Parkir Liar di Minimarket: Belanja Sebentar, Bayar Parkir

Saya adalah mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Helmy Hartanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita pergi ke minimarket hanya untuk membeli beberapa barang, tetapi justru harus mengeluarkan uang tambahan untuk parkir? Kelihatannya sepele, tetapi jika terus terjadi, hal ini bisa menjadi keresahan bagi masyarakat.
Parkir liar di sekitar minimarket bukan lagi pemandangan yang asing. Di sejumlah tempat, pengunjung kerap diminta membayar parkir meskipun hanya berbelanja sebentar. Situasi ini menimbulkan pertanyaan sederhana: apakah setiap pungutan parkir yang kita temui memang memiliki dasar dan pengelolaan yang jelas?
Bukan soal nominal, tetapi kejelasan
Bagi sebagian orang, membayar parkir mungkin bukan masalah besar. Namun, persoalannya bukan sekadar uang Rp2.000 atau Rp5.000 yang dikeluarkan, melainkan kejelasan atas pungutan tersebut.
Masyarakat berhak mengetahui apakah parkir dikelola secara resmi, berapa tarif yang berlaku, dan siapa yang bertanggung jawab jika terjadi kehilangan atau kerusakan kendaraan. Ketika hal-hal tersebut tidak jelas, pengunjung bisa merasa tidak nyaman, bahkan terpaksa membayar karena khawatir menghadapi konflik.
Kondisi ini juga berpotensi merugikan minimarket. Pelanggan yang merasa terganggu mungkin memilih berbelanja di tempat lain. Ironisnya, minimarket bisa mendapatkan citra buruk akibat persoalan parkir yang belum tentu berada sepenuhnya dalam kendali mereka.
Mengapa terus dibiarkan?
Parkir liar tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan antara pengunjung dan juru parkir. Ada persoalan pengawasan, ketertiban, dan penegakan aturan yang perlu diperhatikan.
Pemerintah daerah perlu memastikan pengelolaan parkir berjalan sesuai ketentuan dan menindak praktik pungutan yang tidak memiliki dasar. Pengelola minimarket juga perlu memperjelas status area parkir serta menyediakan informasi yang mudah dipahami pelanggan.
Di sisi lain, masyarakat perlu memiliki saluran pengaduan yang mudah diakses ketika menemukan pungutan yang mencurigakan. Dengan begitu, persoalan ini tidak terus dianggap sebagai sesuatu yang wajar hanya karena sering terjadi.
Jangan menormalisasi parkir liar
Pada akhirnya, pergi ke minimarket seharusnya menjadi aktivitas sederhana: datang, membeli kebutuhan, membayar belanjaan, lalu pulang. Masyarakat tidak semestinya merasa terbebani oleh pungutan parkir yang tidak jelas.
Kita mungkin menganggap nominalnya kecil dan memilih untuk tidak mempermasalahkannya. Namun, jika praktik tersebut terus dibiarkan, kebiasaan membayar tanpa kejelasan justru akan semakin dinormalisasi.
Persoalannya bukan tentang enggan membayar parkir, melainkan tentang hak masyarakat untuk mendapatkan pelayanan yang jelas, lingkungan yang tertib, dan aturan yang ditegakkan secara konsisten.
Sebab, sesuatu yang sering terjadi belum tentu sesuatu yang seharusnya dianggap wajar.
