Konten dari Pengguna

Srawung Tirtomoyo sebagai Upaya Menghidupkan Kembali Kebudayaan Desa

Parahita Ade Kumala

Parahita Ade Kumala

Mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Brawijaya.

·waktu baca 1 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Parahita Ade Kumala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Tirtomoyo terletak di Kabupaten Malang, selama ini dikenal sebagai desa yang letaknya sangat dekat dengan pusat kota. Secara administratif, desa ini tergolong maju. Namun di balik perkembangan tersebut, ada satu hal yang perlahan memudar atau bahkan ditinggalkan, yakni kebudayaan lokal. Warga desa, khususnya perangkat desa, mengeluhkan bahwa anak-anak kini hampir tidak mengenal lagi seni dan tradisi yang pernah menjadi identitas desa.

Berangkat dari keresahan itu, mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) atau lebih akrab dikenal dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, menginisiasi sebuah program kerja bernama Taman Budaya. Program ini berupa kelas kebudayaan yang berfokus pada drama mendongeng. Selama dua minggu, sejak tanggal 21 Juli hingga 2 Agustus 2025, mahasiswa PkM mengajarkan anak-anak Desa Tirtomoyo yang berusia mulai 8 hingga 14 tahun, tentang seni peran menggunakan naskah berjudul “Legenda Desa Tirtomoyo” karya dari mahasiswa.

Pentas Srawung Tieromoyo. Sumber: Dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Pentas Srawung Tieromoyo. Sumber: Dokumen pribadi

Kegiatan ini tidak sekadar menghafal dialog. Anak-anak diajak untuk berlatih olah vokal, olah tubuh, dan olah rasa, agar penampilan mereka lebih hidup. Setiap gerakan dan ekspresi dilatih agar mampu menyampaikan cerita dengan makna yang utuh.

Puncak dari program ini adalah pentas bertajuk “Srawung Tirtomoyo” yang dilaksanakan pada 3 Agustus 2025 di Dusun Pulesari. Pentas ini merupakan hasil kolaborasi antara kelompok PkM kelompok 40 dan Kelompok 39. Kelompok 4o menghadirkan 'Taman Budaya' yang mengajarkan drama mendongeng dan kelompok 39 menghadirkan 'Kelas Budaya' yang mengajarkan tari dan karawitan. Semua hasil latihan tersebut kemudian dipadukan menjadi sebuah sendratasik, yakni seni drama, tari, dan musik yang dibawakan anak-anak dengan penuh antusias.

Penampilan drama mendongeng. Sumber: Dokumen pribadi

Meskipun acara ini dilaksanakan secara sederhana, setidaknya ia mampu sedikit menghidupkan kembali jiwa kebudayaan di Desa Tirtomoyo. Anak-anak terlihat senang dan menikmati prosesnya, dari awal latihan hingga penampilan di panggung.

Kebudayaan memang bisa hilang jika tidak dijaga. Namun dari Taman Budaya dan Srawung Tirtomoyo ini, saya belajar bahwa dengan kebersamaan, semangat, dan ruang untuk berkreasi, tradisi yang nyaris padam bisa kembali hidup.