Ulang Tahun Bolaang Uki, Kapan Molibagu Punya Hari Jadi Sendiri?

ASN Pemkab Bolaang Mongondow Timur, Penulis dan Peneliti Independen
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Patra Mokoginta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap tanggal 27 Oktober, masyarakat Bolaang Uki memperingati hari jadi daerahnya. Tahun ini, Bolaang Uki genap berusia 177 tahun. Molibagu menjadi pusat perayaan yang tentu memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Bolaang Mongondow Selatan.

Di tengah perayaan itu, saya justru teringat satu pertanyaan: kapan Molibagu merayakan hari jadinya sendiri?
Pertanyaan ini bukan untuk membandingkan Molibagu dengan Bolaang Uki, apalagi mengurangi arti peringatan yang berlangsung setiap tahun. Saya hanya berpikir, ketika kita memperingati hari jadi sebuah daerah, ada hal lain yang menarik untuk ditelusuri, yakni sejarah tempat yang menjadi pusat kehidupan masyarakatnya.
Molibagu bukan tempat yang baru dikenal dalam perjalanan sejarah kawasan ini. Namanya memiliki jejak dalam dokumen lama. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah sebuah dokumen VOC bertanggal 9 Mei 1774.
Dari catatan itulah saya mulai bertanya, apakah selama ini kita sudah cukup jauh menelusuri sejarah Molibagu?
Sejarah Molibagu dalam jejak arsip VOC
Dalam penelusuran dokumen sejarah, saya menemukan nama Malibagoe pada sebuah dokumen VOC bertanggal 9 Mei 1774. Dokumen tersebut merupakan bagian dari arsip Dewan Politik Ternate yang tersimpan di Nationaal Archief, Den Haag, Belanda.
Catatan itu memuat laporan mengenai sebelas perahu besar milik orang Thedong yang terlihat di sekitar Malibagoe, kira-kira sepuluh mil di sebelah timur muara Gorontalo. Informasi tersebut berasal dari laporan perjalanan Burger David Sosche yang berlayar dari Manado menuju Gorontalo.
Bagi saya, catatan ini menarik karena memperlihatkan bahwa nama Malibagoe sudah muncul dalam dokumen tertulis sejak masa VOC. Jika dihitung sampai tahun 2026, dokumen itu telah berusia 252 tahun.
Angka ini tentu perlu dipahami dengan benar. Usia dokumen bukan berarti usia tempat yang dicatat di dalamnya. Saya tidak mengatakan bahwa Molibagu didirikan pada 9 Mei 1774, sebab isi dokumen tersebut tidak membuktikan hal itu.
Yang tercatat adalah nama Malibagoe dalam sebuah laporan. Kapan tempat ini mulai dihuni, sejak kapan namanya digunakan, dan bagaimana kedudukannya dalam perjalanan sejarah kawasan Bolaang Uki, masih memerlukan penelusuran lebih jauh.
Bisa saja Molibagu sudah dikenal jauh sebelum 1774. Bukan tidak mungkin pula terdapat dokumen yang lebih tua, tetapi belum ditemukan dalam penelusuran saya sejauh ini. Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa dokumen tertua yang berhasil ditemukan sekarang merupakan catatan pertama yang pernah ada.
Namun, setidaknya ada satu pijakan yang bisa diperiksa kembali. Nama Malibagoe bukan sekadar cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, melainkan tercatat dalam dokumen dari masa yang cukup jauh dari kehidupan kita sekarang.
Menurut saya, catatan semacam ini tidak seharusnya berhenti sebagai informasi kecil tentang arsip kolonial. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal Molibagu lebih jauh.
Hari jadi tidak cukup ditentukan dari satu catatan
Lalu, apakah 9 Mei bisa dijadikan hari jadi Molibagu?
Saya kira, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan demikian. Tanggal tersebut merupakan tanggal dokumen yang mencatat nama Malibagoe, bukan tanggal yang menerangkan kapan Molibagu didirikan atau mulai berkembang sebagai sebuah permukiman.
Kalau kita ingin membicarakan hari jadi, tentu ada beberapa hal yang perlu diperiksa. Apakah ada catatan yang lebih tua? Bagaimana sejarah terbentuknya permukiman di Molibagu? Adakah tradisi lisan, silsilah, atau catatan pemerintahan yang dapat membantu menjelaskan perjalanan tempat ini?
Sumber-sumber itu perlu dipertemukan. Catatan tertulis bisa dibandingkan dengan ingatan masyarakat, sementara cerita yang diwariskan perlu ditelusuri asal-usul dan konteksnya. Dengan begitu, penentuan hari jadi tidak hanya berdasarkan perkiraan atau tanggal yang kebetulan ditemukan dalam arsip.
