Kumparan Logo
Konten Media Partner

Tren Layangan Karakter di Masa Pandemi, Pengrajin di Tegal Banjir Pesanan

PanturaPostverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Layangan karakter berbentuk mirip kuntilanak yang dibikin oleh Muhamad Sekhuloh (36) di Desa Bukateja, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. (Foto: Bentar)
zoom-in-whitePerbesar
Layangan karakter berbentuk mirip kuntilanak yang dibikin oleh Muhamad Sekhuloh (36) di Desa Bukateja, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. (Foto: Bentar)

BERMAIN layangan menjadi hobi yang sedang tren di tengah Pandemi COVID-19. Terlebih didukung cuaca cerah dan berangin. Di sejumlah tempat, terutama di desa-desa banyak dijumpai anak-anak bermain layang-layang dengan berbagai bentuk, karakter, dan ukuran.

Seperti di Desa Bukateja Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal. Hampir setiap sore, puluhan layang-layang mengihasi langit desa setempat. Sejumlah orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa asyik menerbangkan layang-layang.

Bentuknya macam-macam. Mulai dari layang-layang yang mirip burung, karakter kartun, hingga mirip mahluk halus. Ukuran 30x50 sentimeter hingga 50x100 sentimeter. Biasanya, layang-layang tersebut diberi ekor yang panjangnya mencapai 10 meter. 

Salah satu pengrajin layang-layang di Desa Bukateja, Muhamad Sekhuloh (36), mengatakan tren main layang-layang di desanya mulai muncul sejak masa Pandemi COVID-19. Ini karena banyak anak-anak yang punya waktu lebih banyak di rumah karena tidak berangkat sekolah.

Sekhul, panggilan akrabnya, yang awalnya pengrajin kaligrafi beralih jadi pengrajin layang-layang untuk sementara waktu. Dia mulai membuat layangan sejak 3 bulan lalu karena permintaan kaligrafi sepi saat pandemi. 

Layangan karakter berbentuk mirip kuntilanak yang dibikin oleh Muhamad Sekhuloh (36) di Desa Bukateja, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. (Foto: Bentar)

Jiwa seninya tak luntur. Dia pun membuat layangan lain dari pada yang lain. "Awalnya membuat layang-layang karakter bentuk garuda untuk sendiri. Karena sejak pulang merantau dari Purwakarta di rumah tidak ada pekerjaan. Ini untuk menghilangkan rasa jenuh dan suntuk," katanya kepada PanturaPost.com, Sabtu (25/7/2020).

Layangan bikinan Sekhul ternyata menyita perhatian. Lama-lama banyak yang minat dan meminta dibikinkan. "Ada yang nawar bikin layang-layang dengan harga Rp 10.000. Dari situlah saya mulai menerima order membuat layang-layang, dengan berbagai karakter," ungkapnya.

Di saat bulan puasa hingga lebaran, peminat layang-layang meningkat tajam. Dalam satu hari, dia bisa membuat layang-layang karakter sampai 15 buah. Kata dia, jika dihitung, selama 3 bulan ini dia sudah hampir 1.000 layangan yang sudah dibuat. Dari karakter garuda, elang, cacing, hello kitty, doraemon dan katakter lainnya.

"Ada juga karakter kuntilanak. Itu juga banyak yang beli. Para pembeli masih dari lingkungan desa dan Kecamatan Balapulang. Mereka datang ke rumah dan pesan baru saya buatkan," ucapnya.

Layangan karakter berbentuk mirip kuntilanak yang dibikin oleh Muhamad Sekhuloh (36) di Desa Bukateja, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. (Foto: Bentar)

Adapun bahan membuat layang-layang sama seperti pada umumnya. Yakni dengan bahan bambu, benang, dan plastik bekas. Untuk membuat satu layangan dengan ukuran besar dan berakater memakan waktu 2 jam lebih dari proses awal sampai jadi. Karena itu dia pun mengajak temannya untuk membantu.

"Kami memanfaakan plastik bekas yang tidak terpakai. Kalau plastik bekas kehabisan paling saya beli plastik yang baru," ujarnya.

Sekhul mengatakan, hasil membuat layangan karakter ini cukup untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. "Sebenarnya pengen saya pamerkan layangan karakter layangan ini di tempat wisata, tapi kondisinya masih pandemi," pungkasnya. (*)