Perjuangan Anak-anak di Brebes Meraih Prestasi Sepak Bola

BREBES - Baru beberapa hari lalu Tim Nasional sepak bola U-16 berhasil menjadi jawara sekaligus merebut trofi Piala AFF 2018. Anak-anak muda dari seluruh pelosok tanah air, termasuk salah satu pemainya berasal dari Pantura Barat, Jawa Tengah, mampu memberikan kado terindah kepada ibu pertiwi bersamaan dengan peringatan HUT RI ke-73.
Merengkuh prestasi di bidang sepak bola, membutuhkan perjuangan dan motivasi serta semangat. Selain itu, harus didukung dengan fasilitas dan finansial yang cukup untuk menimba pengalaman bertanding ke luar daerah.
Seperti diketahui, minat masyarakat Indonesia terhadap sepak bola tidak pernah kendur. Mulai dari kompetisi perserikatan yang amatir, kompetisi Galatama yang semi-profesional tapi berumur pendek, sampai Liga Indonesia yang bergulir mulai tahun 1994 lalu. Semarak sepak bola selalu bergemuruh.
Bahkan, saat ada kejuaraan sepak bola kelas dunia, dan Indonesia hanya menjadi penonton, masyarakat senantiasa mengikuti seluruh pertandingan, mulai dari awal sampai akhir. Meski pun hanya lewat layar kaca dan streaming internet.
Hingga kini, minat sepak bola itu merambah hingga kalangan yang lebih luas. Yakni anak-anak usia di bawah 10 tahun dan remaja. Jika dulu anak-anak hanya menjadi penonton orang-orang dewasa, atau sekalipun bermain tidak lebih dari sekadar menghabiskan waktu dengan menendang-nendang bola di lapangan. Kini sepak bola mulai menghiasi angan dan cita-cita tinggi para anak kecil untuk menjadi pemain sepak bola profesional.
Pengetahuan tentang sepak bola, baik dalam maupun luar negeri, mulai mereka akrabi. Mereka hafal sejumlah nama pemain asing yang kerap muncul di televisi. Mereka juga hafal para pemain klub lokal yang mereka dukung.
Akibat tingginya minat anak-anak dalam menggeluti sepak bola, lahirlah Sekolah Sepak Bola (SSB). Namun sayang, berdirinya ribuan SSB di seluruh pelosok tanah air, rupanya memiliki nasib berbeda-beda. Ada yang bergelimang finansial ditambah sarana dan prasarana yang lebih dari cukup. Banyak juga SSB yang bernasib kurang beruntung, alias serba terbatas.
Padahal, bibit pemain muda hebat muncul tak hanya berasal dari SSB kelas premium. Sering kali pemain berkarakter kuat, tangguh, dan memiliki bakat skill mumpuni juga ditemukan di SSB pinggiran.
Kondisi SSB Berprestasi Memprihatinkan

Di Kabupaten Brebes misalnya, SSB Dewantara FC yang sudah beridiri sejak 2000 silam. Hingga kini segudang prestasi di tingkat lokal, regional, dan nasional sudah pernah dirasakan. Lebih dari 40 trofi atau piala dari turnamen di tingkat Jateng, Jawa Barat hingga DKI Jakarta sudah berhasil direngkuh dalam kurun waktu 18 tahun belakangan.
Yang membanggakan lagi, bulan lalu, ada beberapa pemain SSB Dewantara FC yang bermain di Thailand dan Swedia. Namun, mereka ikut sebagai pemain yang masuk rombongan SSB di luar Brebes.
Namun, segudang prestasi yang diraih ratusan anak-anak muda yang memiliki homebase di Kecamatan Jatibarang ini, kondisinya cukup memprihatinkan. Ironisnya, bola-bola yang setiap hari mereka mainkan kondisinya hampir sebagian besar sudah tidak layak. Hanya ada 2 bola si kulit bundar yang kondisinya layak untuk ditendang.
Belum lagi, lapangan yang digunakan sampai saat ini merupakan milik daerah Kabupaten Tegal. Sejak 2004, lapangan yang sebelumnya digunakan terkena dampak limbah PG Jatibarang yang saat itu masih beroperasi. Ditambah lagi, tak ada sponsor atau pun bapak asuh yang menjadi penyemangat anak-anak.
Tak ada iuran atau pun biaya yang dikenakan kepada anak-anak untuk reguler mengikuti latihan sepakbola bersama satu minggu tiga kali setiap sore. Untuk bermain di turnamen di luar daerah, anak-anak SSB Dewantara yang rata-rata dari keluarga yang tergolong masyarakat bawah. Mereka harus patungan (urunan) membiayai dirinya sendiri selama mengikuti pertandingan.
Tak pernah ada bantuan baik dari Pemerintah ataupun pihak swasta sama sekali selama ini. Usaha mengajukan proposal bantuan ke pemerintah daerah ataupun pihak swasta selalu menemui jalan buntu.
"Dulu lima tahun lalu pernah ada bantuan uang pembinaan dari Pemda sekitar Rp 3 juta. Tapi saat itu bantuan diserahkan dan diminta untuk tandatangan di kwitansi kosong. Saya tolak dan enggak berkenan jika tidak terbuka. Karena ini untuk anak-anak dan pertanggungjawabanya," beber pelatih SSB Dewantara FC, Heri Yulianto, Kamis (16/8).
Namun, tim yang juga di bawah naungan PSSI Kabupaten Brebes ini merupakan barometer sepak bola di Brebes. Banyak pemain yang sudah berprestasi dan menjadi pemain profesional. Di antaranya, PSIS Semarang, Bali United, Persija Jakarta, Persitema, dan Persab Brebes.
"Di PSIS Semarang ada adiknya mas Khusnul Yakin. Kemudian yang di Bali United U-21, Imam yang saat ini bermain di Persija U-19. Dan juga ada yang bermain di Persitema Temanggung. Untuk Persab Brebes ada lima pemain yang bermain reguler saat ini. Bahkan, saat juara piala Suratin tahun 2017 lalu. 10 pemain Persab berasal dari SSB Dewantara," ucap dia.
Ia menambahkan, semangat anak-anak bermain sepak bola di wilayah Jatibarang dan sekitarnya sangat antusias dan bersemangat. Tak hanya dari Jatibarang, anak-anak yang ikut dalam SSB juga berasal dari wilayah lain seperti Larangan, Brebes, dan Tegal.
"Sampai saat ini total anak-anak yang ikut dalam SSB Dewantara FC ini sekitar 120 anak. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok umur. Paling kecil usia 9 tahun dan paling senior antara umur 15 hingga 16 tahun," kata dia.
Saat ini, lanjut dia, SSB Dewantara FC menjadi wakil dari Kabupaten Brebes mengikuti piala Menpora dan bertanding dengan 21 tim lainya di Jawa Tengah untuk merebut tiket maju ke tingkat nasional. Lagi-lagi kendala finansial membekap asa anak-anak SSB Dewantara FC.