Bagi saya, penelitian sejarah bukan soal mencari tanggal untuk segera dirayakan. Yang lebih penting adalah mengetahui peristiwa apa yang menjadi dasar peringatan tersebut.
Bisa jadi dalam penelusuran berikutnya ditemukan dokumen yang lebih tua daripada 1774. Bisa pula ditemukan keterangan tentang suatu peristiwa yang lebih tepat dijadikan dasar penetapan hari jadi. Semua itu perlu diberi ruang untuk diteliti.
Karena itu, saya tidak mengusulkan 9 Mei sebagai hari jadi Molibagu. Saya justru ingin mengajak kita melihat tanggal tersebut sebagai salah satu titik awal untuk menelusuri sejarahnya.
Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, tokoh adat, sejarawan, akademisi, dan masyarakat bisa mulai membicarakan hal ini. Langkah awalnya tidak harus berupa perayaan atau kegiatan seremonial. Mengumpulkan dokumen, mencatat cerita para tetua, dan menyusun kronologi sejarah berdasarkan sumber yang dapat diperiksa sudah merupakan pekerjaan yang berarti.
Kalau kelak ditemukan bukti yang lebih kuat, penentuan hari jadi Molibagu akan memiliki pijakan yang lebih baik. Kalau belum, setidaknya kita mulai mengetahui bagian mana dari sejarahnya yang masih perlu digali.
Merayakan Bolaang Uki, menelusuri Molibagu
Pada peringatan hari jadi Bolaang Uki tahun ini, saya kira pertanyaan tentang Molibagu layak ikut dibicarakan.
Bukan karena keduanya harus memiliki perayaan yang sama, melainkan karena sejarah suatu wilayah dan sejarah tempat-tempat di dalamnya tidak selalu berjalan dalam garis waktu yang sama. Hari jadi pemerintahan atau wilayah administratif belum tentu menunjukkan kapan sebuah permukiman mulai dikenal.
Bolaang Uki memiliki sejarahnya sendiri. Molibagu pun memiliki perjalanan masa lalu yang patut ditelusuri. Keduanya tidak perlu dipertentangkan untuk memberi ruang bagi penelitian sejarah.
Justru melalui momentum perayaan seperti sekarang, kita bisa mulai membuka kembali pertanyaan-pertanyaan lama. Bukan hanya tentang kapan suatu daerah memperingati hari jadinya, tetapi juga bagaimana nama-nama tempat yang kita kenal hari ini muncul dalam catatan sejarah.
Saya membayangkan, suatu saat nanti, pembicaraan tentang Molibagu tidak hanya ramai menjelang perayaan hari jadi Bolaang Uki. Ada penelitian yang terus berjalan, dokumen yang dikumpulkan, cerita para tetua yang dicatat, dan hasil penelusuran yang bisa dibaca oleh generasi berikutnya.
Dengan begitu, sejarah tidak hanya hadir sebagai bagian dari acara peringatan. Ia juga menjadi pengetahuan yang bisa diwariskan.
Jadi, kapan Molibagu punya hari jadi sendiri?
Saya tidak sedang mengajukan tanggal untuk ditetapkan. Catatan VOC bertanggal 9 Mei 1774 yang memuat nama Malibagoe adalah salah satu jejak tertulis yang saya temukan dalam penelusuran sejarah. Dokumen itu memang belum menjawab kapan Molibagu bermula, tetapi cukup menjadi alasan untuk melihat kembali sejarah tempat ini dengan lebih saksama.
Dalam sejarah, satu catatan kadang membawa kita pada pertanyaan lain. Nama yang tercatat pada 1774, misalnya, menyisakan pertanyaan tentang berapa lama nama itu telah dikenal sebelumnya. Jawabannya tentu tidak bisa ditentukan hanya dengan memperkirakan usia sebuah dokumen. Perlu ada sumber lain yang dapat menerangkan perjalanan Molibagu dari masa ke masa.
Pada saat masyarakat Bolaang Uki memperingati hari jadinya yang ke-177, catatan ini menjadi pengingat bagi saya bahwa sejarah sebuah tempat tidak selalu selesai dijelaskan oleh tanggal perayaan yang kita kenal sekarang.
Adapun kapan Molibagu layak memperingati hari jadinya sendiri, jawabannya tetap bergantung pada bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk sementara, nama Malibagoe dalam arsip VOC tahun 1774 menjadi salah satu jejak yang patut dicatat, bukan tanggal pendirian yang bisa langsung ditetapkan.
Tabe’ takin salamat.
