Gajah hingga Singa, Strategi Branding Parpol Lewat Simbol Hewan Jelang 2029

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Partai PSI dan Partai Hanura. Foto: Dok. Partai PSI dan Partai Hanura
zoom-in-whitePerbesar
Partai PSI dan Partai Hanura. Foto: Dok. Partai PSI dan Partai Hanura

Belakangan simbol hewan ramai digunakan sejumlah partai politik nonparlemen untuk memperkuat identitas mereka menjelang Pemilu 2029. Misalnya, PSI mengganti logo mawar dengan gajah, Hanura menggunakan singa, sementara Gerakan Rakyat — ormas baru yang tengah menunggu verifikasi Kementerian Hukum untuk menjadi parpol— mengusung harimau.

Di tengah tren tersebut, muncul pertanyaan: mengapa partai-partai ini memilih hewan sebagai wajah baru mereka?

Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, mengatakan penggunaan simbol hewan ataupun benda pada logo partai berkaitan dengan cara pemilih mengenali pilihan politiknya.

“Penggunaan logo partai dengan simbol ya apakah hewan ataupun tumbuhan ataupun benda lain itu untuk memudahkan pemilih ketika memilih di kertas suara sehingga mereka tidak perlu ribet membaca nama-nama caleg ketika nanti di pileg,” kata Agung.

Menurut Agung, simbol merupakan bentuk komunikasi yang lebih cepat ditangkap pemilih.

Logo Partai Gerakan Rakyat Foto: IG/@partaigerakanrakyat.idn

"Jadi dengan simbol ataupun logo ini bahasa simbolik ya, komunikasi non-verbal yang paling efektif bagi pemilih yang memang lebih nyaman disentuh afeksinya ketimbang kognisinya ketika berada dalam bilik suara sehingga mereka bisa segera menentukan pilihannya," katanya.

Agung berpandangan pemilihan hewan juga berkaitan dengan asosiasi sifat yang melekat pada masing-masing simbol.

“Karena kita tahu setiap hewan itu memberikan asosiasi sikap ataupun sifat baik. Gajah, misalnya, diasosiasikan dengan kebesaran dan kemampuan melindungi, sedangkan singa dan harimau dikaitkan dengan keberanian, ketegasan dan kewibawaan," katanya.

“Jadi asosiasi positif itu yang saya kira digunakan oleh partai-partai non-parlemen untuk memperkuat ya branding mereka secara institusional sehingga pemilih dengan mudah menangkap pesan yang dibawa oleh masing-masing partai non-parlemen tersebut,” kata Agung.

Menurutnya, strategi tersebut juga tidak terlepas dari keberhasilan partai-partai besar membangun identitas melalui simbol.

Logo PDIP terlihat saat Presiden ke-5 RI yang juga Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato di Sekolah Partai PDIP, dalam rangka menyambut HUT ke-51 PDI Perjuangan, Rabu (10/1/2024). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

PDIP menggunakan banteng bermoncong putih sejak perubahan nama dari PDI menjadi PDI Perjuangan pada 1999. Logo tersebut kemudian menjadi salah satu identitas paling kuat dalam politik Indonesia selama lebih dari 27 tahun.

Sementara itu, Gerindra yang berdiri pada 6 Februari 2008 sejak awal menggunakan kepala burung Garuda sebagai lambangnya, sehingga simbol tersebut telah melekat pada identitas Gerindra selama sekitar 18 tahun.

Logo Partai Gerindra Foto: IG/@gerindra

"Partai-partai besar ya asumsikan sekarang ini di survei kredibel ada Gerindra yang menggunakan lambang garuda yang identik dengan simbol negara ya simbol bangsa Indonesia besar semacam itu, berani ya. Kemudian juga PDIP dengan simbol banteng yang ya dulu di zaman Soekarno identik dengan sikap kerakyatan, kegotongroyongan, berhasil menjadi partai-partai yang mapan hari ini di pentas politik tanah air.”

“Itu pula yang saya kira menginspirasi mereka untuk ya mencontoh ya partai seperti Gerindra dengan garuda-nya atau PDIP dengan banteng-nya,” lanjut Agung.

Hal senada juga disampaikan Pengamat politik Adi Prayitno yang menilai simbol hewan punya daya ingat yang kuat di tengah masyarakat.

"Lebih mudah diingat dan lebih diidentifikasikan dengan kekuatan politik tertentu,” kata Adi.

Menurut dia, masyarakat Indonesia sudah akrab dengan berbagai simbol hewan.

“Secara umum, rakyat di negara kita ini lebih akrab dan lebih familiar dengan hewan. Garuda, banteng, gajah, macan, dan lainnya. Bahkan dalam banyak hal hewan di kita ini dianggap sebagai simbol kejayaan dan keperkasaan,” ujarnya.

Adi melihat penggunaan simbol tersebut sebagai bagian dari upaya membangun dan memperkuat branding politik. Namun, ia menegaskan bahwa simbol bukan satu-satunya penentu kekuatan partai.

"Meski secara prinsip kerja politik ke bawah lah yang menentukan segala-galanya, tapi politik kita penuh simbol," kata Adi.