Konten dari Pengguna

Bolaang Mongondow dan Gagasan Tugu Perang Celebes Utara

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Patra Mokoginta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap daerah memiliki cara untuk mengingat masa lalunya. Ada yang menjaga melalui cerita rakyat, ada yang merawat melalui arsip, dan ada pula yang membangun monumen agar generasi berikutnya dapat melihat langsung jejak perjuangan para pendahulunya.

Namun sebuah pertanyaan patut diajukan: mengapa Perang Celebes Utara (1680–1682), salah satu konflik terbesar dalam sejarah kawasan utara Sulawesi, hingga kini belum memiliki sebuah monumen yang menjadi penanda sejarahnya?

Gambar ilustrasi Tugu Peringatan Perang Celebes Utara di Solimandungan. (Sumber gambar: Ilustrasi AI karya Patra Mokoginta/Penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi Tugu Peringatan Perang Celebes Utara di Solimandungan. (Sumber gambar: Ilustrasi AI karya Patra Mokoginta/Penulis)

Perang Celebes Utara bukan sekadar catatan tentang benturan antara kekuatan lokal dan VOC. Ia adalah kisah tentang bagaimana masyarakat dari berbagai wilayah di Celebes Utara bersatu mempertahankan tanah, kehormatan, dan kedaulatannya.

Francois Valentijn (1724) sebagaimana dikutip oleh Mokoginta dalam buku Mukadimah Celebes Utara mendokumentasikan peristiwa bersejarah ini. Ia menyebut ini “oorlog en bijden mede-opstand dezer Noord-Celebische volkeren” yang artinya “Perang dan Pemberontakan umum Rakyat Celebes Utara". Perang besar yang dipimpin oleh Datoe Binangkang yang oleh VOC dicatat dengan nama Loloda Mocoago (Loloda Mokoagow).

Salah satu tempat yang menjadi saksi penting dari peristiwa itu adalah Solimandungan. Nama tempat ini bukan hanya bagian dari peta wilayah, tetapi juga menyimpan ingatan tentang peperangan besar yang pernah mengguncang kawasan Sulawesi khususnya Bolaang Mongondow. Di tempat inilah terjadi perlawanan rakyat terhadap ekspansi VOC, hingga akhirnya permukiman dibakar sebagai bagian dari strategi perang kolonial.

Dari peristiwa itu, muncul satu pesan sejarah yang masih relevan hingga hari ini: bahwa tanah leluhur selalu memiliki nilai yang harus dijaga.

Jika suatu saat berdiri Tugu Perang Celebes Utara, monumen tersebut bukan hanya untuk mengenang sosok Datoe Binangkang, atau yang dalam sumber Belanda disebut sebagai "Koning van Boelang en Manado" (Raja Bolaang dan Manado) dan dijuluki "Een Oorlogszuchtig Vorst" (raja yang gemar berperang). Lebih dari itu, tugu tersebut harus menjadi penghormatan bagi seluruh rakyat yang terlibat dalam perjuangan besar tersebut.

Perang Celebes Utara memperlihatkan adanya persatuan dari berbagai kekuatan lokal, yaitu Mongondow, Bantik, Ponosakan, Passan, Ratahan, Tonsawang dan suku suku lainnya. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki kepentingan yang sama: mempertahankan ruang hidup dan kehormatan mereka dari kekuatan asing.

Karena itu, Tugu Perang Celebes Utara tidak seharusnya dipandang hanya sebagai bangunan fisik. Ia dapat menjadi ruang pendidikan sejarah, tempat generasi muda mengenal perjuangan leluhurnya, sekaligus menjadi destinasi wisata budaya yang memperkenalkan sejarah panjang Celebes Utara kepada masyarakat luas.

Bolaang Mongondow Raya memiliki banyak kisah besar yang belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam ingatan publik. Padahal sejarah bukan hanya milik buku dan ruang akademik. Sejarah juga perlu hadir di ruang publik agar dapat dilihat, dipelajari, dan diwariskan.

Gagasan pembangunan Tugu Monumental Perang Celebes Utara di Solimandungan tentu membutuhkan kerja bersama. Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow, pemerintah daerah se-Bolaang Mongondow Raya, tokoh adat, akademisi, budayawan, serta masyarakat dapat menjadikannya sebagai proyek kebudayaan yang merekatkan identitas bersama.

Sebuah monumen tidak akan mengubah masa lalu. Tetapi sebuah monumen dapat memastikan bahwa masa lalu tidak dilupakan.

Gagasan ini berangkat dari kajian sejarah yang dihimpun dalam buku Mukadimah Celebes Utara karya Patra Mokoginta. Buku ini walau mengulas sejarah Sulawesi Utara dan Maluku Utara abad ke-14 hingga abad ke-17 namun Mukadimah Celebes Utara satu satunya buku sejarah yang mengulas perang Celebes Utara yang merupakan perang terbesar di daratan Sulawesi sesudah perang Makassar melawan penjajahan Belanda.

Kita tahu bersama bahwa menghargai perjuangan para pendahulunya tidak hanya menjaga kenangan, tetapi juga membangun identitas untuk masa depan.

Kini pertanyaannya kembali kepada kita: apakah sudah saatnya Sulawesi Utara khususnya Solimandungan, Bolaang Mongondow memiliki Tugu Perang Celebes Utara sebagai simbol perjuangan, persatuan, dan kebanggaan masyarakat Celebes Utara?