Panggung Sang Demagog: Ketika Retorika Nyeleneh Mengalahkan Nalar Publik
Tulisan dari Pardomuan Gultom tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir, panggung politik di berbagai negara, termasuk Indonesia, kerap diramaikan oleh sosok politisi yang gemar melontarkan pernyataan nyeleneh dan provokatif. Pidatonya bukan sekadar retorika biasa, melainkan sengaja dirancang untuk mengguncang, memancing emosi publik, dan menyulut polarisasi. Yang lebih meresahkan adalah ketika kritik datang bertubi-tubi, sosok semacam ini justru semakin bersikukuh, bahkan cenderung mengulang pernyataan kontroversialnya dengan nada yang lebih keras.
Fenomena ini bukan sekadar gaya komunikasi yang buruk, melainkan gejala dari apa yang dalam ilmu politik disebut sebagai demagogi. Sebuah pola kepemimpinan retoris yang telah dikenal sejak zaman Yunani kuno, namun kini menemukan bentuk barunya di era media sosial dan politik pasca-kebenaran (post-truth politics).
Anatomi Demagogi: Bukan Sekadar Provokasi
Secara etimologis, kata "demagog" berasal dari bahasa Yunani, yaitu “demagogos”, yang berarti “pemimpin rakyat”. Namun dalam praktiknya, istilah ini bergeser menjadi konotasi negatif: seorang pemimpin yang memanfaatkan emosi, prasangka, dan ketakutan massa demi meraih dan mempertahankan kekuasaan, alih-alih mengandalkan argumen rasional atau data yang dapat diverifikasi.
Filsuf politik klasik seperti Aristoteles telah mengingatkan bahaya retorika yang mengabaikan logos (nalar) demi memaksimalkan pathos (emosi). Ciri utama demagog kontemporer setidaknya mencakup tiga hal: pertama, penyederhanaan masalah kompleks menjadi narasi hitam-putih; kedua, penciptaan musuh bersama, baik itu elite, kelompok minoritas, media, maupun pihak asing; dan ketiga, penolakan sistematis terhadap kritik yang dibingkai sebagai serangan terhadap rakyat itu sendiri.
Populisme Ideasional: Kerangka Cas Mudde
Untuk memahami mengapa politisi demagogis begitu efektif menjangkau massa sekaligus imun terhadap kritik, teori populisme ideasional yang dikembangkan Cas Mudde memberi pijakan analitis yang kuat. Mudde mendefinisikan populisme sebagai ideologi tipis (thin ideology) yang membelah masyarakat menjadi dua kubu homogen dan antagonistik, yaitu rakyat murni melawan elite korup. Politisi demagog memosisikan dirinya sebagai satu-satunya representasi otentik kehendak rakyat.
Implikasinya signifikan. Setiap kritik, betapapun substantif dan berbasis data, secara otomatis dimaknai bukan sebagai koreksi yang sah, melainkan sebagai bagian dari konspirasi elite untuk membungkam suara rakyat. Struktur wacana inilah yang menjelaskan mengapa sang demagog tidak goyah, bahkan semakin defensif, ketika dihadapkan pada bukti atau argumentasi yang kontradiktif, karena dalam logika populis, menyerah pada kritik sama artinya dengan mengkhianati rakyat yang diklaimnya wakili.
Logika Ekuivalensi Laclau: Membangun "Kami" Melawan "Mereka"
Perspektif lain datang dari Ernesto Laclau dalam On Populist Reason (2005), yang melihat populisme bukan sebagai penyimpangan demokrasi, melainkan sebagai logika pembentukan identitas politik itu sendiri. Menurut Laclau, demagog populis merangkai berbagai tuntutan sosial yang berbeda-beda, seperti kekecewaan ekonomi, kegelisahan identitas, dan ketidakpuasan terhadap birokrasi, menjadi satu rantai ekuivalensi (chain of equivalence) yang disatukan oleh penanda kosong (empty signifier), biasanya berupa jargon atau slogan yang bisa dimaknai bebas oleh masing-masing pendukung.
Pidato yang nyeleneh dan provokatif berfungsi sebagai penanda tersebut. Ia tidak perlu koheren secara substantif, karena tugasnya bukan menjelaskan kebijakan, melainkan mengonsolidasikan front emosional “kami” melawan “mereka”. Semakin kontroversial pernyataannya, semakin kuat pula ia menegaskan batas antara pendukung setia dan musuh yang dianggap tidak memahami aspirasi rakyat.
Politik Pasca-Kebenaran dan Sikap Bersikukuh
Sikap bersikukuh tanpa mengindahkan kritik juga dapat dibaca melalui lensa politik pasca-kebenaran (post-truth politics), sebagaimana dibahas oleh para pemikir kontemporer seperti Jayson Harsin dan juga tercermin dalam kegelisahan Hannah Arendt tentang relasi kebenaran dan kekuasaan. Dalam iklim pasca-kebenaran, daya tarik emosional dan keyakinan personal lebih berpengaruh terhadap opini publik ketimbang fakta objektif.
Demagog memahami betul dinamika ini, mereka tidak perlu memenangkan perdebatan substantif, cukup memenangkan pertarungan naratif di ruang publik digital. Algoritma media sosial yang mengganjar konten emosional dan polarisasi turut memperkuat pola ini. Ruang gaung (echo chamber) membuat basis pendukung semakin jarang terpapar kritik yang berimbang, sehingga sikap keras kepala sang tokoh justru dibaca sebagai ketegasan dan keberanian melawan arus, bukan sebagai keengganan mendengar.
Kultus Personalitas dan Erosi Akuntabilitas Demokratis
Jan-Werner Muller dalam What Is Populism? (2016) menambahkan dimensi penting lainnya. Klaim moralistik demagog populis bahwa dirinya adalah representasi tunggal dan otentik dari rakyat secara inheren bersifat anti-pluralis. Konsekuensinya, mekanisme checks and balances, kritik pers, maupun evaluasi publik yang lazim dalam demokrasi deliberatif justru diperlakukan sebagai gangguan yang harus dilawan, bukan sebagai bagian sah dari proses politik yang sehat.
Ketika pola ini dibiarkan berkembang, yang terjadi bukan sekadar persoalan etika komunikasi publik, melainkan erosi bertahap terhadap akuntabilitas demokratis itu sendiri. Ruang publik yang semestinya menjadi arena adu gagasan berubah menjadi panggung pertunjukan emosi, sementara substansi kebijakan tergerus di baliknya.
Tanggung Jawab Publik yang Kritis
Fenomena politisi demagog yang gemar berpidato nyeleneh dan provokatif, lalu bersikukuh menghadapi kritik, bukanlah anomali yang berdiri sendiri. Ia adalah produk dari pertautan antara logika populisme ideasional, konstruksi wacana identitas ala Laclau, dan ekosistem informasi pasca-kebenaran yang difasilitasi media sosial. Memahami akar teoretisnya penting agar publik tidak terjebak semata pada penilaian moral personal terhadap sang tokoh, melainkan mampu membaca pola struktural yang membuat demagogi terus berulang dalam sejarah politik.
Pada akhirnya, benteng paling efektif terhadap demagogi bukanlah sensor atau pembungkaman, melainkan literasi politik yang kuat, jurnalisme independen yang tak gentar, serta kesediaan publik untuk tetap menuntut argumen rasional di tengah gemuruh retorika emosional.

