Konten dari Pengguna

AI Bukan Hanya untuk Startup: Cara UMKM Naikkan Omzet Menggunakan AI

Pasha Kusuma mahardika

Pasha Kusuma mahardika

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pasha Kusuma mahardika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bisakah UMKM Memanfaatkan AI?

Dulu, setiap kali saya mendengar istilah artificial intelligence (AI), saya langsung membayangkan perusahaan besar dengan kantor modern, tim IT, dan perangkat canggih. Namun, anggapan itu mulai berubah ketika melihat banyak pemilik UMKM menggunakan AI hanya dari ponsel mereka. Dengan tools seperti ChatGPT, Canva AI, dan aplikasi kasir digital, pekerjaan yang biasanya memakan waktu lama bisa diselesaikan dengan lebih cepat.

Bagi pemilik usaha kecil, membuat konten sering kali menjadi tantangan tersendiri. Setelah sibuk melayani pelanggan, mengurus stok, dan mencatat pemasukan, rasanya sulit mencari waktu untuk memikirkan ide promosi. AI bisa membantu membuat ide konten, caption, desain poster, hingga naskah video. Misalnya, pemilik usaha kuliner cukup menuliskan jenis makanan dan target pelanggannya, lalu meminta AI menyusun ide promosi untuk satu minggu.

Masalah lain yang sering dialami UMKM adalah pelanggan yang pergi karena sangat lama nunggu dibalas. Pertanyaan seperti “Berapa harganya?”, “Apakah masih tersedia?”, atau “Bagaimana cara memesannya?” selalu muncul berkali-kali dalam sehari. Dengan fitur auto-reply di WhatsApp Business, marketplace, atau Instagram, pertanyaan dasar dapat dijawab lebih cepat. Pemilik usaha pun bisa menggunakan waktunya untuk menangani pesanan dan membangun hubungan dengan pelanggan.

seorang pelaku UMKM melihat tablet dengan dashboard analitik AI. sumber: AI

AI juga bisa membantu pemilik UMKM memahami data penjualan. Selama ini, banyak orang hanya mengandalkan perkiraan ketika menentukan produk yang harus ditambah atau dikurangi. Padahal, dari catatan penjualan, kita dapat mengetahui produk yang paling laku, waktu transaksi paling ramai, dan barang yang terlalu lama tersimpan. Data tersebut dapat diolah menggunakan aplikasi kasir digital, spreadsheet, atau fitur analitik marketplace.

Bayangin seorang pemilik toko menemukan bahwa sebagian besar omzetnya berasal dari beberapa produk tertentu. Setelah mengetahui hal itu, ia dapat memusatkan promosi pada produk tersebut dan mengurangi pembelian barang yang kurang diminati. Keputusan seperti ini terlihat sederhana, tetapi bisa sangat ngebantu mengurangi modal yang tertahan di stok sekaligus meningkatkan efisiensi usaha.

Dalam hal iklan, AI juga bekerja di balik layar. Platform seperti Meta Ads, TikTok Ads, dan Google Ads menggunakan teknologi AI untuk membantu menentukan target audiens, mengatur anggaran, serta membandingkan performa beberapa iklan. Pemilik UMKM tidak perlu langsung mengeluarkan biaya besar. Ia bisa mencoba beberapa versi iklan dengan anggaran kecil, kemudian melihat iklan mana yang paling banyak menghasilkan pesanan.

Selain membantu meningkatkan penjualan, AI dapat meringankan pekerjaan administratif. Rekap pesanan, pembuatan invoice, pengingat pembayaran, hingga rangkuman percakapan dengan tim bisa dilakukan dengan bantuan berbagai tools digital. Waktu yang sebelumnya habis untuk pekerjaan berulang dapat dialihkan untuk mencari pemasok yang lebih baik, mengembangkan produk, atau melayani pelanggan dengan lebih baik.

Walau begitu, menggunakan AI bukan berarti menyerahkan seluruh keputusan bisnis kepada mesin. Pemilik usaha tetap perlu memeriksa hasil yang dibuat AI, menjaga keamanan data pelanggan, dan menyesuaikan setiap rekomendasi dengan kondisi bisnisnya. Jadi, tidak perlu menunggu sampai memiliki modal besar atau tim khusus. Cukup mulai dari satu masalah kecil, seperti membuat konten atau membalas pesan pelanggan, lalu lihat apakah AI benar-benar membantu usaha menjadi lebih cepat, hemat, dan menghasilkan lebih banyak.