Kumparan Logo
Konten Media Partner

Segarnya Es Dawet Putih dari Tepung Beras di Brebes

PanturaPostverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Segarnya Es Dawet Putih dari Tepung Beras di Brebes
zoom-in-whitePerbesar

Es dawet putih Sulastri di Pasar Induk Brebes. (Foto: Yunar Rahmawan/panturapost.id)

BREBES - Berbagai minuman ditawarkan untuk menghilangkan dahaga saat panas melanda. Salah satu yang sering disajikan di berbagai tempat adalah es dawet.

Biasanya, es dawet sering kita jumpai berwarna hijau dan berasal dari tepung aci. Tapi, beberapa juga ada yang menggunakan tepung beras, seperti dawet ayu khas Banjarnegara.

Di Brebes, ada es dawet yang terbuat dari tepung beras, namun tidak diberi pewarna atau tetap putih. Dengan campuran air gula Jawa tanpa santan.

Salah satu penjualnya adalah Sulastri, 57 tahun, yang berdagang di kompleks Pasar Induk Brebes. Ia mengaku sudah bejualan sejak tahun 70an. "Sejak saya belum menikah, ikut ibu saya jualan di pasar ya di tempat ini," kata Sulastri sembari menunggu pembeli di emperan toko.

Lastri, sapaan akrabnya, bercerita kepada Panturapost.id, ternyata es dawet merupakan bisnis turun temurun dari keluarganya. "Dulu nenek saya juga jualan dawet putih ini, turun ke ibu dan sekarang saya yang jualan bersama ke empat anak saya," tuturnya.

Segarnya Es Dawet Putih dari Tepung Beras di Brebes  (1)
zoom-in-whitePerbesar

Dulu, Lastri membuat dawet menggunakan beras yang ditumbuk sehingga menghasilkan tepung. Tapi sekarang ia cukup membeli tepung beras yang sudah jadi. "Sekarang sudah banyak dijual tepung beras kemasan, jadi tinggal beli saja," katanya sembari melayani pembeli.

Lastri juga tak keberatan berbagai cara pembuatan es dawetnya itu. Mulai dari memasak tepung beras hingga menjadi gumpalan, yang kemudian di serut menggunakan seng stainles berlubang sebagai cetakan dawet. "Di bawahnya dikasih air bersih yang dingin, jadi dawet tidak menggumpal," kata dia.

Untuk sekali produksi dawet, Lastri biasa menghabiskan 4 kilogram tepung beras dan menghasilkan dawet satu wadah termos besar.

Sedangkan untuk air campurannya terbuat dari air gula Jawa. "Hanya air gula yang dimasak, campur garam sedikit," jelas Lastri.

Untuk penyajian es dawetnya, dia menggunakan mangkuk kecil yang sebelumnya sudah dilumuri jeruk purut pada bibir mangkuk dengan cara dikepruk. "Untuk aroma saja, biar tambah segar," katanya.

Empat anak Lastri juga berjualan es dawet yang sama. Meski beda tempat, tarifnya tetap sama. Untuk satu mangkuk es dawet putih, cukup Rp 3.000 saja. Sedangkan untuk yang sudah dibungkus, harganya Rp 2.500.

Reporter: Yunar Rahmawan

Editor: Muhammad Irsyam Faiz