Bentuk Kepala Dipengaruhi Gaya Hidup Manusia, Mitos atau Fakta?

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya angkatan 2022
Konten dari Pengguna
25 November 2022 22:04
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Pradnya Paramitha Budisoegiyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT

Mencari fakta dibalik mitos bentuk kepala terhadap hidup gaya hidup manusia

ADVERTISEMENT
Pernahkah teman-teman mendengar bahwa tingkat kepintaran atau kondisi psikologis seseorang mempengaruhi bentuk kepala? Setidaknya sekali dalam seumur hidup teman-teman pasti pernah mendengar desas-desus seperti ini di dalam masyarakat. Benarkah orang yang memiliki keahlian dalam bidang A, kepalanya menonjol kedepan? Atau orang yang memiliki keahlian dalam bidang B, kepalanya menonjol ke belakang? Bahkan sejak bayi, teori ini sudah diterapkan oleh orang tua untuk melihat kecerdasan buah hatinya, lho! Untuk mengetahui jawabannya, yuk simak informasi dibawah ini!

Apa itu Frenologi?

Teori tersebut dicetuskan dari ilmu semu yang disebut dengan frenologi. Frenologi adalah ilmu semu dengan pendekatan pseudo ilmiah yang menyatakan bahwa bentuk tulang menentukan perilaku manusia. Ilmu ini dipercayai dan dicetuskan oleh Franz Joseph Gall dan J.G. Spurzheim, Gall menyatakan jika bagian otak tertentu sering digunakan maka dapat mengubah bentuk tengkorak manusia. Selain itu mereka percaya bahwa terdapat sekitar 35 bagian yang di lokalisasi oleh dari otak manusia. 35 bagian tersebut meliputi sexual love, parental love, love of friends, love of home, concentration, combativeness, destructiveness, appetite, acquisitiveness, secretiveness, cautiousness, love of praise, self-esteem, perseverance, conscientiousness, hope, spirituality, veneration, kindness, constructiveness, love of beauty, imitation, mirth, individuality, form, size, weight, color, order, calculation, locale, memory of events, time, tune, dan language.
https://images.pexels.com/photos/724994/pexels-photo-724994.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=2 diagram frenologi
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/724994/pexels-photo-724994.jpeg?auto=compress&cs=tinysrgb&w=1260&h=750&dpr=2 diagram frenologi

Fakta dari frenologi

ADVERTISEMENT
Nah setelah mengetahui 35 bagian di dalam otak manusia, maka dapat dimengerti mengapa Gall bisa mempercayai apabila manusia memiliki keahlian atau sering menggunakan 1 bagian tersebut maka bentuk tengkorak manusia dapat berubah. Gall berteori jika manusia lebih sering beraktivitas di 1 bagian sedangkan bagian yang lain jarang digunakan maka bentuk tengkorak manusia dapat berubah seiring berjalannya waktu. Faktanya, pemahaman tersebut sudah terbukti salah oleh penelitian yang dilakukan oleh Jones dkk. (2018) Penelitian terfokus pada permukaan luar kepala dengan mencari hubungan statistik antara gaya hidup dengan bentuk kepala yang sebelumnya sudah disebutkan oleh Gall.
Kapasitas mental tidak dapat disimpulkan hanya dengan mengukur kontur kepala. Disebutkan bahwa gyrifikasi otak tidak menjelaskan banyak perbedaan pada kelengkungan kulit kepala. Kemudian tidak ditemukan bukti fundamental frenologi yang menyatakan gaya hidup manusia dengan kelengkungan kulit kepala. Dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Jones dkk. membuktikan bahwa kelengkungan kepala tidak dipengaruhi oleh kondisi psikologis maupun gaya hidup seseorang.
ADVERTISEMENT
Jadi bagaimana perasaan teman-teman setelah mengetahui kondisi psikologis maupun gaya hidup ternyata tidak mempengaruhi bentuk kepala manusia? Tentunya kaget bukan? Pemahaman tersebut sudah terbukti salah melalui penelitian, sehingga teman-teman dapat lebih bijak kedepannya apabila masih ada yang menerapkan teori tersebut. Namun teman-teman tidak perlu khawatir, kondisi psikologis dan gaya hidup seseorang dapat diketahui melalui metode lain diluar frenologi yang jelas terjamin kepastiannya!
Penulis: Pradnya Paramitha Budisoegiyo
NIM: 225120301111002
Daftar Pustaka:
Jones, O. P., Almagro, F. A., Jbabdi, S. (2018). An empirical, 21st century evaluation of phrenology. Cortex, 106, 26-35. https://doi.org/10.1016/j.cortex.2018.04.011
Suprapto, A., Duki. (2015). Pengembangan Metodologi Pembelajaran Pai melalui Teori Pemrosesan Informasi dan Teori Neuroscience. J-PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(1). https://doi.org/10.18860/jpai.v2i1.3761
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·