Kumparan Logo
Konten Media Partner

Temuan Fosil Manusia di Bumiayu Bisa Ubah Pandangan Soal Purbakala

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tenuan fosil manusia purba di Bumiayu. (Foto: Reza Abineri)
zoom-in-whitePerbesar
Tenuan fosil manusia purba di Bumiayu. (Foto: Reza Abineri)

BREBES - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Brebes memastikan dua fosil berupa tulang bonggol (paha) teridentifikasi sebagai manusia purba. Kepala Bidang Kebudayaan Wijanarto menuturkan, kepastian tersebut berdasarkan hasil penelitian dari pihak Sangiran, Yogyakarta saat pertemuan dengan Pemkab Brebes beberapa waktu lalu.

"Fosil (yang ditemukan) belum utuh berupa rahang atas gigi, dan kemudian tulang panggul menunjukkan Homo Erectus. Manusia tegak berdiri, salah satu manusia purba," katanya Jumat (21/6).

Fosil tersebut kini telah diserahkan ke Sangiran oleh Tim Pelestari Museum Bumiayu-Tonjong (Buton) pada awal 2019. Diperkirakan, umur kedua fosil berusia 1,8 juta tahun atau tertua se-Jawa dan Indonesia.

Oleh karenanya, Tim Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta juga telah datang untuk melakukan penelitian ke lokasi penemuan fosil.

"Berdasarkan kajian usia, ilmu gigi, Profesor Harry memperkirakan fosil tersebut lebih tua dari Sangiran. Tapi akan dibuktikan lagi dengan persebaran beberapa temuan tidak hanya fosil, tetapi juga alat-alat dapur dan kehidupan purba di wilayah Bumiayu," beber Wijan kepada Panturapost.com.

Tim Balar yang datang sejak Rabu (19/6/19) lalu, dijadwalkan akan melakukan penelitian hingga pekan kedepan. Selain di wilayah Bumiayu, mereka juga akan meneliti ke Prupuk hingga ke Semedo, Kabupaten Tegal.

Tim Balar Yogyakarta mengevek lokasi penemuan fosil manusia purba di Bumiayu, Brebes. (Foto: Reza Abineri)

Penelitian Diperluas

Menurut Wijan, penelitian hingga ke Tegal untuk menelusuri dan mengumpulkan data dan informasi tentang kepurbakalaan dengan runut.

"Dari hasil itulah nanti Balar memfokuskan (penelitian) di wilayah Bumiayu, kemudian akan ditautkan dengan jejak yang ada di Prupuk sampai Semedo. Karena alur kehidupan nanti akan (tetap) melewati Prupuk ke Semedo," jelas dia.

"Proses penelitian berlanjut cukup luas. Karena persebaran situs poros Bumiayu tidak hanya di Sungai Glagah, tidak hanya Karanggintung. Namun hingga ke perbatasan Pengarasan ke Maribaya," tambahnya.

Selain fosil manusia, rencananya fauna, dan peradaban kerajaan juga akan diteliti. Terbukti koleksi di Museum Buton juga terdapat fosil gajah purba (Sinemastodon), patung, koin masa kerajaan dan lainnya.

Penelitian sendiri sebagai upaya menyambung informasi kehidupan yang hilang di Bumiayu pada masa purba yang diperkirakan merupakan daerah laut. Jika sudah terungkap, kata Wijan, akan mengubah banyak anggapan lama. Dimana kehidupan berawal dari Jawa bagian timur.

"Diperkirakan akan sesuatu hal mengubah pandangan proses kehidupan purba termasuk wilayah Sangiran, kemudian Trinil Ngandong. Nanti akan mengubah peta rujukan referensi (menjadi) ke wilayah Jawa bagian barat," katanya.

Reporter: Reza Abineri

Editor: Irsyam Faiz