Porang, Si Umbi Ajaib: Sahabat Baru bagi Penderita Diabetes?

Parlan, S.TP., M.TP adalah seorang dosen dan peneliti di bidang Teknologi Pangan UNPAD yang memiliki keahlian dalam Research and Development produk pangan, khususnya dalam formulasi produk kering (powder), bioteknologi pangan, dan rekayasa proses.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Parlan MTP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh: PARLAN

Dari Umbi Terlupakan Menjadi Bintang Baru Pangan Fungsional
Di tengah desakan global akan pola makan sehat dan alami, porang kini mencuat sebagai bahan pangan fungsional yang menjanjikan. Porang (Amorphophallus oncophyllus) adalah tanaman umbi-umbian asli Indonesia yang dulunya sering diabaikan. Kini, porang tak lagi sekadar tanaman liar---ia dipandang sebagai sumber glucomannan, serat pangan alami dengan segudang manfaat, terutama bagi penderita diabetes.
Asal Usul dan Sentra Produksi Porang
Porang tumbuh subur di daerah tropis dengan tanah gembur dan teduh. Di Indonesia, porang telah lama dikenal masyarakat pedesaan, khususnya di Pulau Jawa, sebagai bahan olahan tradisional. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, perhatian terhadap tanaman ini meningkat pesat, baik di sektor pertanian maupun industri pangan dan ekspor.
Beberapa daerah penghasil utama porang di Indonesia antara lain:
Madiun (Jawa Timur) -- dikenal sebagai sentra budidaya dan pengolahan porang
Wonogiri dan Pacitan (Jawa Tengah)
Pasaman (Sumatra Barat)
Luwu (Sulawesi Selatan)
Menurut data Kementerian Pertanian (2023), luas lahan tanam porang nasional mencapai 59.000 hektar dengan produksi mencapai 310.000 ton/tahun. Angka ini terus bertumbuh, seiring permintaan pasar yang meningkat, terutama dari Jepang, China, dan negara-negara Eropa.
Potensi Ekonomi: Harga Porang Meroket
Permintaan pasar global terhadap glucomannan membuat harga porang ikut melonjak. Di tingkat petani, harga umbi porang segar berkisar antara Rp 5.000 -- Rp 9.000 per kg. Sedangkan setelah diolah menjadi chips atau tepung kering, harganya bisa mencapai Rp 50.000 -- Rp 80.000 per kg.
Lebih menarik lagi, harga ekspor porang ke Jepang dan Tiongkok dalam bentuk tepung atau konnyaku flour bisa mencapai USD 7 -- 9 per kg, tergantung kadar kemurnian glucomannan. Nilai ini membuka peluang besar bagi petani dan UMKM pengolahan porang lokal untuk naik kelas ke pasar global.
Glucomannan: Serat Cerdas Penurun Gula Darah
Salah satu komponen utama dalam umbi porang adalah glucomannan, serat larut air yang tidak dapat dicerna enzim pencernaan manusia. Serat ini membentuk gel kental dalam lambung, memperlambat pengosongan lambung, dan menghambat penyerapan glukosa---mekanisme yang sangat relevan untuk penderita diabetes tipe 2.
Penelitian Sudjarwo et al. (2024) menunjukkan bahwa pemberian tepung porang standar glucomannan kepada tikus diabetes dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan dalam waktu 13 hari pada dosis 250 mg/kg berat badan. Yang menarik, uji toksisitas hingga dosis 5000 mg/kg tidak menimbulkan efek kematian pada tikus uji, menandakan bahwa tepung porang aman dikonsumsi. Penelitian lain oleh Hu et al. (2025) menguatkan bahwa glucomannan juga memiliki efek antioksidan, prebiotik, serta sifat menurunkan kolesterol, menjadikannya kandidat unggul untuk pengembangan pangan fungsional dan bahkan farmasi.
Dari Laboratorium ke Piring Kita
Dengan berbagai sifat unggul tersebut, glucomannan dari porang bisa diolah menjadi produk pangan yang menarik dan sehat, seperti:
Mie rendah kalori (mirip shirataki Jepang)
Minuman serat fungsional
Pengganti tepung dalam kue untuk penderita diabetes
Agen pengental pada sup dan saus sehat
Namun, pengolahan porang tidak bisa sembarangan. Umbi mentahnya mengandung kalsium oksalat yang dapat menyebabkan iritasi atau bahkan toksisitas jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Oleh karena itu, standarisasi dan pemrosesan higienis sangat diperlukan, termasuk pemanasan, perendaman, dan pengeringan dengan teknik tertentu agar aman dan layak konsumsi.
Porang, Solusi Lokal untuk Masalah Global
Di saat dunia sedang mencari pangan yang sehat, rendah kalori, dan kaya manfaat, porang tampil sebagai jawaban yang bersumber dari tanah sendiri. Potensinya tidak hanya menyehatkan masyarakat, tetapi juga mengangkat kesejahteraan petani dan pelaku usaha kecil di daerah. Sudah waktunya porang tidak hanya dilihat sebagai komoditas ekspor mentah. Dengan dukungan riset, edukasi, dan hilirisasi produk, porang bisa menjadi bagian dari revolusi pangan sehat Indonesia---dari desa, untuk dunia.
Sumber Rujukan
Sudjarwo, S., Rofiq, R., Eka, P.A., et al. (2024). Glucomannan powder can be used as a food substitute for people with diabetes mellitus. Food Research, 8(4), 25--30. https://doi.org/10.26656/fr.2017.8(4).361
Hu, Q., Huang, G., & Huang, H. (2025). Extraction, structure, activity and application of konjac glucomannan. Ultrasonics Sonochemistry, 116, 107315. https://doi.org/10.1016/j.ultsonch.2025.107315
Kementerian Pertanian RI (2023). Outlook Komoditas Porang 2023. Jakarta: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.
