Berhenti Pura-Pura Kuat, Orang Tua Juga Boleh Lelah

Saya Patra Joanathan mahasiswa aktif dari Universitas Bunda Mulia program studi ilmu komunikasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Patra Joanathan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada momen yang ga pernah diceritain di feed Instagram siapapun. Momen waktu pintu kamar udah dikunci, anak udah tidur, dan orang tua akhirnya boleh nangis sepuasnya. Sendirian. Diem-diem. Karena siang tadi udah terlalu banyak yang harus dikuatin. Kelelahan itu nyata. Dan anehnya, justru orang tua yang paling berdedikasi sering yang paling enggan ngakuinnya.
Kenapa Kita Susah Bilang "Aku Capek" Budaya kita punya ekspektasi tinggi soal jadi orang tua. Ibu yang baik harus sabar. Ayah yang baik harus kuat. Kombinasi keduanya harus selalu punya jawaban, selalu punya energi, selalu tersenyum meski dalam hati udah retak.
Dr. Kristin Neff, peneliti self-compassion dari University of Texas, bertahun-tahun meneliti kenapa manusia lebih gampang berbelas kasih ke orang lain dibanding ke diri sendiri. Hasilnya konsisten, orang tua adalah kelompok yang paling keras menghakimi diri sendiri ketika merasa gagal atau lelah. Padahal kelelahan bukan tanda kelemahan. Itu tanda kamu udah berjuang terlalu lama tanpa jeda.
Yang Terjadi Kalau Kelelahan Diabaikan Terus Ini bagian yang perlu didengar baik-baik.
Orang tua yang kelelahan kronis cenderung lebih reaktif, lebih gampang meledak hal kecil, dan tanpa sadar mulai menjauh secara emosional dari anak. Bukan karena ga cinta, justru karena cintanya udah terkuras habis tanpa pernah diisi ulang.
Anak-anak, bahkan yang masih sangat kecil, merasakan itu. Mereka ga butuh orang tua yang sempurna. Tapi mereka sangat butuh orang tua yang hadir secara emosional. Dan kehadiran itu mustahil kalau tangki kamu udah kosong melompong.
Izin untuk Tidak Baik-Baik Saja Di Special Harmony School, ada sesuatu yang mungkin terdengar sederhana tapi sebenernya cukup langka, orang tua diajak ikut dalam proses. Bukan cuma dititipin anak lalu pulang. Mereka percaya bahwa pengasuhan itu kerja tim, dan tim yang kelelahan perlu istirahat, perlu didengar, perlu ruang untuk jujur.
Parenting support bukan kemewahan. Itu kebutuhan.
Sama kayak anak yang butuh terapi untuk berkembang, orang tua juga butuh tempat untuk menurunkan beban. Ngobrol sama konselor, gabung komunitas sesama orang tua, atau sekadar denger dari orang yang paham bahwa perjalanan ini memang berat.
Lelah Bukan Berarti Gagal Ini yang paling penting dan sering paling susah diterima. Kamu boleh lelah. Kamu boleh nangis. Kamu boleh bilang "hari ini aku ga kuat" tanpa itu berarti kamu orang tua yang buruk. Justru sebaliknya, yang paling tulus mencintai anaknya adalah yang berani jujur soal batasnya sendiri.
Anak istimewa ga butuh pahlawan super. Mereka butuh manusia yang nyata, yang jatuh lalu bangkit, yang capek lalu pulih, yang jujur lalu tetap bertahan. Dan bertahan, dengan segala ketidaksempurnaannya, sudah lebih dari cukup.
