Habiburokhman Khawatir Kritik Dino ke Prabowo Jadi Serangan Politik

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman memberikan keterangan pers terkait RUU Penyesuaian Pidana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Ketua Komisi III DPR Habiburokhman memberikan keterangan pers terkait RUU Penyesuaian Pidana di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/11/2025). Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTO

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Ketua Komisi III DPR Habiburokhman merespons kritik mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terhadap Presiden Prabowo Subianto terkait intensitas kunjungan kerja ke luar negeri.

Ia menilai kritik yang disampaikan perlu mempertimbangkan etika agar tidak berkembang menjadi olok-olok politik di ruang publik.

Habiburokhman mengatakan, mantan pejabat seharusnya memberikan ruang kepada pejabat saat ini untuk bekerja tanpa gangguan kritik yang dinilainya tidak tepat.

“Beliau itu kan walaupun cuma 3 bulan jadi Wamenlu, tetap kan mantan pejabat Kemenlu. Menurut saya, ada etika di kalangan orang yang pernah menjabat. Artinya memberikan kesempatan kepada orang yang saat ini menjabat untuk bekerja, menghormati ya, orang yang saat ini menjabat untuk menjalankan tugasnya dengan baik, tanpa ya membuat apa namanya, komen atau kritik yang tidak pas,” ungkap Habiburokhman di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (2/6).

Ia kemudian membandingkan praktik di sejumlah negara maju yang menurutnya menunjukkan sikap saling menghormati antara mantan pejabat dan pejabat aktif.

“Kita lihat misalnya di konteks yang lebih tinggi di negara-negara maju kayak George Bush itu nggak pernah mengkritik Obama secara terbuka, ya. Begitu juga mantan-mantan Presiden Amerika terhadap presiden Amerika yang saat ini menjabat,” tuturnya.

Ia menambahkan, sikap saling menghormati diperlukan agar pejabat yang sedang menjabat dapat bekerja secara optimal tanpa tekanan perbandingan publik yang dinilai berlebihan.

Habiburokhman juga mengaku akan bersikap sama ketika suatu saat tidak lagi menjabat, yakni tidak akan mengintervensi atau mengomentari berlebihan penerusnya di Komisi III DPR.

“Kayak saya juga akan berpikir kelak ya, saat tidak lagi sebagai Ketua Komisi III, saya nggak akan mengintervensi, nggak akan mengolok-olok ya, Ketua Komisi III yang saat itu menjabat. Karena kesempatan saya menunjukkan hal-hal terbaik yang saya miliki adalah saat ini, ketika saat tengah menjabat sebagai Ketua Komisi III,” ucapnya.

Ia menilai pola komunikasi seperti yang disampaikan Dino Patti Djalal kurang tepat karena dapat memancing perbandingan publik yang berpotensi merugikan semua pihak.

“Jadi model komunikasi seperti dipertontonkan oleh Pak Dino menurut saya kurang pas. Jangan memancing publik untuk membanding-bandingkan, kan susah kalau dibandingkan-bandingkan,” tutur Habiburokhman.

“Nanti dulu ditanya, zamannya Pak Dino sehebat apa sih? Kok sekarang menjadi orang yang sok paling kemlu gitu loh. Sok paling kemlu sendiri sedunia, gitu kan ya. Nanti publik akan bertanya seperti ini juga,” lanjutnya.

Ia menegaskan kembali dirinya memilih untuk mengkritik balik karena merasa hal tersebut merupakan bagian dari dinamika demokrasi.

“Nah, makanya sudah saatnya saya juga mengkritik balik. Ini kan negara demokrasi, dia bilang negara demokrasi dia mengkritik, ya saya mengkritik balik beliau,” kata dia.

Dino Pati Djalal. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

“Sejauh apa ya, pemahaman beliau soal etika ya, dalam konteks menyampaikan kritik seperti apa? Ini dapat dibedakan misalnya dengan teman-teman LSM mengkritik, ya silakan ya, tapi kalau seorang mantan Wamenlu 3 bulan ya kan ya, menyampaikan kritikan ya hendaknya lebih elegan, gitu,” sambungnya.

Habiburokhman menyebut, ia khawatir ada pihak yang akan menilai kritik Dino sebagai serangan dan olok-olok politik.

“Ya saya khawatir akan ada yang mendefinisikan itu lebih sebagai serangan politik membabi buta dan olok-olok politik, ya. Jadi seperti itu. Ya silakan saja nanti dia jawab seperti apa sebenarnya,” ungkapnya.

Ia juga menanggapi kemungkinan adanya ruang dialog dengan Dino Patti Djalal. Menurutnya, tidak ada perlakuan khusus yang perlu diberikan karena semua warga negara memiliki hak yang sama untuk menyampaikan kritik.

“Saya pikir nggak ada yang istimewanya juga Pak Dino ya. Semua orang sama, warga negara ya. Yang mau mengkritik silakan ya, apakah terbuka atau tertutup. Cuma kan Habiburokhman ini harus juga menyampaikan pendapatnya soal Pak Dino ini, ya. Nggak perlu ada treatment khusus terhadap beliau,” ucap Habiburokhman.

“Silakan saja dan bagaimana warga negara lainnya yang mengkritik juga kita persilakan,” pungkasnya.