Kumparan Logo
Konten Media Partner

Sejak SMP, Gadis Tegal ini Sudah Tujuh Kali Mendaki Gunung Slamet

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ikna saat berada di puncak Gunung Slamet. (dok.istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Ikna saat berada di puncak Gunung Slamet. (dok.istimewa)

GUNUNG Slamet sudah tujuh kali didaki gadis asal Desa Guci Kecamatan Bumijawa Kabupaten Tegal ini. Bagi Ikna Saskia, yang kini berusia 18 tahun, gunung tertinggi di Jawa Tengah itu menjadi rumah keduanya.

Sejak masih duduk di bangku SMP, gadis yang gemar makan pukis ini sudah hobi mendaki. Meski tak ada keluarganya yang suka mendaki gunung.

Saat panturapost bertemu Ikna, sosoknya tidak terlihat sebagai penyuka tantangan mendaki, seperti membawa beban berat, tidur di dalam tenda dan lainnya. Tapi pandangan itu salah. Ternyata Ikna sudah kecanduan menjajaki gunung.

"Kalau suka mendaki itu sejak kelas 1 SMP. Saat itu, kalau mau mendaki ngumpet-ngumpet bahkan kabur dari rumah. Karena kalau minta izin ke orang tua untuk naik gunung, tidak dibolehkan malah dimarahi," tuturnya kepada panturapost, Minggu ( 1/11/2020 ).

Pengalaman pertama naik Gunung Slamet diajak teman. Kebetulan rumahnya dekat dengan Gunung Slamet. Dari pendakian pertama itulah, ia kepincut dan jatuh cinta pada puncak gunung dan sampai sekarang ketagihan.

"Saya udah tujuh kali naik Gunung Slamet. Terakhir naik dari jalur Permadi saat libur panjang kemarin. Gunung bagi saya adalah pelampiasan paling tepat ketika ada masalah. Jadi kalau lagi putek dan ada masalah ya larinya naik gunung," katanya.

Ia akui naik gunung itu cape, bawa barang berat, tidur ditenda, cuaca dingin kalau di atas gunung. Tapi, rasa cape itu hilang seketika ketika menikmati alam. Dan melihat keindahan yang orang lain jarang melihat.

“Apalagi saat di gunung, makan pukis itu tambah nikmat. Setiap mendaki gunung itu, saya selalu bawa makanan pukis. Makan pukis itu sekali maka bikin kenyang perut saat di gunung,” kata dia.

Selain Gunung Slamet, Ikna sudah mendaki Gunung Cermai dan Gunung Merbabu. Dan ke depannya akan menjelajah gunung lainnya. Saat aktifitas mendaki itu, Ikna selalu bertemu teman baru dan bersama-sama menuju puncak pegunungan. “Itu pengalaman menyenangkan,” kata dia.

Namun dalam mendaki gunung itu tidak selamanya menyenangkan. Hal-hal aneh juga pernah ia alami saat mendaki.

"Saat itu saya berdua dengan temen sedang turun gunung, setelah dari puncak dan kondisi gerimis. Setelah masuk jam 17.00 sore, sudah mulai gelap. Pada saat melalui salah satu pos ada kejadian aneh. Di pos tersebut, kami melihat pohon-pohon di sekitar bergerak tapi bentuknya hewan. Kami berdua mencoba untuk tenang dan yakin sampai bawah dengan selamat. Akhirnya sampai bawah selamat. Dari situ lah kami merasa aneh karena kami berdua melihat pohon-pohon di pos tersebut itu bergerak dan berbentuk hewan," ceritanya.

Dengan kejadian aneh tersebut, tambah Ikna, tidak menciutkan hatinya untuk menjelajah gunung lagi. Ia pun tidak menghiraukan ucapan temen-temennya yang suka bilang, "Ngapain sih naik gunung. Cape dibayar engga, mending tidur enak."

Setelah lulus SMA, Ikha menjadi model iklan baju, endorse produk, film pendek dan banyak lainnya. Hasilnya, ia belikan peralatan mendaki. “Kalau dapat bayaran dari model, saya tabung dan setelah itu saya belikan buat peralatan gunung.”

Meski hobi mendaki kini dibolehkan oleh kedua orang tuanya, saat ini ia belum tahu sampai kapan akan terus mendaki. Pastinya akan terus menikmati hobinya itu, meski selalu tak terencana. (*)