Kumparan Logo
Konten Media Partner

Akademisi: Setiap Kecelakaan Tidak Harus Selalu Sopir yang Disalahkan

PanturaPostverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Akademisi: Setiap Kecelakaan Tidak Harus Selalu Sopir yang Disalahkan
zoom-in-whitePerbesar

BREBES - Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Jateng, Kombes Pol Bakharuddin M menyatakan, jika truk bernopol H 1996 CZ penyebab kecelakaan beruntun yang menewaskan 12 orang dan sembilan orang luka-luka bukan karena rem blong.

Hasil dari indentifikasi Dinas Perhubungan (Dishub), rem berfungsi baik. Penyebabnya karena tonase berlebih. Seharusnya truk bermuatan tiga orang harusnya berat hanya 20,75 ton. Namun realitasnya muatan mencapai 38 ton atau lebih 18 ton.

Saat itu, truk melaju dari arah Ajibarang-Bumiayu, atau dari selatan menuju ke utara. Dengan melewati fly over (FO) Kretek, Kecamatan Paguyangan.

Sementara itu, menurut akademisi di bidang keselamatan transportasi darat menyoroti jika kasus kecelakaan yang melibatkan truk bisa jadi karena permasalahan fungsi rem.

"Karena rem merupakan peralatan mekanik di kendaraan. Apabila kendaraan dilakukan perawatan berkala terhadap komponen tersebut sesuai buku manual service kendaraan, pasti rem blong tidak akan terjadi," ucap Kepala Divisi Usaha dan Kerjasama Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (PKTJ) Tegal Kementerian Perhubungan, Anton Budiharjo, Senin (21/5).

Ia menjelaskan, rem blong dapat terjadi ada beberapa faktor penyebabnya. Pertama, karena kegagalan mekanis dalam rem tersebut. Kedua, karena minyak rem sudah kering atau selang minyak rem bocor.

"Kemudian juga akibat beban berlebih atau overloading dan ditambah kondisi rute atau medan turunan, maka kemampuan rem tidak akan bisa maksimal, yang ada rem panas dan blong," beber dia.

Oleh karena itu, kata pria yang juga sebagai dosen itu, untuk memastikan penyebab kecelakaan perlu dilakukan investigasi kecelakaan secara komprehensif.

"Jadi tujuan investigasi ini untuk mencari penyebab kecelakaannya, bukan mencari tersangka," tegasnya.

Ia menuturkan, jika sudah waktunya dicari penyebab dengan dengan teknik 'why tree' atau pohon pertanyaan. Sehingga setiap kecelakaan tidak melulu sopir yang disalahkan.

"Tapi di mana kegagalan sistem sehingga kejadian seperti ini tidak berulang terus. Sopir hanya melaksanakan perintah sang juragan," kata dia.

Ia menegaskan, jika keselamatan akan terwujud manakala semua peduli, baik pengguna jalan, sopir, pengusaha, dan penegak hukum atau pemerintah.

"Untuk kasus kecelakaan di Bumiayu itu, saya enggak bisa menduga-duga penyebab kecelakaan sebelum dilakukan analisis dan investigasi. Nantinya, dari hasil investigasi itu baru bisa ketahuan penyebabnya," pungkas dia.

Reporter: Fajar Eko Nugroho Editor: Muhammad Irsyam Faiz