya, sangat memprihatinkan," terang dia.

Kepala Desa Prupuk Selatan, Istikomah Pariyati, membenarkan bahwa perajin emas dan perak di wilayahnya memasuki masa senjakala.

"Memang cukup memprihatinkan. Saat ini sudah tidak ada yang memproduksi lagi. Akhirnya para perajin pergi merantau ke luar daerah," kata Istikomah, Senin.

Perajin yang merantau, kata dia, juga bekerja sebagai perajin emas dan perak di kota- kota besar, semisal Jakarta. Mereka mencoba peruntungan nasib yang lebih baik di kota orang.

Istikomah mengatakan, total ada sekitar 50 perajin di desa tersebut. "Ada beberapa permasalahan yang dihadapi perajin sehingga mereka harus ke luar kota," tuturnya.

Masalah yang ada, kata dia, yakni proses pemasaran yang kurang maksimal. "Menjual barang kan memang yang paling utama yakni pemasaran produk. Saat ini, sedang marak penjualan melalui online. Proses pemasaran tersebut yang kurang dimiliki perajin," kata kades.

Kendala lain yakni persaingan dengan produk- produk serupa dari negara lain yang membanjiri pasar lokal.

Secara kualitas, kata Istiqomah, emas dan perak Prupuk Selatan tidak kalah bersaing dengan produk dari manapun. Namun, karena permasalahan pemasaran sehingga produk kurang dikenal di pasaran.

"Seharusnya memang ada perhatian dari pemerintah kabupaten untuk ikut memasarkan produk emas dan perak dari daerah ini," ujarnya.

Meskipun demikian, ia menegaskan akan membangkitkan kembali gairah usaha rumahan yang dinilai dapat mensejahterakan warga desa. Ke depan, pihaknya akan mengupayakan adanya tempat pemasaran emas dan perak yang dibiayai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Selama ini, BUMDes yang ada hanya melayani simpan pinjam. Diupayakan ke depannya agar dapat melayani pembiayaan modal usaha emas dan perak sekaligus membuka sarana pemasaran.

"Kami berupaya agar produksi emas dan perak bergairah kembali. Sehingga, para perajin yang sudah merantau dapat kembali dan membangun desanya. Seperti kata presiden, membangun bangsa dari desa- desa," ucapnya

Reporter: Reza Abineri

Editor: Muhammad Irsyam Faiz