Antara Doa dan Semesta

saya Patrycia Lani, Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Sastra Indonesia.
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Patrycia Lanii tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Senja selalu punya cara untuk membuat manusia jujur pada dirinya sendiri. Di antara riuh dunia yang tak pernah berhenti dan sunyi semesta yang memeluk, kita belajar bahwa doa bukan hanya tentang meminta, tapi tentang pulang. Puisi ini kutulis untuk siapa pun yang sedang merasa lelah berpura-pura baik-baik saja.

Di Antara Doa dan Semesta
Di bawah langit yang merawat senja,
kusulam doa dengan air mata,
kutitipkan resah kepada Yang Kuasa.
Tuhan, dalam sunyi yang tak terucap kata,
aku datang dengan jiwa sederhana,
percaya tak ada luka yang sia-sia,
selama sabar jadi pelita dan iman tetap terjaga.
Ajari aku bahasa takdir-Mu,
bahwa tak semua hilang berarti akhir,
ada waktu yang Kau rajut, jawaban yang Kau selimut,
dan rencana indah di balik takut.
Jika langkahku kehilangan arah,
biar iman jadi kompas, syukur tetap tumbuh,
sebab aku hanya pengembara fana
yang pulang tanpa apa, kecuali doa dan jejak kebaikan.
Jangan biarkan dunia membutakan mata,
rumah paling tenang tetaplah hati
yang mengenal-Mu dan tak henti menyebut nama-Mu
di antara riuh dunia dan sunyi semesta.
Semoga setiap resah yang kau titipkan hari ini, menemukan jalannya untuk pulang.
