Konten dari Pengguna

Pumpun dan Makna "Cukup" Menjelang Lebaran

Patra Mokoginta

Patra Mokoginta

Patra Mokoginta adalah penulis buku Mukadimah Celebes Utara. Warga Kotamobagu yang menaruh perhatian pada sejarah, budaya, pemekaran wilayah, dan dinamika pembangunan di Bolaang Mongondow Raya.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Patra Mokoginta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kotamobagu, Salah satu lokasi pumpun di BMR. Sumber foto koleksi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Kotamobagu, Salah satu lokasi pumpun di BMR. Sumber foto koleksi penulis

Dari desa-desa kaya sumber daya, orang bergerak ke mall menjelang Idul Fitri—membawa harapan yang sama, tapi tidak selalu pulang dengan rasa “cukup”.

Menjelang Lebaran, tradisi pumpun kembali menggerakkan masyarakat di Bolaang Mongondow Raya. Dari desa ke pusat perbelanjaan, pergerakan ini bukan sekadar belanja, tetapi juga tentang makna “cukup” di tengah realitas ekonomi daerah.

Kebiasaan itu hampir selalu berulang: orang-orang bergerak ke kota.

Sejak pagi, perjalanan dimulai.

Pumpun dan Dinamika Ekonomi Daerah

Dari desa, dari kebun, dari lokasi-lokasi kerja yang mungkin jauh dari pusat keramaian.

Arah mereka hampir sama—menuju Kotamobagu, atau melanjutkan hingga Manado.

Menuju pusat perbelanjaan, menuju mall, menuju tempat di mana kebutuhan Lebaran bisa ditemukan dalam satu ruang.

Pumpun berasal dari kosakata bahasa Mongondow yang artinya mengangkat jemuran baju namun seiring waktu pumpun berubah makna menjadi belanja menjelang lebaran.

Di permukaan, pumpun hanyalah kegiatan belanja menjelang hari raya.

Namun di dalamnya, ia menyimpan cerita yang lebih dalam—tentang harapan, tentang batas, dan tentang makna “cukup” yang tidak pernah benar-benar sama bagi setiap orang.

Yang Terlihat dan yang Tidak

Di mall dan pusat perbelanjaan, suasana pumpun selalu terasa hidup.

Orang memilih pakaian. Anak-anak mencoba sepatu.

Keranjang belanja terisi perlahan. Antrean kasir memanjang.

Sekilas, semua tampak sama.

Namun jika diperhatikan lebih lama, perbedaannya mulai terasa.

Ada yang membeli tanpa ragu.

Ada yang membandingkan harga dengan cermat.

Ada pula yang akhirnya mengurungkan niat, meletakkan kembali barang yang sempat dipilih.

Perbedaan itu tidak pernah diumumkan,

tapi selalu ada.

Ketika Statistik Menjadi Nyata

Dalam laporan resmi, tingkat kemiskinan di Sulawesi Utara berada di kisaran satu digit.

Angka itu terlihat kecil. Hampir terasa abstrak.

Namun menjelang Lebaran, angka itu seperti menemukan bentuknya.

Ia hadir dalam kalimat-kalimat sederhana:

“yang penting cukup dulu,”

atau

“ini saja yang dibeli, sisanya nanti.”

Di lorong-lorong mall yang terang, statistik tidak lagi menjadi angka.

Ia berubah menjadi pilihan-pilihan kecil—tentang apa yang bisa dibeli, dan apa yang harus ditunda.

Dari Tanah Kaya, ke Pusat Belanja

Sebagian besar uang yang dibelanjakan saat pumpun berasal dari desa.

Dari kebun.

Dari kerja harian.

Dan dari aktivitas tambang yang menjadi denyut ekonomi di banyak wilayah Bolaang Mongondow Raya.

Di sana, kekayaan alam bukan sekadar wacana. Ia nyata, digali, dan diusahakan setiap hari.

Namun ada satu hal yang jarang dibicarakan.

Tidak semua nilai yang dihasilkan benar-benar tinggal di tempat ia berasal.

Sebagian mengalir keluar—melalui rantai distribusi, melalui pasar yang lebih besar, melalui sistem yang tidak selalu memberi ruang yang sama bagi semua.

Ada hari ketika hasil terasa cukup.

Ada hari ketika bahkan tidak cukup untuk menutup kebutuhan.

Dan di titik itu, ironi mulai terasa:

tanah yang kaya tidak selalu berarti kehidupan di atasnya ikut terasa lapang.

Harga dan Pilihan

Setiap menjelang Lebaran, harga-harga cenderung naik.

Ini bukan hal baru, dan hampir semua orang sudah terbiasa.

Yang berbeda adalah bagaimana setiap keluarga meresponsnya.

Bagi sebagian orang, kenaikan harga hanya berarti penyesuaian.

Bagi yang lain, itu berarti pengurangan.

Ada yang tetap membeli seperti rencana awal.

Ada yang memilih lebih sederhana.

Ada pula yang tetap datang ke mall, tetapi pulang dengan lebih sedikit dari yang dibayangkan.

Pumpun, pada titik ini, bukan sekadar tradisi—

melainkan cara setiap orang bernegosiasi dengan realitas.

Tentang “Cukup”

Lebaran sering dibayangkan sebagai momen kelimpahan.

Namun dalam praktiknya, “cukup” tidak pernah punya ukuran yang sama.

Bagi sebagian orang, cukup berarti semua kebutuhan terpenuhi.

Bagi yang lain, cukup adalah tidak harus berutang.

Dan bagi banyak orang, cukup adalah tetap bisa merayakan—meski dengan sederhana.

Di sinilah perbedaan itu menjadi terasa,

meski tidak selalu terlihat.

Cermin yang Datang Setahun Sekali

Pumpun, tanpa banyak disadari, adalah cermin.

Ia memperlihatkan bagaimana ekonomi bekerja dalam bentuk yang paling sederhana:

siapa yang punya ruang untuk memilih,

siapa yang harus menyesuaikan,

dan siapa yang sekadar bertahan.

Di wilayah seperti Bolaang Mongondow Raya—yang dikenal kaya sumber daya—cermin ini terasa lebih jujur.

Karena di balik kekayaan itu, masih ada jarak antara potensi dan kenyataan.

Setiap tahun, perjalanan itu akan terulang.

Orang-orang akan kembali berangkat dari desa menuju kota,

menuju mall, membawa harapan yang hampir sama: ingin merayakan dengan layak.

Namun di sela-sela perjalanan itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam ikut berjalan—

tentang apa arti “cukup”.

Di tanah yang kaya, pertanyaan itu seharusnya sederhana.

Tapi kenyataannya tidak pernah benar-benar demikian.

Dan mungkin, di antara terang lampu mall dan sunyinya tempat-tempat produksi yang jauh dari keramaian,

jawaban itu tidak selalu ditemukan pada apa yang berhasil dibeli—

melainkan pada kesadaran yang pelan-pelan tumbuh:

bahwa rasa cukup bukan hanya soal kemampuan membeli,

tetapi juga tentang seberapa adil ia bisa dirasakan.