Kedekatan Emosional Anak Tidak Selalu Terlihat dari Hubungan di Rumah

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Ilma Parma Sakia Daulay tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak sedikit anak yang terlihat lebih dekat dengan tante, om, nenek, atau orang lain di sekitarnya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Setiap bertemu langsung ingin digendong, terus mengikuti ke mana pun pergi, bahkan terkadang lebih mudah menurut pada orang lain daripada pada ibunya sendiri. Situasi seperti ini sering dianggap lucu atau sekadar fase biasa, padahal di balik itu ada hal yang mungkin perlu diperhatikan lebih dalam.
Di satu sisi, kedekatan tersebut memang terasa menyenangkan. Ada rasa senang ketika anak merasa nyaman dan percaya pada kita. Namun di sisi lain, ada tanggung jawab emosional yang tanpa sadar ikut terbentuk. Mengurus anak, meskipun hanya membantu sesekali, tetap membutuhkan tenaga, kesabaran, dan kesiapan yang tidak sedikit.
Sering kali anak menjadi sangat dekat dengan seseorang karena merasa mendapatkan perhatian yang konsisten. Anak cenderung nyaman dengan orang yang responsif terhadap keinginannya, sering menemani, dan memberikan rasa aman. Ketika bersama keluarga lain, suasana juga biasanya terasa lebih santai. Permintaan lebih sering dituruti dan aturan tidak seketat di rumah. Tanpa disadari, hal-hal kecil seperti ini bisa membuat anak merasa lebih “betah” dengan orang lain.
Namun, kedekatan emosional anak tidak selalu berarti hubungan di rumah buruk. Ada banyak faktor yang memengaruhi kenyamanan anak, mulai dari waktu kebersamaan, pola komunikasi, hingga kebiasaan sehari-hari. Karena itu, situasi seperti ini sebaiknya tidak langsung dijadikan alasan untuk menyalahkan orang tua maupun pihak lain yang dekat dengan anak.
Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangannya. Membantu menjaga, menemani, dan menyayangi anak tentu bukan hal yang salah. Akan tetapi, jika semua keinginan anak selalu dituruti hanya karena merasa tidak tega, anak bisa mulai bergantung secara berlebihan. Dalam jangka panjang, hal ini justru dapat membuat anak lebih sulit memahami batasan dan aturan yang diberikan orang tuanya sendiri.
Di sisi lain, orang tua juga membutuhkan ruang untuk membangun kedekatan emosional dengan anaknya. Kedekatan itu tidak selalu hadir dari hadiah atau perhatian besar, tetapi dari kehadiran yang konsisten dan rasa aman yang dibangun setiap hari. Anak yang merasa didengar dan diperhatikan perlahan akan lebih mudah terbuka kepada orang tuanya sendiri.
Pada akhirnya, membantu merawat anak adalah bentuk kepedulian yang baik, tetapi tetap perlu disertai batas yang sehat. Tujuannya bukan membuat anak lebih bergantung kepada orang lain, melainkan membantu anak tumbuh dengan rasa aman, mandiri, dan tetap memiliki kedekatan yang kuat dengan keluarganya sendiri.