"Selama ini anak-anak jika ikut turnamen di luar daerah yang jarak tempuh di bawah 4 jam datang menggunakan sepeda motor. Untuk menginap, menumpang di rumah warga atau di masjid/musala. Kemarin juga pernah karena basah kuyup kehujanan sampai di lokasi, akhirnya panitia memberikan kelonggaran untuk bermain di sesi terakhir. Agar seragam yang dikenakan kering dulu," ungkapnya.
Jika bermain di luar kota yang cukup jauh, anak-anak serta pelatih mengaku bingung dengan biaya yang harus dikeluarkan. Selain untuk makan, juga transportasi dan menginap.
"Besok tanggal 18 Agustus kita berangkat ke Semarang. Biasanya sama anak-anak urunan (iuran), uang itu digunakan untuk tranportasi saja pulang pergi. Untuk menginap nanti diusahakan nebeng di rumah warga," jelasnya.
Heri mengaku, seperti biasa tak ada persiapan khusus untuk mengikuti turnamen di manapun. Ia hanya, berfokus menjaga stamina dan fisik anak-anak binaanya. Untuk latihan pun masih sama, hanya sore hari hingga menjelang magrib.
"Kita manfaatkan apa yang sudah ada. Target kita juga semaksimal mungkin dalam setiap pertandingan. Mudah-mudahan anak-anak beruntung di trunamen Piala Menpora," katanya.
Dipastikan Berangkat ke Turnamen Piala Menpora 2018

Mendengar informasi dari masyarakat terkait keterbatasan secara finansial yang dialami SSB Dewantara FC. Pasangan suami suami isteri, Zaki Safrudin Prihatin dan Erin Yulia Suryani mengupayakan bantuan agar mimpi anak-anak asal Jatibarang itu terwujud mengukuti turnamen Piala Menpora di tingkat Provinsi.
"Terus terang saya prihatin, baru saja kemarin saya mendengar cerita dari masyarakat kesulitan yang dialami anak-anak SSB Dewantara FC. Makanya saya datang ke sini untuk melihat bagaimana kondisinya. Anak-anak di sini sangat antusias bermain bola, apalagi sudah banyak prestasi yang diraih," ucap Zaki Safrudin Prihatin.
Pasangan suami isteri yang kebetulan juga anggota DPRD Kabupaten Brebes itu, memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp 5 juta. Mereka juga mengupayakan bantuan dari CSR untuk sarana dan prasarananya termasuk bola dan seragamnya.
"Bantuan ini memang tak seberapa, paling tidak anak-anak bisa berangkat ikut turnamen Piala Menpora 2018. Apalagi membawa nama Brebes di tingkat Provinsi sebelum meniti jalan berjuang ke putaran nasional. Kita juga sudah dapat CSR nanti untuk pengembangan sarana dan prasarana termasuk rencana lapangan agar berada di wilayah Brebes," ungkap dia.
Ia menjelaskan, meraih prestasi dengan keterbatasan yang dialami anak-anak SSB Dewantara FC patut diapresiasi. Mereka benar-benar tukus bermain sepak bola tanpa adanya kepentingan tertentu.
"Pengalaman saya di Sawojajar, di sana sudah kita berikan fasilitas dan sarana prasarana. Tapi anak-anaknya tidak konsisten. Kita berikan seragam, sepatu, dan bola tapi setelah 2 bulan sudah enggak main lagi. Beda dengan anak -anak SSB Dewantara ini, dengan bola yang sudah robek dan kaus bola yang enggak seragam pun mereka masih antusias datang," paparnya.
Zaki menegaskan, akan mendorong Pemda Brebes agar lebih peduli dengan perkembangan SSB khususnya untuk wulayah yang minat dan antusias sepakbolanya sangat tinggi.
"Harus ada peran dari pemerintah membantu SSB. Karena prestasi yang akan membawa nama dan persepakbolaan Brebes lebib maju. Kalau pembinaan SSB dibenahi, saya yakin bibit pemain muda potensial yang akan membawa sepakbola Brebes bermain di level nasional kedepanya," pungkasnya.
Reporter: Fajar Eko Nugroho
Editor: Muhammad Irsyam Faiz
