Konten dari Pengguna

PMO VS Masa Depan: Kesenangan Sesaat atau Kehidupan yang Kita Inginkan?

Ilustrasi: Dibuat oleh penulis menggunakan Canva dengan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Dibuat oleh penulis menggunakan Canva dengan bantuan AI

Banyak anak muda di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia termasuk saya memiliki keinginan untuk mewujudkan cita-cita. Ada yang ingin melanjutkan pendidikan, mendapatkan pekerjaan yang baik, membantu keluarga, atau membangun kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Dalam perjalanan mencapai cita-cita, ada banyak hal yang dapat menghambat seseorang. Mulai dari minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan, pergaulan yang tidak sehat, hingga berbagai kebiasaan lain yang dapat membuat seseorang kehilangan arah.

Ada satu hal yang menurut saya sering luput dari pembicaraan, bahkan cenderung dianggap tabu: PMO (Porn, Masturbation, Orgasm).

Pembahasan mengenai PMO sering kali tidak terbuka. Berbeda dengan narkoba, minuman keras, atau bahaya seks berisiko yang sudah banyak mendapatkan edukasi di masyarakat, pembahasan mengenai konsumsi pornografi dan kebiasaan seksual kompulsif masih sering dilakukan secara diam-diam dan sangat minim.

Padahal, akses terhadap pornografi saat ini sangat mudah. Seseorang hanya membutuhkan sebuah gadget dan koneksi internet untuk mengaksesnya. Tidak perlu keluar rumah, tidak perlu bertemu siapa pun, dan bahkan tidak membutuhkan biaya besar.

Kemudahan akses inilah yang menurut saya membuat masalahnya menjadi semakin serius bagi sebagian orang.

Bukan berarti setiap orang yang pernah melakukan PMO pasti akan mengalami masalah. Namun, ketika kebiasaan tersebut mulai sulit dikendalikan dan mengganggu kehidupan sehari-hari, kita perlu mulai bertanya kepada diri sendiri: apakah saya yang mengendalikan kebiasaan ini, atau justru kebiasaan ini yang mengendalikan saya?

Ketika PMO dilakukan secara berlebihan atau kompulsif, seseorang dapat merasa waktunya banyak terbuang. Konsentrasi belajar atau bekerja bisa terganggu, motivasi menurun, mudah bosan, dan aktivitas lain yang sebelumnya terasa menarik menjadi kurang menyenangkan.

Yang lebih berbahaya bukan hanya tindakan itu sendiri, tetapi ketika seseorang mulai menggunakannya sebagai pelarian setiap kali merasa bosan, stres, kesepian, atau menghadapi masalah.

Lama-kelamaan terbentuk sebuah siklus:

Bosan → mencari pornografi → PMO → merasa bersalah atau kehilangan waktu → kembali bosan atau stres → mengulanginya lagi.

Siklus tersebut dapat membuat seseorang semakin jauh dari hal-hal yang sebenarnya ingin ia capai.

Saya sendiri melihat bahwa hidup memiliki terlalu banyak hal yang jauh lebih berharga untuk dikejar. Ada pendidikan yang harus diselesaikan, keterampilan yang harus dipelajari, keluarga yang ingin dibanggakan, pekerjaan yang ingin didapatkan, tempat-tempat yang ingin dikunjungi, dan mimpi yang ingin diwujudkan.

Kita hanya memiliki waktu yang terbatas.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya “Apa yang saya dapatkan dari PMO?”, tetapi juga “Apa yang mungkin saya kehilangan karena kebiasaan ini?”

Mungkin kehilangan beberapa jam untuk scrolling dan mencari konten. Mungkin kehilangan konsentrasi untuk belajar. Mungkin kehilangan kesempatan untuk berolahraga, membaca buku, bertemu orang lain, atau mengerjakan sesuatu yang sebenarnya dapat membawa kita lebih dekat kepada cita-cita.

Kesenangan dari PMO mungkin hanya berlangsung sementara. Tetapi masa depan yang sedang kita bangun berlangsung jauh lebih lama.

Saya tidak menulis ini untuk menghakimi orang yang masih terjebak dalam kebiasaan tersebut. Saya justru menulisnya karena saya percaya seseorang masih bisa mengambil kembali kendali atas hidupnya.

Berhenti bukan berarti harus langsung menjadi manusia sempurna.

Mungkin cukup dimulai dari satu hari.

Kemudian satu minggu.

Kemudian satu bulan.

Jika gagal, bukan berarti semuanya berakhir. Evaluasi, bangkit, dan mulai lagi.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi sempurna. Hidup adalah tentang terus bergerak menuju versi diri yang lebih baik.

Kita punya pilihan setiap hari: mengejar kesenangan sesaat atau membangun kehidupan yang kita inginkan.

PMO VS MASA DEPAN.

Kesenangan sesaat mungkin memberikan kepuasan beberapa menit.

Tetapi cita-cita yang kita perjuangkan dapat menentukan bagaimana kita menjalani puluhan tahun kehidupan ke depan.

NO PMO. HEALTHY LIFE. PEACE OF MIND.