Kenapa Mahasiswa Sering Menunda Tugas, Padahal Tahu Deadline?

Mahasiswa Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ilma Parma Sakia Daulay tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menunda tugas adalah kebiasaan yang sangat akrab dengan kehidupan mahasiswa. Hampir setiap mahasiswa pernah berada di situasi di mana tugas sudah diberikan sejak lama, deadline sudah jelas, bahkan pengingat dari dosen sudah berulang kali disampaikan, namun tugas tetap dikerjakan di detik-detik terakhir. Fenomena ini terjadi bukan karena mahasiswa tidak tahu kewajibannya, melainkan karena adanya dorongan psikologis yang membuat menunda terasa lebih nyaman dibandingkan memulai.
Salah satu penyebab utama mahasiswa menunda tugas adalah cara mereka memandang waktu. Ketika deadline masih terasa jauh, tugas tersebut dianggap belum mendesak dan mudah untuk disisihkan. Otak manusia cenderung memilih aktivitas yang memberikan kesenangan instan dibandingkan pekerjaan yang manfaatnya baru terasa di kemudian hari. Akibatnya, tugas akademik kalah bersaing dengan hiburan, media sosial, atau aktivitas santai lainnya, meskipun konsekuensi dari penundaan tersebut sudah dipahami.
Selain itu, rasa takut untuk memulai juga sering menjadi alasan tersembunyi. Banyak mahasiswa menunda bukan karena malas, tetapi karena khawatir hasil pekerjaannya tidak sesuai harapan. Ketakutan akan kesalahan dan keinginan untuk menghasilkan tugas yang sempurna justru membuat langkah awal terasa semakin berat. Mereka menunggu “waktu yang tepat” atau “ide yang benar-benar matang”, padahal tanpa memulai, ide tersebut tidak akan pernah berkembang.
Beban tugas yang terasa besar dan rumit juga turut memperkuat kebiasaan menunda. Ketika sebuah tugas terlihat terlalu kompleks, otak secara alami merespons dengan menghindar untuk menyelamatkan diri dari stres. Penundaan menjadi cara sementara untuk mengurangi tekanan, walaupun pada akhirnya justru menciptakan stres yang lebih besar ketika deadline semakin dekat.
Di sisi lain, kurangnya kemampuan mengatur waktu membuat mahasiswa kesulitan menentukan prioritas. Jadwal kuliah yang padat, aktivitas organisasi, pekerjaan sampingan, dan kehidupan sosial sering kali bercampur tanpa perencanaan yang jelas. Akibatnya, tugas akademik terus berada di posisi terakhir hingga akhirnya hanya tersisa sedikit waktu untuk menyelesaikannya.
Kebiasaan menunda juga diperkuat oleh pengalaman masa lalu, terutama ketika mahasiswa pernah berhasil menyelesaikan tugas dengan sistem kebut semalam. Keberhasilan tersebut menciptakan rasa percaya diri palsu bahwa cara tersebut selalu efektif. Padahal, kebiasaan ini perlahan menurunkan kualitas pekerjaan, meningkatkan kelelahan mental, dan membuat stres menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses belajar.
Kurangnya motivasi dan pemahaman terhadap tujuan tugas juga berperan besar. Ketika tugas hanya dianggap sebagai kewajiban formal tanpa makna, dorongan untuk mengerjakannya menjadi lemah. Sebaliknya, mahasiswa yang memahami manfaat tugas bagi pengembangan diri cenderung lebih mampu melawan keinginan untuk menunda.
Pada akhirnya, menunda tugas bukan sekadar persoalan malas, melainkan gabungan dari faktor psikologis, manajemen waktu, dan tekanan akademik. Dengan memahami penyebab di balik kebiasaan ini, mahasiswa dapat mulai mengubah cara pandang terhadap tugas dan deadline. Memulai dari langkah kecil dan konsisten sering kali jauh lebih efektif daripada menunggu momen yang dianggap sempurna.
