Konten dari Pengguna

IPB University dan Bapperida Sukabumi Latih Petani Tingkatkan Produktivitas

Pathology News

Pathology News

Berita seputar Kehutanan

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pathology News tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto Bersama Peserta Kegiatan Pelatihan Terpadu Living Lab BIOMIC. Foto: Dok. Pribadi/MAH
zoom-in-whitePerbesar
Foto Bersama Peserta Kegiatan Pelatihan Terpadu Living Lab BIOMIC. Foto: Dok. Pribadi/MAH

SUKABUMI – IPB University bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sukabumi menggelar pelatihan pembuatan pupuk hayati dan budidaya tanaman jagung pada 14–15 Agustus 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Living Lab Biomic tersebut berlangsung di Kantor Bapperida Kabupaten Sukabumi dan lahan demplot. Peserta pelatihan terdiri atas anggota Kelompok Tani Tumaritis Triloka, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), serta Tim Riset Bapperida Kabupaten Sukabumi.

Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah (Litbang) Bapperida Kabupaten Sukabumi, Elis Siti Aisah, SE., M.Ec.Dev., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama riset antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi.

Menurut Elis, pengembangan teknologi pertanian tidak hanya perlu diarahkan pada aspek produksi, tetapi juga perlu memperhatikan keberlanjutan pemanfaatan dan pemasaran produk yang dihasilkan.

“Sinergi ini penting untuk meningkatkan kapasitas teknis petani sekaligus mendorong pemanfaatan pupuk hayati Biomic agar dapat diterapkan lebih luas,” ujar Elis.

Ketua Program Bestari Saintek 2026, Dr. Yunik Istikorini, S.P., M.P., mengatakan pelatihan tersebut merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang membahas pembuatan biochar dan bioenzim.

Para Peserta Antusias Mengikuti Praktik Laboratorium Intensif. Foto: Dok. Pribadi/MAH

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dan praktik laboratorium intensif bersama jajaran pakar IPB University. Pada sesi pertama yang dipandu oleh Lufthi Rusniarsyah, S.P., M.Si. selaku moderator, Dr. Fitrianingrum Kurniawati, S.P., M.Si., dan Siti Ropikoh, S.P., membimbing para peserta dalam pembuatan media serta isolasi mikroba fungsional (Trichoderma sp. dan Bacillus sp.). Pelatihan ini dilaksanakan di Laboratorium Bapperida dengan mengoptimalkan penggunaan fasilitas laminar air flow (LAF) dan autoklaf yang diperoleh dari pendanaan Program Bestari Saintek 2026.

Hari kedua pelatihan difokuskan pada penguatan teknik budidaya jagung secara langsung di lahan demplot. Pada sesi ini, Prof. Dr. Arief Hartono, M.Sc.Agr. memaparkan materi krusial mengenai pentingnya pengambilan sampel serta analisis hara tanah dasar sebelum masa tanam dimulai.

Sementara itu, Dr. Siti Marwiyah, S.P., M.Si., memberikan arahan strategis terkait takaran dosis pupuk yang presisi serta penanganan fase kritis pada tanaman jagung. Teori tersebut langsung diaktualisasikan oleh peserta melalui praktik lapangan berupa pengambilan sampel tanah serta pembuatan layout dan rancangan percobaan demplot (trial design).

Peninjauan Lokasi Produksi Mandiri Kelompok Tani Tumaritis Triloka. Foto: Dok. Pribadi/MAH

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan kunjungan ke lokasi produksi sarana pertanian yang dikelola Kelompok Tani Tumaritis Triloka.

Di lokasi tersebut, tim IPB University dan Bapperida melihat proses pengolahan limbah pertanian yang dilakukan secara mandiri oleh kelompok tani. Bahan yang digunakan antara lain bonggol jagung yang diolah menjadi biochar.

Kelompok tani tersebut saat ini telah menghasilkan sekitar tiga drum bioenzim dan 12 karung biochar. Produksi dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar.

Menurut perwakilan kelompok tani, kegiatan pelatihan dan pendampingan memberikan tambahan pengetahuan mengenai pemanfaatan limbah pertanian serta pembuatan sarana produksi secara mandiri. Penerapan teknologi di lahan juga dilakukan dengan pendampingan dari PPL.

Yunik mengatakan pemanfaatan limbah pertanian menjadi biochar dan bioenzim dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung penyediaan bahan untuk kegiatan budidaya.

“Pemanfaatan bonggol jagung menjadi biochar dan pembuatan bioenzim secara mandiri merupakan salah satu bentuk pemanfaatan bahan baku lokal,” ujarnya.

Kegiatan pelatihan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengembangan Living Lab Biomic di Kabupaten Sukabumi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh, dan kelompok tani.